'3'

211 38 8
                                    

Kadang untuk sekedar sadar akan perasaan sendiri butuh waktu yang tidak sebentar, atau mungkin kamu yang tidak peka. Tidak bisa dipaksakan, tidak bisa dibuat namun bisa kamu rasakan.

                             🌼🌼🌼

"Pak, ini laporannya...permisi." tangan kecil lara menaruh tumpukan kertas diatas meja Gavin.

Gavin hanya memandanginya sendu. Kali ini tidak datar seperti biasanya. Ingin rasanya memanggil nama karyawannya itu hanya untuk berbalik dan melihat wajahnya lagi. Tapi, Gavin mengurungkannya.

Lara kembali ke meja kerjanya, dan melanjutkan pekerjaannya.

Bukan...bukan bekerja. Ia hanya memainkan mouse komputernya tanpa tau file apa yang harus ia buka. Pikirannya melalang jauh disana.

"Ra...makan siang yuk!" Tegur Denis memukul pelan pundaknya.

"Hmm..ha?" Lara baru tersadar dari lamunannya.

Denis hanya bisa menggeleng. "Ra, lo sakit ya? tingkah lo aneh deh dari tadi pagi! Ada apaan sih? Lo kenapa ra?" Denis memegang kedua pundak Lara.

Lara masih memandang Denis bingung. "Gue gapapa kok, serius gue Lara yang kayak biasanya. Kak Denis makan duluan aja ya, gue belum laper. Mmm...badan gue agak capek aja mau keluar-keluar."

"Bener ya lo gapapa Ra," sahut Sisy dan Bella yang sudah bersiap keluar untuk makan siang bersama Denis.

"I'm, ok!" Lara membuat tanda ok di jarinya.

Ruangannya sudah sepi karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Lara hanya tertunduk lesu di mejanya. Hanya satu kalimat, tapi dapat membuatnya uring-uringan semalaman hingga sekarang. Lara memang lemah untuk urusan perasaan. Fiuhhh.

Pintu berwarna hitam itu terbuka dan memperlihatkan laki-laki yang tak lain adalah bos Lara, Gavin. Gavin dan Lara saling bertemu pandang. Tapi, Lara tidak sanggup memandangnya lama, dan membuang tatapannya kebawah seakan sibuk akan sesuatu.

Gavin yang sudah berjalan tiga langkah kembali berbalik mengambil langkah lain ke arah meja kerja Lara.

"Mmm..Ra, kenapa gak makan siang?" Tanya Gavin lembut.

Lara salting, gimana enggak!! Bos dinginnya itu bertanya selembut itu padanya. Hingga jantungnya berdetak berantakan.

"Be..be..belum laper Pak. Bapak mau saya bantu beli makan siang? Bapak mau makan apa Pak? Saya keluar sekarang." Cerocos Lara dengan kegugupannya.

"Yang saya tanya kamu, kenapa malah saya yang ditawari makan. Kalau sama-sama belum makan yaudah kita makan siang berdua!" Sahut Gavin tegas namun masih sedikit lembut.

Lara melongo mendengar ucapan Gavin. "Haha...Pak Gavin, udahan ya bercandanya. Dari semalam saya udah dibercandain terus sama Bapak. Bapak emang suka banget ya bercandain saya."

"Memangnya kamu lihat saya lagi bercanda sekarang?" Timpal Gavin dingin.

Lara menelan ludahnya.

"Kenapa diem? Kamu mau nolak ajakan makan siang dari saya? Berani?" Gavin menantang.

Lara kembali menelan ludahnya untuk kedua kali. Bibirnya gemetar untuk sekedar menjawab

"Eng..eng..gak kok p..pak. Saya mau." Lara berdiri lemas.

Gavin hanya menyeringai melihat tingkahnya.

"Lucu"

Bisiknya pelan.

🍷 Restoran Amor 🍷

Makanan sudah tersaji dihadapan mereka. Gavin memulai dengan mengambil pisau dan garpu yang ada di sebelah kanan dan kiri piring hidangannya.

Lara masih bingung, mengapa bosnya ini mengajaknya makan siang bersama. Apa benar bos dinginnya ini jatuh hati pada makhluk polos seperti dirinya.

"Kenapa gak makan? Gak tau cara makannya gimana? Gak biasa makan steak mahal?" Tanya Gavin angkuh.

