Andai aku tahu jalan menujumu akan ku tempuh agar kita bisa bertemu.
Dia lahir dari sebuah kisah yang berdebu, lama tak pernah terbaca, nyaris tak ada di daftar pustaka, sang pena tua pun tak ingat dihalaman berapa dia menulis tentangnya, "Siapa dia ?" Dengan lirih dan penuh penyesalan, pena itu pergi tanpa mencoba untuk menghafal. Terlihat usang, cerita lama yang tak pernah tersentuh senja, tak pernah terdengar meronta meminta sang nyonya untuk dibaca, siapa gerangan kamu ? Nyonya melihat dia diujung sana, tertunduk malu saat ditanya, "Apa kabar ?" Dia masih terdiam, wajahnya mulai samar, bocah laki-laki itu terlihat gugup dan pemalu, tak berani mengambil langkah hanya berdiri di ujung sana dengan penglihatan yang seadanya, "Kemarilah, kau masih terlihat sama saja." Tak lama, nyonya mendekat dengan sedikit rasa takut ruangan itu cukup gelap dia harus memastikan tak berbuat kekonyolan, menyenggol rak buku dan menghacurkan sebuah perpustakaan kenangan, langkah kakinya yang hati-hati menghasilkan suara denting yang nyaring seperti tetesan air yang jatuh diruangan yang kosong dan hening, suara yang mengantarkan nyonya pada halaman pertama, "Seharusnya aku membacamu di halaman terakhirku.".
***
Senja yang berlayung membawa ku kepadamu berlayar mengikuti gerakan angin itu dengan lembut menggiring ku pada sebuah daratan yang dulu sempat ku pijaki bersama mu, meski tak sampai saat ini. Layung bercerita tentang manisnya senyummu, indahnya kerlingan matamu, ciuman mu adalah kado terindah, disini di tempat ini, di halaman pertama dimana aku belajar untuk menulis namamu, belajar mengeja
huruf demi huruf, belajar untuk tak menjadikan mu sebuah kenangan tapi ... mengenalmu sebagai teman yang tak akan pernah hilang dalam ingatan dan aku belajar untuk memanggilmu.
Ku sentuh rumput hijau di danau itu ku simpan perahuku dan mencoba menjamahi lebih jauh. Aku tak ingat bagaimana pastinya yang jelas kamu adalah teman kecilku tepatnya kau adalah pangeran ku, "Yah pangeran ku." Kau selalu membawaku berlari jauh dari rumah, membuat baju kotor lalu di depan Ibu kita harus mencari-cari alasan agar kita lolos dari ocehan, memohon agar esok tetap diijinkan untuk bermain dan yang lucu kamu selalu mengatakan "Aku menyukaimu." Bukan kah itu hal konyol yang dikatakan oleh anak kecil ? Kau ingat pangeran ? Saat itu usiamu baru tujuh.
Sampai dihari terakhir aku melihat mu. Tak ada yang berbeda, kau masih terlihat mempesona, begitu mengagumkan, dengan rambut pirangmu dan coklatnya bola matamu, masih sama kau yang aku suka. Aku tak menyangka, akan memiliki kisah seperti yang ku baca dalam novel romance atau yang sempat kulihat di TV, waktu itu aku adalah permaisuri mu dan kau adalah sang raja yang tampan dan gagah perkasa, teman-teman kita yang membuat permainan istana dan mereka memilih kita sebagai ratu dan rajanya, kau tahu ? Ini bagian yang ku suka, disaat kau membuatkan ku mahkota bunga setelah itu kau mencium bibirku di depan mereka, itu ciuman pertamaku, terimakasih pangeran kau memberi kisah layaknya putri raja sungguhan. Andai ... kini aku bisa memegang tangan mu, meyakinkan matamu dan menjawab pengakuan mu, sungguh aku mencintaimu.
Sampai akhirnya tiba, mimpi buruk ku menjadi nyata.
Di buku ini, aku masih melihat namamu dihalaman pertama, tapi hanya sampai disitu saja, sampai ku berhenti diakhir cerita, hasilnya tetap sama, aku kehilangan jejak mu.
