The psychopath of love

34 0 0
                                    


Kilatan camera memburu setiap ruangan, tanah, dan tempat. Sirine polisi dan suara berbagai dugaan berdengung seperti lalat-lalat yang sedang bernyanyi. Cairan kental itu masih di sana makin merembes saat jasad perempuan berambut panjang diangkat. Matanya seperti meloncat keluar dengan sebelah tubuh sampai bagian pinggang. Betis dan kaki masih dalam pencarian. Itu yang kemudian menjadi penilaian Andra, lelaki berjaket tebal yang sejak tadi hanya santai melihatnya.

"Saya tidak tahu, saya memang di sini. Tapi ini karena dekat rumah saya. Maaf saya tidak tahu, jangan tanya lagi"

Jawaban gadis berambut pirang menyita perhatian Andra, lelaki itu bahkan sudah memilih mendekat dan menggandeng lengan gadis itu. Membawanya pergi di balik serangan para wartawan dan orang-orang berkerumun. Ia melepasnya setelah sedikit jauh dan duduk di bawah pohon rindang. Ada kursi memanjang di sana.

"Mereka masih mencari"

Gadis itu langsung bercicit pelan setelah beberapa saat diam, bibirnya bahkan setengah mengulum senyum seolah tak terjadi apa-apa. Sudah dua bulan ini kejadian itu beruntun terjadi, tapi ia tenang-tenang saja.  Andra hanya menghela napas, ia juga tak terlalu peduli kejadian tadi, yang jadi pusat perhatiannya bahkan tubuh di sampingnya .

"Kau suka tempat ini, Cici?"

Andra coba mengalihkan pembicaraan. Cici mematuk-matuk kepala dengan jari, ia sudah mengeluarkan buku kecil dari tas. Mendekapnya erat seperti biasa. Tiap hari Andra selau melihat buku yang sama, Cici sepertinya tertutup dan hanya curhat pada buku itu, tapi anehnya gadis itu selalu ceria. Entah seperti apa sebenarnya dia, Andra sudah mengenalnya tiga tahun lalu, dan selama itu persahabatan mereka makin erat, seolah siap menjeratnya dengan keinginan yang sama, benar-benar bisa memiliki tubuh mungil itu seutuhnya. Ia suka Cici!

"Entah, aku suka atau tidak. Aku biasanya akan menulis di sana"

Cici menunjuk tempat gelap yang kini berkelap-kelip lampu meneranginya. Suara-suara mereka masih sama. Seperti menduga-duga siapa pelaku. Beberapa detektif bahkan terlihat mencari jejak-jejak pelaku.

"Tapi selalu ada kejadian aneh, aku tak bisa tenang di sana," lanjutnya.

"Oh ya? sekalipun dengan diary?"

Andra memancingnya dengan bibir tertarik ke samping, menahan senyum tiap kali akhrinya Cici mematuk-matuk kepalanya lagi dengan jari. Kapan Cici langsung menjawab tanpa berpikir?

"Hmmmm, mungkin ia. Mungkin tidak"

"Loh, kenapa?"

"Hmmm ... entahlah"

"Ah " Andra pura-pura menghela napas, tapi akhirnya tak bisa juga menahan tawa. Ia mematuk-matuk kepalanya lagi dengan jarinya.

"Kenapa kau tertawa?"

Andra tidak menanggapi dan hanya mencubit pipinya. Pipi itu sudah mengembung dengan bola mata membulat. Imut dan seperti bayi kecil,  hmmmm, gemuruh dada Andra seperti tak sabar lagi ingin menunjukkan keinginannya pada Cici.

"Sakit tau"

Ia mengusap pipinya yang sudah memerah. Tapi itu justru membuat Andra makin tak tahan, dicubit berkali-kali sampai ia akhirnya meringis dan berdiri.

"Sakitttt, kuadukan kau pada diary"

"Ha?"

Orang biasa mengadu sama tuhan, keluarga, dan superhero jagoan mereka, tapi dia ..?

"Hahaha"

"Jangan tertawa, kau akan tahu akibatnya!"

Cici sudah terlihat santai tapi nadanya sedikit lebih tekanan, tangannya mengelus diary. Tanpa berkata apa-apa lagi ia lantas melangkah dan pergi. Jangan panggil aku. Stop! Tegasnya sebelum benar-benar pergi, tapi justru Andra membalasnya dengan kekehan panjang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 17, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cinta di Kaki-kaki PalestinaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang