Lara mau nggak mau, suka nggak suka, nolak nggak nolak ternyata menurut patuh pada seorang Gavin Wijaya, manajer di kantornya. Kini perempuan 25 tahun itu duduk di sebelah kemudi yang tak lain dikemudikan oleh bos nya itu.
Jalan terjalnya kembali diuji setelah terperangkap di kemacetan Jakarta. Krik krik...bosan rasanya hanya mengunci mulutnya sedari tadi. Lara memang tidak terlalu suka suasana canggung seperti ini.
"Pak, boleh putar musik?" pinta Lara sopan.
Gavin menoleh, dengan sigap tangannya menekan layar led dan memilih lagu favoritnya.
David Cook - Always Be My Baby
Tiba-tiba Lara nyeletuk tajam, "Bapak baru putus? belum bisa move on?"
"Hah?"
Memang Lara mulutnya nggak bisa dikontrol kadang suka lepas kendali kayak rem blong. Tapi biasanya pertanyaan dia itu bener. Kan ngeriiii...
"Nggak usah dijawab juga nggak apa-apa Pak, saya cuma kepo, tapi belum akut."
Gavin menggeleng pelan, sepertinya karyawannya ini memang sedang konslet.
Tak lama, mobil kembali berhenti terhadang lampu lalu lintas yang kembali merah. Lara semakin kesal, karena semakin lama ia dijalan bersama bos introvertnya itu.
"Kamu punya lagu favorit?" celetuk Gavin.
Kini gantian Lara yang tercengang. Gimana nggak, ini adalah pertanyaan pertama yang Gavin lontarkan sejak setengah jam yang lalu.
"Punya Pak, judulnya Marry Your Daughter. Yang nyanyi Brian McKnight. Saya mau calon imam saya nanti nyanyiin lagu ini didepan Ayah." Lara mesem-mesem berimajinasi.
"Terus? Udah punya calon imamnya?"
Lara melirik tajam bosnya itu. "Bapak nyindir saya ya? Saya kan jomblo Pak, belum punya calon imam."
Gavin terkekeh geli, "mana saya tau kamu jomblo. Kamu nggak bilang sama saya."
"Bapak tadi ketawa? Sumpah Pak, baru kali ini saya ngeliat Bapak ketawa. Lucu Pak, matanya ilang." Lara cengengesan.
Kini balik Gavin yang melirik sinis, "Kamu jangan kira udah diluar jam kerja bisa nistain saya ya. Ingat, saya masih bos kamu, Lara!"
Lara kini ciut, membungkam mulut jahilnya dengan kedua tangannya.
Mobil sport hitam itu kini berhenti tepat di depan kontrakan Lara. Tanpa basa-basi, Lara turun dari mobil Gavin dan mengucapkan terima kasih.
"Lara..."panggil Gavin
Lara berbalik dan kembali mendekati mobil." Ya Pak."
"Besok pake deodorant atau cologne ya."
"Hah? Memang kenapa Pak?" Lara bingung.
"Masa iya saya jelasin sih, nanti kamu malu. Kamu pikir aja di kontrakan malam ini." Gavin pun melajukan kendaraannya meninggalkan tanya di kepala Lara.
Di kontrakannya Lara masih berpikir keras maksud perkataan Gavin tadi. Mungkin memang Lara sedang konslet dan oon yang kelewatan, sampai-sampai ia mencari tau jawabannya lewat Google.
"WHAT!!!! GAVIN SIALAN!! ALBINO BATU!! Gue dikata bau badan, sialan!!! Kalau bukan bos udah gue cincang-cincang itu albino!! Arghhh"
***
Lara sudah sungut pagi-pagi, berpangku tangan di meja kerjanya. Sungguh terlalu, moodnya hancur sampai pagi ini karena bos lucknut di kantornya.
"Oy, Ra. Diem diem bae..ngopi ngapa ngopi." Denis menghentak meja Lara.

KAMU SEDANG MEMBACA
Suit and Blouse
Romance'Lara' , meninggalkan semua kenangannya di Yogyakarta dan move on hingga berani hijrah ke Jakarta. Bekerja di perusahaan yang ia inginkan, tapi sama sekali tidak pernah menginginkan atasan dingin nan kejam bernama 'Gavin Wijaya'. Hari demi hari ia l...