8. Louis: Sindrom Galaunes

3.4K 263 12
                                        

Udah malam takbir aja nih guyz. Gue gasabar dapet duit THR masa... iye gue tau gue tua tapi gapapa kan kalo gue dapet duit THR secara gitu bukan masalah lo lo lo pade kan. Gue juga gasabar buat pake baju baru! Emang kebangetan ye, ikonnya lebaran di dunia saat ini bukannya untuk kembali suci, tapi malahan untuk mengumbar-umbar baju baru juga kerjaan baru. Widih, bahasa gue bro. Tapi emang kebangetan sih, kadang suka banyak yang nanya "Kerja dimana?" Ato "Kapan nikah?" tapi gue sebenernya suka kasian sama orang-orang yang kedapetan pertanyaan begitu... untung sih gue gapernah ditanya begituan h3h3h3.

Dan akhirnya, adzan magrib pun berkumandang. Akhirnya puasa gue terpenuhi juga selama satu bulan... gue emang anak baik nan sholeh.

"Lou," Niall nepok pundak gue.

"Hm?"

"Ntar maen kembang api yok hehe...." Setdah ni anak. Kembang api addicted banget keknya. Baru juga buka masa udah ngajak gue main.

"Sabar dikit, pirang. Baru juga buka... lagian takbiran aja belum kedengeran." Niall yang merasa kecewa dengan jawaban gue pun akhirnya mundur dan mulai menghabiskan semua makanan didepannya (paansi garing).

Dan beberapa menit kemudian, rumah ini kedengeran ricuh. Gue yang kemal alias kepo maksimal dengan apa yang sedang terjadi (ea) akhirnya memutuskan buat ke sumber suara, tepatnya sih di ruang tamu.

"WOOOO! SELAMAT LEBARAN!!" teriak seseorang dari ruang tamu. Oh, tidak. Suara itu... tidak. Tidak mungkin, tidak mungkin itu dia! ;____; (?)

Itu suara seriusan nyaring dan bikin semua kaca jendela dirumah ini ngegeter, bro. gue serius. Dan lo tau apa yang sedang terjadi?

"ASHTON! BELAHAN HATI GUEEEEE AKHIRNYA LO DATANG...." Niall yang tadinya bete gara-gara jawaban gue pun kini berteriak lebih nyaring dari suaranya si Ashton. Bahkan gue bisa liat gelas yang tadi dipegang Liam kini retak, widih.

"Maho lo dasar." Kata Harry yang duduk disebelah Liam di ruang tv begitu Niall udah memeluk Ashton dengan sangat erat (dafuq bahasa si author).

"Gue kira lo yang maho, her." Celetuk gue tiba-tiba. Harry yang tidak terima dengan perkataan gue pun turun dari sofa lalu berjalan kearah gue dan mukul kepala gue.

"Aib. Jangan diumbar elah."

"Lo yang duluan." Kata gue berusaha ngebela diri.

"Gue cuma ngomentarin si Niall. Terus lo ngikut."

"I just tell the truth, bae."

"Lo ngasih tau rahasia gue, bego."

"Itu ucapan reflek, keriting."

Disaat gue sama si Harry lagi adu bacot gajelas, gue liat semua orang yang ada diruang tamu—Luke, Calum, Michael, Ashton, Paul, Niall, juga beberapa kru dari 5SOS—ngeliatin gue sama Harry dengan mata yang berbinar-binar. Dih?

"Oh.. Larry!" Kata Michael sok unyu, padahal sih amit-amit.

"Lanjutin, Lou. Banyak yang ngeship Larry loh." Kata Luke ikut nimbrung disebelahnya si Michael.

"Gasudi W." kata gue sambil lalu terus pergi ke dapur ga ngehirauin tatapan mereka yang udah terluka karena gue mencampakkan Harry (halah).

Karena bosen, akhirnya guepun memutuskan untuk buka twitter gue yang udah bulukan. Tapi.. buset. Gue lupa password twitter gue masa. Alhasil gue harus minta tolong ke si Liam.

"Yem," kata gue sok friendly gitu.

"Apeh?"

"Bantuin gue dong."

The Wrong Direction (One Direction Salah Gaul)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang