Teruntuk kamu seseorang yang hadir beberapa bulan terakhir.
Aku tidak tahu ingin mulai dari mana.
Aku bukan gadis yang pandai berkata.
Menyapa saja aku tak bisa.
Dengan pesan ini, aku mau kamu tahu.
Aku pernah bahagia mengenalmu.
Aku pernah sangat memuji semesta karna mempertemukan kita.
Aku pernah memohon pada waktu untuk menunda perpisahan.
Dan aku pernah teramat bangga mengenalkanmu pada dunia.
Waktu berlalu begitu cepat, ya.
Sekarang segalanya sudah sangat jauh berbeda.
Sudah tak ada ruang untuk kita.
Yang ada hanya rentang yang semakin membentang.
Kamu telah menemukan dia.
Gadis lain yang lebih bisa mengungkapkan isi hatinya.
Gadis lain yang lebih peduli.
Gadis lain yang tidak seperti gadis sombong dan egois ini.
Gadis yang bisa membuatmu bahagia.
Gadis yang kamu jadikan tempat untuk pulang.
Gadis yang kamu peluk ketika kamu meraih juara.
Gadis yang kamu jadikan tempatmu bersandar ketika gagal.
Gadis yang pastinya bukan aku.
Bukan gadis yang hanya pandai berjanji tanpa bukti.
Keinginanku untuk menjadi gadis itu pupus sudah.
Aku sakit. Aku akui.
Tapi aku sadar, semuanya salahku.
Salah gadis yang tidak pernah mau keluar dari zona nyamannya.
Selamat menjalani harimu dengannya!
Semoga dia bisa membahagiakanmu, ya.
Dan semoga aku menemukan seseorang setelah kamu secepatnya.
Aku berhenti bercerita pada dunia tentang kamu.
Aku berhenti menulis tentang kamu.
Terima kasih sudah pernah menjadi objek menyenangkan untuk aksaraku.
Aku pamit.
Harapku, semoga suatu saat nanti kamu menemukan catatan ini. Atau tidak, semoga suatu saat nanti akan ada yang menyampaikan kepadamu perihal rasaku.
In the end, the ending will not always as our expected.
God's always give a beautiful ending to us.
Be grateful<3
11:18
20 Oktober 2018
Akhir cerita kita yang tak pernah dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rasa
PoesíaPerihal kamu dan rasaku. Setelah titik pada akhir tulisan ini, aku katakan semua telah usai. Semesta, aku titip dia. Jaga dia semesta. Buat ia bahagia. Aku pamit. copyright : whyndinda, 2018