Lara menghela nafas, tentu saja apa yang bisa diharapkan dari Gavin Wijaya si cowok dingin nan angkuh. Yang hanya ber lembut hati beberapa menit yang lalu.

"Iya Pak, ini saya lagi merhatiin cara makan bapak, abis itu saya praktekin." Lara tersenyum kecut.

Puas lo Gavin!!!! Dasar es batu!! Lara bergumam kesal dalam hati.

Gavin kembali menyeringai, akhir-akhir ini hidupnya tidak terlalu datar sejak ada Lara yang selalu membuat Gavin ingin menggoda gadis itu. Seperti memiliki mainan baru pikirnya.

"By the way, kamu kenapa dari tadi pagi selalu menghindari saya? Takut saya suruh- suruh? Apa kamu takut suka sama saya?" Goda Gavin.

Lara tersedak mendengar pertanyaan Gavin. Gelas berisi air didepannya ludes setelah ia teguk untuk meredakannya.

"Saya gak hindarin bapak kok, siapa bilang saya menghindari bapak!!" Sahut Lara tegas.

"Santai aja Ra, enggak usah sampai tersedak gitu dong dengan pertanyaan saya. Saya kan cuma nanya, mau itu benar apa enggak juga saya enggak perduli." Gavin cuek dan kembali mengunyah makanannya.

Gavin masih terus menggoda Lara, karena ia tampak menggemaskan ketika panik dan tentu saja Gavin menyukainya. Entah itu hanya sebatas menggodanya atau perasaan yang lebih dari itu.

"Habis ini kamu ikut saya ketemu client!"

"Tapi, Pak."

"Saya enggak suka ada tapi, ayo pergi!!" Gavin pun beranjak.

Lara sudah memakai seatbelt dan duduk tenang di dalam mobil sport Gavin.

"Pak, lipstik saya ketinggalan di meja kerja. Masa saya ketemu client pucat gini." Lara lemas.

Gavin menoleh, "oh, itu alasan kamu jawab saya tadi." Gavin tetap melajukan mobilnya kemudian mengambil lajur kiri dan berhenti di sebuah toko kosmetik. "Tunggu sebentar" Lalu ia bergegas keluar.

Lara memandangnya bingung, "apa bosnya berhenti untuk membelikannya lipstik? Benarkah apa yang kulihat?"

Tak lama Gavin keluar membawa paper bag. Sesampainya di mobil ia lemparkannya ke pangkuan Lara.

"Pake, jangan bikin saya malu!!!"sahur Gavin.

Lara membukanya dan menemukan lipstik brand mahal dengan warna peach campuran pink rose kesukaannya.

"Pak? Bapak sehat kan? Kok bapak tau saya lagi pingin lipstik ini? Warnanya juga kesukaan saya! Bapak kok baik sih?" Lara tersenyum gembira melihat apa yang ada di genggamannya tanpa sadar apa yang ia katakan.

"Memangnya selama ini saya sakit? Denger ya, saya beli itu biar kamu gak malu-maluin saya di depan client. Kalo kamu pucat kayak gini, dia kira kamu kerja rodi sama saya! Cepet pake!!" Lugasnya.

Ah..terserah si Gavin mau ngomong apa, Lara udah seneng setengah mati dibeliin lipstik yang dia idam-idamin. Ada untungnya juga lipstik ketinggalan di meja kantor, rezeki emang gak kemana pikir Lara.

"Gimana Pak? Bagus enggak di bibir saya?" Tanya Lara berani sambil menghadap Gavin. Lipstik membuatnya tak pikir panjang kali ini, ternyata rasa takutnya tadi sudah ia buang ke laut.

Kali ini Lara yang berbalik menggoda Gavin. Jantung laki-laki itu tak karuan melihat bibir kecil merona di depannya. Gavin menelan ludah. Hingga ia tersadar dari bayangan gilanya dan kembali kearah depan.

"Ah..kita sudah terlambat karena lipstik sial itu!" Gavin menggerutu karena itu menggangunya. Lara, gadis itu mengganggu pikirannya.

Lara hanya senyum-senyum di kursinya dan terus memegangi lipstik yang ia inginkan, tanpa sadar kalau ia telah menggoda laki-laki disebelahnya .


-Berani-beraninya Lara balik menggoda seorang Gavin Wijaya 😅-



Hey, long time no see 🥰

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 22, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Suit and Blouse Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang