Suasana tiba-tiba menjadi tegang. Dan ketegangan makin lama makin berkecambah. Kedatangan empat orang pemilik rumah dan satu bapak berpeci putih, merenggut perhatian kami. Awalnya kami sedang bermain game yang sedang booming itu, di salah satu rumah teman kami. Kami sedang berada di teras rumah, asyik menekuri mainan kami masing-masing. Suara-kasak-kusuk terdengar, seperti ada yang penting. Dan empat orang pemilik rumah menggandeng seorang pemuda yang kebingungan, seorang lagi, seorang gadis, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Mereka dipisahkan. Si pemuda didudukkan di ruang tamu sementara si gadis sesegukkan dibawa masuk ke dalam kamar dekat dapur. "Engkau apakan anak gadisku?" seorang bapak setengah baya siap membogem mentah si pemuda; sambil yang lain memegangi si bapak. "Apa maksud bapak?" pemuda tadi menantang. "Aku hanya mengantarkannya pulang, kemudian dia menangis." "Tidak mungkin anakku jadi menangis sedemikian rupa seperti itu, keparat!" si bapak naik pitam.
"Aku tidak melakukan apapun," si pemuda membela diri. Si bapak yang telah mengorek-gali dengan memaksa putrinya bercerita tentang apa yang terjadi hingga ia tak henti-hentinya menangis, kembali seperti kerbau yang mengamuk wajahnya condong ke arah depan dengan kepalan tangan yang menggapai-gapai si pemuda, namun tertahan sebab dipegangi dengan tiga orang yang lain.
"Begini saja," seseorang coba memberi solusi, "kita datangkan pak Mansur." "Kita akan tahu apa yang terjadi," lanjutnya. "Bila kau berbohong parang di belakang telah kusiapkan untukmu!" si bapak melepaskan diri dengan beralih ke dapur dan mengambil sebilah parang berwarna gelap, dan mengacung-acungkan senjatanya. Yang lain berlari memanggil pak Mansur.
Pak Mansur pun tiba. Sambil menceritakan apa yang terjadi di dapur, tanpa sepengetahuan si pemuda, pak Mansur kemudian membaca-bacakan ayat-ayat suci ke dalam gelas berisi air putih. Setelah duduk sebentar dengan si pemuda sembari mengobrol dan mencoba menenangkannya, kemudian meminta si pemuda meminum air yang telah dibacakan pak Mansur. Kendati sempat menolak lantaran ia tak haus, namun melihat si bapak telah memerah wajahnya dan siap sedia melemparkan parang ke arahnya, seolah tak ada pilihan kemudian ia meminumnya.
Pak Mansur pun bertanya, "Siapa namamu?". "Aku fulan bin fulan," jawab si pemuda. "Di mana rumahmu?". "Di desa Wewangian," kembali jawab si pemuda. Sempat terhenti sejenak, kemudian pak Mansur bertanya terkait permasalahan yang terjadi. "Apakah kau memperkosa Aini, putri bapak ini?". Pandangan sang pemuda tiba-tiba kabur, seperti ia tengah berada dalam kekosongan. Dan tiba-tiba ia menjawab, dengan nada datar: "Ya". Seketika bogem mentah datang menghampirinya (tanpa ujung), tanpa diundang.
Jl. Seruni, Pare, 15 Juli 2018
KAMU SEDANG MEMBACA
KEMALANGAN YANG LUCKY
Cerita PendekMenulis adalah gagasan yang dekat dengan bunuh diri. ___ Keperkasaan tiada berbalas dengan pekerti. Sopan santun tiada berperi dalam arti. Hidup menanggung beban masa lalu. Kecemasan masa depan. Langit berpijar serupa angsa. Putih bagaikan surga. ...