***
Baju putih merah bukan lah seragam yang pertama bagiku, karena sebelumnya aku mempunyai seragam sekolah TK yang berwarna hijau, tapi sungguh, memakai seragam ini membuat ku bersemangat untuk memulai masa depan. Namaku Ghea, lengkapnya Putri Ghea Salsabila, saat itu hari pertama masuk Sekolah Dasar, semua temanku sangat antusias, ternyata tak hanya aku saja yang paham akan masa depan. Menduduki bangku terakhir bagiku tak masalah, karena bangku pertama diisi oleh mereka-mereka yang diantarkan oleh mamanya, sedangkan aku hanya bisa pasrah, toh di bangku terakhirpun aku masih bisa melihat guruku, mendengarkan nya bercerita tentang berbagai ilmu, teman sebangku ku saat itu mm... aku lupa maaf, lupakan saja, dia tak penting di cerita ini, malas mencari-cari lagi buku lama yang menuliskan tentang dia. Baiklah semoga kalian setuju dengan ku, terkadang sang pendongeng memiliki wewenang, siapa saja yang berhak dia ceritakan dengan detail. Semuanya berjalan dengan semestinya, meski sedikit ocehan dari Ibuku karena dapat tempat duduk di paling belakang, yah ... orang dewasa selalu berpikir jauh dan membayangkan hal yang rumit,
"Loh kok di bangku terakhir ? Bagaimana kamu bisa jadi juara kelas ? Tempat dudukmu saja gak jelas di mananya, apa kamu bisa mendengar suara gurumu ? Melihat papan tulis dengan pasti ? Apa kau bisa serius memerhatikan guru mu ? Jangan - jangan kamu selalu tertidur di kelas ? Haduh nak ... Ibu ingin kamu itu duduk di depan, memperhatikan guru dengan khusyuk, kamu tidur pun dia akan membangunkan mu, dan kau tak akan banyak bercanda...." Masih panjang, aku tak ingat persis apa yang dikatakan Ibuku 16 tahun yang lalu, apa orang dewasa serumit itu ? Aku harap kelak aku tak akan berpikir sulit seperti Ibuku, catat ya Tuhan.
***
Saat jam istirahat, suara bel itu bagaikan surga pertama setelah bel pulang, jam 09.00 adalah waktu yang ditunggu - tunggu oleh semua siswa, dan kebanyakan dari mereka memilih untuk menghabiskan uang sakunya, termasuk aku. Saat itu, belum ada keinginanku untuk membaca, yang aku tahu dari istirahat adalah j-a-j-a-n, itu sangat lah menyenangkan, selain jajan, aku dan teman sekelasku tak jarang bermain tali, petak umpet, kejar-kejaran, ah pokonya istirahat terkadang menguras tenaga ku, tempat duduk ku masih paling belakang jadi kalau jam-jam pulang aku sering kepergok tidur, tapi Bu guru tak pernah marah, membangunkan ku dengan lembut, menyuruhku cuci muka lalu kembali ke kelas dan belajar.
Hingga tiba, istirahat saat itu benar - benar berbeda. Aku kembali menemukan buku lama ku, lanjutan dari buku ku kemarin yang sempat ku ceritakan, setelah aku kehilangan jejaknya, kini aku melihatnya ada di dalam buku ini. Lagi. Wajahnya sangat mirip dengan mu, entah itu kau si pangeran ku entah itu siapa, aku tak tahu, aku tak berani untuk kembali menyapamu, aku takut kau bukan dia, dan aku takut aku hanya mempermalukan diriku saja. Setelah kejadian satu tahun lalu, dimana aku pindah rumah dan kita tak lagi bertemu, kamu ... aku tak lagi mendengar kabar tentang mu, tak lagi mengenalmu, dan itu adalah awal dari sebuah pengharapanku.
Kini, jam istirahat menjadi hal yang selalu membuat ku sibuk, aku tak lagi mengikuti permainan lompat tali atau kejar - kejaran, aku selalu sibuk mencari tahu siapa kamu ? Jika di ingat usia ku yang baru kelas satu SD, rasanya lucu, aku melakukan hal yang dilakukan orang dewasa biasanya, mungkin nanti aku akan dewasa sebelum waktunya, tapi seperti yang ku bilang, aku tak ingin tumbuh menjadi orang dewasa yang berpikir rumit dan sulit. Menghabiskan waktu istirahatku dengan mengikutimu, entah kau merasa atau tidak, aku selalu memperhatikan mu dari atas, karena waktu itu kelasku di lantai dua, dan kelasmu di sebrang kelasku, di bawah dekat lapang upacara, itu adalah hasil penelitian ku setelah mengikutimu minggu lalu, kau tahu ? Aku melakukan hal konyol itu sampai aku duduk di bangku kelas 2. Sempat menanyakan kabar mu pada Ibuku, tapi ibu selalu bilang "Tidak tahu, mungkin dia kini sudah kelas tiga SD." Jawaban Ibu selaras dengan hasil investigasiku, dia kini duduk di kelas 3 SD, mungkinkah itu kamu ?
***
Satu tahun berlalu, aku naik tingkat, dan aku pikir aku cukup berani untuk menyapamu, bertanya namamu, atau mungkin bertanya "Apa kau mengenaliku ?" Rasanya mustahil jika kau lupa padaku, si mungil yang memiliki dua lesung pipi yang pernah kau cium bibirnya di depan teman-teman mu, oh tuhan, di umurku yang baru tujuh tahun aku bisa se-GR ini ? Anak macam apa aku iki nde ...
Aku mencari mu, tapi entah apa yang terjadi, aku tak berhasil menemukanmu, kemana ? Apa kau tak mau bertemu dengan ku ? Apa kau tak ingin lagi kita berteman ? Oh ayolah, bicara padaku, ya tuhan pertemukan aku dengannya kali ini, aku ingin tahu siapa namanya, ingat kah dia padaku ? Atau mungkin kita bisa berteman lagi ?Ayolah ku mohon, perlihatkan kamu yang biasanya ku lihat di jam - jam istirahat. Ritual itu seminggu kulakukan, sampai akhinya aku mendengar kabar yang mengerikan, lebih dari mimpi burukku waktu lalu, jika dulu aku pindah rumah, mungkin dilain waktu kita bisa bertemu, saat kamu dan aku dewasa kita bisa meneruskan kisah lalu menjadi sebuah kisah di masa depan yang indah, tapi mustahil dan sudah pasti itu tak mungkin lagi untuk kita bisa kembali bertemu, kalian tahu apa itu ? "Nak ... Angga teman kecilmu meninggal dunia, dia terkena kanker, matanya menjadi buta tak bisa melihat apa apa ...."
Apa itu alasan mu tak bisa menemuiku ? Apa itu alasan ku tak bisa menemukan mu ? Angga ... apa benar yang selama ini ku lihat adalah kamu ? Yang benar saja, bukan kah waktu itu kau masih bisa melihatku ? Membuat kan mahkota bunga untuk ku ? Berkata kau menyukaiku ? Bukan kah baru kemarin ku melihatmu bermain di jam istirahat ? Tak mungkin secepat itu, kita masih punya pekerjaan yang belum sempat kita selesaikan, yaitu kata perpisahan.
Pangeran,
Cerita ini adalah cerita yang sangat luar biasa, aku harus menuliskan nya dengan baik, bercerita dengan tutur kata yang pantas, agar orang tahu, betapa indahnya masa kecilku memiliki teman sepertimu, pangeran setampan kamu, seromantis dirimu, entah seperti apa kini, jika semua itu masih bisa kita selesaikan, apa kau akan mencintaiku setelah 16 tahun kita tak bertemu ? Angga ... Aku mencarimu ... setelah kepergian ku, entah kau juga mencariku atau tidak disana, yang pasti saat ini aku sangat merindukanmu, andai aku tahu jalan menujumu, akan ku tuju agar kita bisa bertemu. Angga ... apa kini kau melihatku di alam sana ? Datanglah sekali lagi pada mimpi ku, bertamulah pada tidurku, milikilah aku sebisa mu.
Menemukan mu dalam daftar pustaka ku, menyusuri buku-buku usang yang mencatat namamu, itu tidak mudah, mengingat usia ku dulu, tak banyak yang aku tahu, selain detik-detik terakhir aku melihatmu. Begitu istimewanya kisah kasihku di masa putih merah, jika mereka menemukan pangerannya di masa putih biru atau putih abu, aku berhasil menemukan itu di umurku yang baru tujuh, aku menumpukan senja ku di tumpukan buku-buku yang berdebu dan aku menemukanmu jelasnya semua cerita mu, ah sudah ! Aku akhiri saja.
***
Tak sempat menggapai tangannya, sang pena, membawanya kembali pada buku usang yang sempat ku baca, mungkin pena itu kini berhasil mengingatnya, nyonya kecewa, dia tak bisa memeluk pangeran nya dengan pasti, dalam ruangan kenangan nyonya sendiri, berharap dia kan kembali dalam mimpi.
Untuk mu pangeran kecilku,
Dunia ku menjadi bagian dari dunia mu, namun tanpa ku bisa meminta satu masa dari duniamu, karena apa yang kau lihat bukan lah bagian dari apa yang ku lihat, aku selalu melihat diriku, dalam sebuah meja yang kosong, sedang kan kamu, menikmati ku dari sisi gelapmu, m elakukan apapun tanpa aku tahu, berkata apa saja tanpa aku dengar, dan duduk dalam sebuah meja yang ramai, apakah kau disana atau tidak, entah kau ingat atau lupa, entah aku benar atau salah, entah kau ada atau tidak.
****
KAMU SEDANG MEMBACA
SEKEPING SENJA
Short StoryUntuk kali ini, aku tak ingin malam itu datang, cukup hari ini hanya sampai senja saja, aku tak ingin menyaksikan sebuah akhir, aku tak ingin ada di sana dengan sebuah sendu, aku tak mau melihatmu menghilang, malam, kumohon aku sedang tak berselera...
