Tomi Asem

34 6 0
                                        

Nasib nasib... Bagaikan jatuh ketiban antena. Sekarang gue sama dua temen gue lagi nyapuin halaman sekolah. Tak sedikit siswa maupun siswi yang lewat sambil ngetawain kami bertiga.

"Ah! Gue capek!"
Kata si Gilang sambil ngelempar sapu lidi yang tadi ia pegang. Gue ambil sapu itu dan kasih lagi ke Gilang.

"Elu baru segini aja udah ngerasa, dasar Cemen".
Ejek gue. Terkadang gue kes sama temen gue yang satu ini, ngomongnya bisa, pas baru gini aja udah nyerah.

"Hei Gilang".

Gue dan Gilang langsung melihat ke arah Dion dan memasang tampang bingung. Mata gue langsung tertuju pada kodok yang ada di tangannya.
Oh gue paham, si Dion berusaha ngancem di Gilang, pinter.

"Aku Nemu kodok, mau?" Ucap Dion sambil menyodorkan kodok tadi ke Gilang.
"Njay!!! Jauhin! Jijik asem!!".

Satu hal yang belum gue ceritain, Gilang itu phobia terhadap mahluk jenis amfibi.
Gue ketawa terngakak, liat si Gilang ketakutan dengan kodoknya si Dion.

"Udah, gini aja sob. Gil lebih baik kau nyapu lagi atau kalau nggak lu bakal dijejali kodok, mau?".
Ucap gue, Gilang brigidik geli. Dia langsung ngambil sapu tadi dan nyapu halaman dengan cepat. Gue sendiri ga bisa berhenti untuk ketawa ngeliatnya.
Gue liat si Dion lagi memerhatikan kodok yang ada di tangannya. Gue yakin, pasti itu bakal dibawa ke lab buat dibedah.

Bisa dibilang gue ini paling dewasa diantara kau bertiga. Tingkat kedewasaan gue ma Dion satu banding dua lah, alias gak jauh beda. Tapi, si Gilang adalah orang paling bocah. Jadi wajar kalau gue yang selalu ngatur dan nyeramahin dia.

Teng teng teng

Akhirnya bel istirahat berbunyi, tanda bahwa hukuman ini telah berakhir.

"Lang, beli minum yuk".
"Males ah. Lu aja, gue nitip".
"Enak aja. Eh ion, jangan sampai lu mutilasi tuh kodok".

Dion malah menyeringai nyeremin.
"Memangnya kenapa?".
Tanyanya dingin. Ngeri Weh, langsung saja gue ambil kodoknya dan lempar ke kolam.

"Udahlah , lebih baik kita ke kantin cusss" ajak gue.
Gue , Dion dan Gilang pun on de wey ke kantin. Namun langkah kami terhenti saat sosok bidadari datang menghampiri kami.

"Hamdan, Gilang , Dion. Kalian mau ke kantin ya?".
"I-iya nih, dari tadi kami belum makan apapun ahehe".

Dia Zahra sob, gebetan gue. Zahra itu baik, cantik, pintar dan murah senyum pula. Yang paling penting, dia ini bukan salah satu fans alaynya Dion. Idaman gue banget dah!.
Namun gue tau kalau cinta gue ini bertepuk sebelah tangan, kenapa? Karena Zahra udah punya cowok, dan itu bukanlah gue.

"Kalau kamu mau kemana Zahra?". Tanya Gilang.
"Aku mau ke lab, ah Dion bukannya kau juga ikut penelitian hari ini?"

Dion terlihat mengangguk.
"Ya, Hamdan, Gilang. Aku ke lab dulu"
"Aku juga ya! Sampai nanti!".

Dion dan Zahra pun pergi meninggalkan kami berdua. Beruntung sekali so Dion itu, gue natal mereka dengan tatapan tak suka.

"Cie.. ada yang cemburu.." goda Gilang.
Gue mendecih dan kembali melanjutkan safar menuju kantin.

Di kantin...

Gue sama Gilang sekarang sedang duduk di salah satu meja yang ada di kantin sambil bercengkrama ria. Sesekali gue liat sekeliling kantin . Ya tak sendikit siswa yang memiliki pacar di sini, dan gue iri sekaligus malu. Iri karena gue gak bisa kayak mereka dan malu karena gue jomblo apalagi sekarang gue duduk berdua sama Gilang, bisa-bisa ada yang salah sangka pada kami.

"Yo! My brother Hamdan!"
Gue menoleh kepada sumber suara yang tak asing lagi di telinga gue. Tomi, orang yang menybalkan.

"Berdua aja nih? Si jenius itu kemana?".
Tanyanya dengan penuh penekanan disetiap katanya. Gue mendengus, Gilang hanya diam,dingin.

Jomblo Tiga LapisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang