forgiveness [2]

2 1 0
                                    

“aku tidak terlalu pandai membahagiakan, tapi bila itu tentang kamu. Aku selalu ingin kamu bahagia. Itu saja.”

                                ***

"Lo mau minggir atau gue tabrak?!" Teriak seorang siswi dari kaca mobil pada Ucup teman sekelasnya, yang menghalangi jalan mobilnya di depan gerbang sekolah.

"Sa-sabar dong.. rante sepedah gue copot nih..." Ucup memang gagap berbicara, ia memakai kacamata dengan rambut belah tengah di depan mobilnya. Dengan terburu buru ia membenarkan rantainya yang terlepas namun tidak juga kunjung selesai, hal ini membuat siswi itu sangat kesal.

"Lama amat sih?! sepedah butut lo itu pantesnya masuk museum tau gak?! Minggir ga lo? Minggir!!!" Ia mengklaksoni cowok itu dengan kesabaran di ambang batas.

"I-iya lewat tinggal lewat mak lampir! Udah beres gini." Ucup menaiki sepedahnya lalu kabur seperti orang dikejar setan, meninggalkan siswi itu dengan wajah yang sudah memerah dan amarahnya ingin meledak.

"Liat lo nanti." 

Siswi itu masuk ke dalam sekolah Ia berlari menuju kelasnya karna mendengar bel masuk telah berbunyi.

》》》

"Gue punya tebak tebakan." Ucap Jali yang tengah duduk diatas bangku. Kelas XII IPS 1 sedang jamkos pelajaran matematika karna bu Helda tidak masuk, ia sedang asam urat.

"Paan tuh?" Jawab teman sekelasnya serentak.

"Permen permen apa yang paling gede?"

"Permen milkita!"

"Salah."

"Kopiko?"

"No no."

"Yupi?"

"Tetot!"

"Permen kaki!"

"Salah."

"Permen jempol!" Ucap Arga asal.

"Ye jempol lo mana ada yang mau beli, badek."

"Dih belum aja lo gue jejelin. Ntar juga demen!"

"bodoamat Ga. Jawabannya adalah.. candi borobudur."

"Lah candi permen aja bukan. Tuh jidat lo kegetok paan?" Ucap Lala menunjuk jidat Jali dengan dagunya.

"Ya karna candi itu candy."

"Aaaa... bisa aja lo loyang ring keju!"

"Hm.. semua permen itu gue jual. Gope dapet tiga!" Lala mulai menawarkan jajanan yang ia jual. Ya.. hitung hitung menabung untuk masa depan. Katanya si gitu.

Terdengar suara langkah sepatu menuju arah pintu. Otomatis pandangan siswa mengarah pada satu titik dan menunggu kira kira siapa yang akan muncul nanti di ambang pintu. Berhubung kelas XII IPS 1 terletak di lantai dua dan paling ujung mentok tembok, hanya ada dua kemungkinan, entah itu utusan bu Helda dengan menyuruh guru piket untuk memberi tugas yang tentu saja tidak akan dikerjakan, atau apakah itu Bangsawan yang tidak lain kepala sekolah sekaligus ayah dari Arga yang memang gemar berkeliling sekolah seminggu sekali untuk melihat kinerja guru.

Pintu mulai sedikit terbuka. Kepanikan mulai menjalar dari ujung ubun ubun sampai menuju jempol kaki. Dan...

Prak!

"Anjing!" Arga melempar botol minum tupperware milik Lala ke arah Radit, hampir saja kena karna Radit segera menghindar.

Radit muncul di ambang pintu dengan senyum lebar bagai quda. Para siswa lega dan juga kesal pada Radit. Karna ulahnya asupan oksigen dikelas seketika mengurang.

Melihat botol Tupperware yang belum lunas itu menabrak tembok dengan kuat lalu terjatuh ke lantai membuat hati Lala seketika remuk.

"Arga!! Ini lecet!!"

Lala mengejar Arga keluar kelas, namun ia berhenti ketika Arga melewati kantor, Lala takut dimarahi oleh guru jika saat jam kbm ia malah diluar kelas.

Arga merasa tenggorokannya gersang, butuh sesuatu untuk diminum. Segelas teh manis dingin contohnya?

Arga melihat ke belakang, Lala sudah tidak mengikutinya lagi. Ia segera menuju ke kantin. Untuk membeli teh manis dingin. Kali ini ia sendirian, tidak bersama Radit dan Farel. Radit baru kembali ke kelas, ia baru saja mengurus absensinya di BK karna sering membolos dengan Arga dan Farel. Arga tidak pernah dipanggil ke BK, bangsawan memberitahu pada bu Nina guru BK untuk tidak mengurusi kenakalan Arga, itu menjadi urusan Bangsawan. Karna Arga hanya akan menurut pada ayahnya itu, bebal. Farel tidak masuk sekolah karna sedang diare.

"Bun, es teh manis satu ya." Arga memesan segelas es teh manis dikantin Bunda Lena. Ia duduk bersandar di kursi panjang sembari mengibaskan wajahnya dengan telapak tangan.

"Kamu teh abis lomba lari Ga? Ini sok atuh diminum dulu kalo begitu." Ucap perempuan berambut sebahu dengan tahi lalat di atas bibir dengan logat sundanya yang tidak lain adalah bunda Lena memberi segelas es teh itu pada Arga yang langsung diminum habis. Hanya tersisa es batunya saja.

"Udah hilang belum hausnya?"

"Udah bun, makasih."

"Kamu teh gak belajar?"

"Nggak bun, udah pinter Arga mah."

"His.. dasar kamu teh. Yaudah atuh bunda tinggal dulu ya lagi goreng cireng takutnya teh gosong. Kamu nyantai aja dulu."

"Oke bunda!"

Arga kembali bersandar dan mengibaskan telapak tangan kewajahnya lagi, rasanya lumayan adem... Di selah selah mengibas, Arga melihat seorang siswi yang kemarin ia lihat sedang mengobrol bersama Sofia di depan kelas. Ia sedang melamun tanpa berselera menyentuh sepiring siomay dihadapannya. Arga menghampiri siswi itu.

"Awas kesambet.." Tanpa izin Arga langsung duduk dihadapan siswi itu. Terlihat ia bahkan tidak berselera untuk mengobrol.

"Apasih."

"Somaynya gak dimakan? Kasian tuh bunda Lena udah capek buatnya. Ya gak bun?!" Teriak Arga pada Bunda Lena yang sedang membulak balik cirengnya agar matang merata.

Siswi itu berdiri, hendak pergi dari hadapan Arga namun tak sengaja tangannya menyenggol segelas teh hangat yang ia pesan tadi dan sukses membuat celana Arga basah.

"Aduh sorry, gue gak sengaja suer deh.. pasti panas ya? Maaf ya maaf banget.. sini gue bersihin." Siswi itu mengelap tumpahan dipaha Arga dan seketika tersadar dengan yang ia ucapkan barusan. Lalu ia berdiri salah tingkah.

"Muka Lo kalo panik, lucu ya."

"Terserah." Siswi itu meninggalkan Arga yang masih tersenyum memperhatikan punggung siswi itu yang makin lama makin mengecil dan hilang dari pandangan di ujung koridor.

                                ****

Ooolaa!!

Pendek beut ga nih?

Lanjut ga nih?

Tinggalkan jejak ya! Jangan tiba tiba menghilang tanpa jejak kaya dia xixi. Vomment lho ^^

-Audia inggrid
Pencinta cimory yang lagi mau tidur.




Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 03, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ForgivenessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang