Selamat malem minggu guys,
dedikasi buat yang malem minggunya di rumah, kita rameannya di sini aja.
[*]
Sampai pada gedung IIA, Mira memarkir motor yang selalu ia gunakan kemanapun ia pergi, sesaat sebelum ia memasukkan mobil yang telah ia sewa pada parkiran rumah yang tak dapat dilihat siapapun, ia memperhatikan mobil patroli kepolisian yang kini tampak sedang meghidupkan sirine. Lebih dari dua mobil membawa tahanan yang terlihat dengan wajah yang tampak babak belur.
"Mau kemana?" Tanya Mira ke arah Onci yang balik memperhatikan Mira dengan baju yang terlihat kotor dan terlihat percikan tanah dibeberapa bagian
"habis dari mana mbak Mir, kok kucel banget?"
"Oh yah, tadi aku jatoh di jalan, kebetulan ada lubang dan genangan air, ini udah sedikit kering.."
"Mba Mira, nggak kenapa-napa kan?" Tanya Onci yang menatap Mira dengan penuh kecurigaan, ia melihat sisi tas Mira yang terbuka, melirik secara perlahan, ada bungkusan berwarna merah darah terlihat menggumpal.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja" Tampak seperti menutupi sesuatu, Mira melangkah melaju memasuki gedung IIA mencari salah satu rekan yang paling ia percaya.
"Miraaa..!" Gina berteriak menatap Mira yang kini berusaha menuju ruang Detention Room..
"Kamu mau kemana?"
"Ke ruangan Detention Room., oh iya Gin, ada sesuatu yang mau gue bilang sama lu.."
"Ke Detention Room ada apa?"
"Nggak, aku harus mengecek dan mewaspadai orang-orang yang dapat membahayakan kita". Cetus Mira dengan mata yang tampak memerah
"Seseorang yang telah terkurung pada jeruji besi nggak akan bisa membahayakan kita". Jawab Gina mencoba untuk meyakinkan Mira yang kini terlihat dengan wajah yang menunjukkan kebingungan, rasa tertekan dan depresi, tak mampu ia kendalikan dengan begitu baik, kadang kala penyesalan memang selalu datang terlambat, ia membayangkan jika institusi kepolisian mengetahui tindakan pembunuhan yang telah ia lakukan, ia berharap pengadilan internasional dapat memberikan ia dispensasi keringanan sanksi selama proses menjalankan tugas.
"Kalian mau kemana?"
"Kami harus membawa Arsyil untuk menemukan pemakaman jenazah April, kamu harus ikut Mir, kita harus secepatnya melakukan identifikasi langsung di sana.."
"Of course...". Bersama menggiringi langkah, Gina memilih mengikuti Mira dengan menggunakan Motor, sementara Onci memilih untuk tetap tinggal.
"Onci kamu nggak ikut?"
Onci menggeleng dengan tubuh yang masih tampak lemah, memperhatikan Mira yang kini berada tepat di hadapan Onci, pada motor besarnya ia membuka helm seraya menatap Onci di kedalaman mata, mencoba menyelami perasaan yang saat ini berkecamuk, Mira mengangguk memperhatikan Onci dalam keterpakuan.
"Mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal On, i'm promise.." Janji Mira sejalan pada janji yang ia dengar dari apa yang pernah Gina katakan di hadapannya. Onci melirik Mira, mengangguk seraya tersenyum getir. Ia berharap, apapun itu, April harus segara ditemukan, dalam keadaan selamat, ada sesuatu yang membuat ia tak mau pergi mengikuti rombongan inspeksi, sebab dirinya yang masih yakin, jika April masih hidup.
***
Mencoba menggeser ikatan dari kaki dan tangan yang terikat pada kursi duduk, Mrs Alisya berusaha untuk melepaskan tangan demi meraih Chip yang berada pada kerah baju kanan bagian atas, tak ada sesuatu yang dapat membuat ia bisa terdeteksi, selain menekan tombol maps berbentuk kancing, handphone dan seluruh barang bawaannya telah dihancurkan oleh Mira sebagai modus penghilangan jejak, ia yang terus meronta seraya membayangkan Yansen yang kini berada di tangan Mira, dirinya yang kembali membayangkan saat mayat pria itu dibawa hingga hilang dari pandangan, dengan isakan tangis ia merasakan ada rantai yang melilit pada tangan yang terpasung langsung pada pengait kursi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Deepest Memoriest
ActionSampai dengan hari ini, unttk kalian yg aktif dalam komen, krisan, playing buat nebakin clue, misteri dll dalam perjalanan story ini, so thankyou so much..
