Sesampainya di Apartment milik Mark, Yerim pun melihat sekeliling dan bergumam memuji Apartment milik Mark. Apartment yang dominan berwarna Classic perpaduan antara warna Silver, Hitam dan Putih. Apartment yang memiliki dua lantai dan banyak ruangan yang luas.
"Kau ingin minum apa?" Tanya Mark yang bersandar di meja makan melipat kedua tangannya, menunggu Yerim yang masih melihat seluruh Apartment nya. Yerim pun menoleh kearah Mark dan mendekati nya.
"Air mineral saja." Ucap Yerim singkat, Mark mengangguk lalu menyuruh Yerim untuk duduk, Yerim pun duduk di sofa yang berada di ruang tamu sekaligus ruang keluarga. Lalu tidak lama Mark datang membawa air mineral dan Cola untuk nya, lalu duduk di single sofa seraya membuka tuxedo yang ia pakai lalu melonggarkan dasi dan membuka satu kancing kerah kemeja nya
"Thank's." Ucap Yerim lalu meneguk minuman nya, ia merasa gugup karna ia hanya berdua di tempat tertutup tidak seperti biasanya yang selalu bertemu di tempat umum.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Ini sudah hampir malam." Ucap Yerim menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam.
"Aku ingin kau tetap bersama denganku sampai kasus ku bersama Jaemin hilang, dan kau pun pasti membutuhkan ku." Ucap Mark tanpa basa basi, Yerim melipat kedua kaki nya untuk terlihat elegant.
"Kenapa kau yakin kalau aku membutuhkan mu?" Tanya Yerim bingung menyatukan kedua alis nya.
"Karna kau tidak ingin di jodohkan kedua orangtua mu, aku bisa menjadi suami pura-pura mu seperti yang aku lakukan menjadikan mu tunangan pura-pura ku di depan media dan keluarga. Jadi kita memiliki keuntungan satu sama lain. Aku menghindari kasus dan kau menghindari perjodohan kedua orangtua mu." Ucap Mark menjelaskan, Yerim pun langsung menggelengkan kepala nya menolak ucapan Mark.
"Aku tidak mau. Kau bukan pria normal dan kau bukan type ku."
"Aku tampan dan keren, bahkan wanita yang lain terus mengejar ku untuk aku berpaling padanya." Ucap Mark membuat Yerim memutar bola matanya malas.
"Tapi tidak dengan ku. Aku sudah bilang kau pria tidak normal dan kau bukan type ku." Ucap Yerim tegas, Mark pun menatap Yerim serius.
"Memang pria normal sebenarnya seperti apa?" Tanya Mark dengan penasaran.
"Pria normal sebenarnya? Pria yang normal mencintai seorang wanita bukan laki-laki, kau pun pasti tau itu. Pria yang menjadikan nya istri sah di mata publik dan Tuhan, kau tau Tuhan bahkan menentang jika kita menyukai sesama jenis. Dan pria yang bersikap manis dan romantis kepada seorang wanita, masih banyak lagi, aku malas menyebutkan nya." Ucap Yerim dan Mark pun diam mencerna ucapan Yerim. Yerim pun yang tidak mendapatkan respon Mark berdiri dari duduknya.
"Sudahlah, aku ingin-"
"Aku ingin kau merubah ku menjadi pria normal, pria yang bisa mencintai seorang wanita, menjadikan nya istri sah di mata publik dan Tuhan, pria yang bersikap manis dan romantis kepada seorang wanita. Seperti ucapan yang baru saja kau katakan padaku. Apa kau mau?" Tubuh Yerim menegang ia membuka mulutnya sedikit karna terkejut mendengar ucapan Mark, Mark berdiri dari duduknya lalu mendekati Yerim dan berdiri di hadapan nya. Yerim melangkah mundur karna tubuh Mark terasa sangat dekat dengan nya.
"Aku bicara seperti itu bukan karna aku yang ingin merubah mu tapi-"
"Jadilah istriku. Kau membutuhkan pria sebagai suami mu bukan? Aku bersedia menjadi suami mu." Ucap Mark menampilkan senyuman evil nya. Yerim tersenyum lembut lalu mengusap pundak Mark.
"But sorry, aku bisa mencari pria normal daripada membuang waktu untuk menjadikan mu pria normal." Ucap Yerim hendak melewati tubuh Mark tapi Mark menahan tubuhnya, Yerim pun menoleh ke samping menatap Mark bertanya. Mark pun memutar tubuh Yerim untuk menghadap nya lagi, memegang pinggang Yerim dengan kedua tangannya. Yerim pun meneguk saliva nya dengan gugup dan masih menatap Mark.
"Kenapa kau jadi pendiam?" Tanya Mark dengan suara rendah dan berat nya menatap Yerim dalam, Yerim pun mengerjapkan matanya lalu mengalihkan tatapan nya kearah lain dan kembali menatap Mark yang masih menatap nya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Yerim terbata-bata. Mark pun tersenyum miring dan menarik Yerim lebih dekat padanya membuat Yerim memegang dada Mark untuk membuat jarak agar tubuhnya tidak terlalu menempel padanya.
"Like what?"
"Yaa seperti itu. Intens, dalam dan-"
"Dan seperti ingin mencium bibir mu." Ucap Mark lalu menempelkan bibirnya diatas bibir Yerim yang belum membalas ucapan nya, Yerim mengerjapkan matanya dan langsung memejamkan matanya saat bibir Mark bergerak diatas bibirnya dengan lembut. Mark pun menarik tubuh Yerim yang benar-benar menempel padanya, ia mendaratkan kedua tangannya di punggung mulus Yerim yang terbuka lalu mengusap nya dengan lembut membuat bulu kuduk Yerim meremang karna sentuhan langsung dari Mark. Mark meminggirkan rambut Yerim agar ada di satu sisi pundak Yerim, membuat punggung Yerim terlihat sempurna.
Mark terus melumat bibir Yerim, tidak ada niatan untuk berhenti dan menyudahi ciuman nya. Ia merasakan seperti ingin meminta lebih. Menggigit bibir Yerim membuat Yerim mengeluh dan tidak lama lidah nya menerobos ke dalam mulut Yerim, membelitkan lidah satu sama lain. Kedua tangan Yerim pun dengan sempurna melingkar di leher Mark sesekali menjambak lembut rambut Mark untuk memperdalam ciuman nya.
Mark menghentikan ciuman nya lalu mengarahkan bibirnya ke pipi, rahang dan pundak Yerim membuat tubuh Yerim gemetar karna sentuhan bibirnya.
"Mark please-" Aku benar-benar tidak kuat berdiri, ini sangat menyiksa ku.
"Please what?" Ucap Mark yang masih terus mengecup pundak dan leher Yerim. Mark kembali mencium bibir Yerim dengan lembut.
"Wow amazing Mark."
Mereka pun langsung menghentikan ciuman intens mereka lalu Yerim membuka matanya melihat seorang pria tengah berdiri membawa koper dan tas ransel nya, Yerim pun menjauhi wajahnya menatap Mark yang menampilkan wajah datar nya, nafas mereka terengah-engah, Yerim ingin menjauhi tubuhnya dari Mark tapi pria itu tidak mengizinkan nya. Mark pun menoleh kan wajahnya kearah belakang tanpa melepaskan Yerim di pelukan nya.
"Kau sudah pulang dari Singapore Jaemin?" Yerim pun menegang kan tubuhnya ketika mendengar nama yang di sebut Mark. Kenapa Mark tidak takut pacar nya marah pada nya? Apa dia gila?
"Ya dan aku kembali dengan melihat pemandangan yang sangat mengejutkan ku." Ucap pria bernama Jaemin dengan datar. Yerim mencengkram kuat kemeja Mark di bagian pinggang. Mark pun yang menyadari kegugupan Yerim mengambil salah satu tangan Yerim dan menggenggam nya dengan erat.
"Aku akan menunggu di kamar." Ucap Jaemin lalu menarik koper nya melangkah kearah tangga menuju kamar, ia berhenti melangkah dan menatap Yerim yang tengah menundukkan wajahnya.
"Nice to meet you Yerim. Semoga kau bisa membuat nya normal." Ucap Jaemin lalu kembali melangkah, Yerim pun menoleh kearah Jaemin yang sudah menaiki tangga.
"Ia tidak seperti yang ada di pikiran mu Yerim." Yerim menoleh kearah Mark yang sangat dekat dengan nya lalu menjauhi Mark.
"Aku ingin pulang."
"Pulang lah." Ucap Mark singkat membuat Yerim tercengang lalu menatap Mark kesal.
"Kunci mobilku." Ketus Yerim dan Mark langsung memberikan kunci nya. Yerim pun melewati tubuh Mark langsung mengarah kearah pintu utama tapi berhenti melangkah saat Mark memanggil nya. Ia pun memutar tubuhnya dengan malas dan melihat Mark mendekati nya membawa tuxedo.
"Untuk menutupi tubuhmu. Aku tidak ingin pria lain melihat tubuh mu secara langsung." Ucap Mark memakai kan tuxedo ke tubuh Yerim tapi Yerim melepaskan nya dan memberikan nya lagi pada Mark.
"Biar pria lain yang tidak normal seperti mu bisa nafsu melihat wanita dengan pakaian terbuka. Aku sangat baik bukan? Goodbye Mark Lee"
TBC
![Back To Normal [Mark x Yeri]](https://img.wattpad.com/cover/171230059-64-k362623.jpg)