"Han, apa itu dimejamu?"
Telunjuk Shua bergerak menuju tulisan abstrak yang berada di meja Jeonghan pagi ini.
"Kemarin meja kita bersih. Apa sih ini? 'Jangan sok cantik', 'Muka seperti kuman jangan harap bisa bersama dia', 'Pergi sana kau pelac*r'. Oh sialan!"
Shua mengumpat pelan. Kelas sudah agak ramai pagi ini. Dia tidak mau mendapat perhatian berlebih jika suara kerasnya sampai terdengar.
Jeonghan menelengkan kepalanya membaca semua coretan tak berguna itu.
Dia sudah menduga akan begini jadinya.
"Biarkan saja, nanti kita pinjam alkohol dari uks untuk menghapus tinta ini. Sekarang taruh tasmu. Aku mau ngomong" Pinta Jeonghan pada Joshua yang masih sibuk memutar kepalanya mencari biang keladi coretan itu.
"Kamu itu terlalu cuek atau pura-pura cuek sih, Han?"
"Kamu juga jangan bodoh, Shua-ya. Kita jelas tahu kalau pelakunya gak ada di kelas ini. Kita tahu orangnya kan"
Joshua menghentikan edaran matanya yang sedari tadi bekerja. Menghela nafas pendek, ia kembali berujar.
"Sudah bilang pada Mingyu?"
Jeonghan yang sekarang mulai membaca novel detektifnya hanya menggeleng pelan.
Joshua memutar matanya malas. Dia hanya bisa berdoa agar hati sahabatnya itu bisa terbuka dan matanya juga bisa melihat, bahwa segala tindakan bullying yang diterimanya hampir melewati batas.
Seminggu lalu lem kertas menempel di celana Jeonghan ketika ia duduk di jam pelajaran terakhir, yang menyebabkan Shua harus meminjamkan jaketnya untuk dilingkarkan ke pinggang Jeonghan.
Empat hari lalu Jeonghan harus merelakan dirinya dihukum berdiri di depan kelas karena ada yang mencuri buku pr-nya.
Kemarin malam Jeonghan juga cerita kalau ada yang menerornya lewat telepon rumah.
Hanya ada suara mendesis panjang yang berasal dari mulut seseorang yang terdengar saat Jeonghan mengangkat telepon. Itu berulang tiga kali.
Dan hari ini, coretan dengan spidol permanen mampir ke meja belajar Jeonghan di sekolah.
Entah apalagi yang akan Jeonghan terima semenjak seluruh sekolah tahu bahwa ia dan Mingyu berpacaran.
Shua benar-benar enggan memikirkannya.
¤¤¤¤¤
"Lihat tuh. Gaya kampungan begitu bisa dekat sama Mingyu. Pasti Mingyu diancam kan ya, biar bisa dekat sama dia"
"Hah, kuman macam dia sih harusnya jauh-jauh dari Mingyu"
"Gak mungkin dia sadar diri. Dia kan muka badak"
Lagi. Jeonghan harus mendengar lagi suara-suara sumbang yang mampir ke telinganya setiap ia keluar kelas.
Kali ini dia sendirian. Shua mampir ke ruang guru untuk menanyakan soal pelajaran pada Changmin-saem.
Langkah Jeonghan mantap terarah ke kantin. Mengacuhkan segerombolan namja manis yang memandang sinis ke arahnya.
Tiba-tiba langkah Jeonghan terhenti. Dirasanya pergelangan tangannya diremas pelan oleh seseorang dan ia tahu jelas siapa orangnya.
"Pergi denganku ya, Kak. Aku yang bayar" Suara bas itu benar-benar sempurna siang ini.
"Aku kemarin malam meneleponmu, tapi kok gak ada yang angkat. Kalian semua pergi?" Tanya Mingyu pada Jeonghan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bloom Inside You -GyuHan "SEVENTEEN"
FanfictionSpesial untuk para pecinta GyuHan. Kumpulan oneShot Mingyu x Jeonghan 'Seventeen'. Angst, comedy, friendship, bromance, sweet, sad, smut, fluff and many more.