Kurungan telah dibuat persis seperti kandang anjing yang manis. Teralis berbentuk persegi terbuat dari potongan jaring-jaring baja ringan. Umumnya para orangtua sering memperhatikan anaknya yang bermain di dalamnya, sembari tersenyum atau dengan menikmati secangkir kopi panas di pagi atau sore harinya. Tapi saat-saat ini keadaan menjadi lain, setelah perang yang ganas, banyak bangunan hancur. Kota sedang mengalami krisis pasca perang, dan sebuah keluarga di kota kecil terkena imbasnya. Mereka mengambil langkah radikal, bergegas mengirim anak keduanya ke rumah bibi. Lewat pos.
“Beratnya maksimal musti empat kilogram, Tuan.”
“Bayiku kebetulan saja, empat kilogram.”
“Baik. Akan kami kirim.”
“Ini uangnya.”
“Terima kasih.”
Si pengirim anak memerhatikan petugas pos tak sekalipun tersenyum. Ia menarik kesimpulan bahwa petugas pos mungkin dikejar-kejar kiriman satu ke kiriman yang lain. Si pengirim anak sempat berpikir usil, bertanya-tanya, sebagaimana petugas pos, dalam keadaan genting seperti sekarang apakah ia akan mengirimkan anaknya dengan prosedur administrasi yang ketat seperti yang dilakukannya barusan, bahwa seorang anak hanya boleh dikirim apabila terlahir di kota tempat kantor pos setempat?
Tapi dipikir lagi kantor pos satu dengan yang terdekat jaraknya puluhan kilometer, tak mungkin ia akan mengirimkan dulu anaknya ke kantor pos yang jauh jika anak bukan asli terlahir di daerah kantor pos terdekat. Barangkali mudahnya begini—sang pengirim sempat berpikir—petugas pos sama seperti penjual makanan. Sembari menjual makanan, ia pun dapat memakan makanan yang dijual.
Selang beberapa menit kemudian, anaknya telah sedang dikirim melalui kereta barang. Gerbong pengiriman bayi berada di paling belakang, bersama barang-barang yang besar. Barisan box-box bayi juga telah ditandai, tak lupa susu yang telah disediakan petugas sebagai antisipasi jika bayi kelaparan tatkala dalam perjalanan.
Tapi dalam kondisi yang memprihatinkan seperti sekarang, semua orang bisa jadi pencuri, dan faktanya memang demikian. Susu memang telah disediakan, tapi di tengah perjalanan, minuman itu tak pernah diberikan.
Bukan cuma banyak barang yang tak sampai ditujuan [hilang], tapi penggelapan susu juga dan minuman lain marak terjadi dan terus berlangsung. Para pencuri sekaliber pegawai kereta: dengan segera membungkus paket-paket seolah mereka, sebagai petugas pajak dadakan yang merasa "berhak" mengambil bagian. Pajak barang tanpa izin untuk dibawa pulang. Raungan tangisan-tangisan bayi pun mengiringi perjalanan kereta seperti partitur musik orkestra dengan asap yang menggumpal-gumpal hitam di udara.
Di sisi lain, bibi sebetulnya, khusus saat itu, tak pernah senang mendapat kiriman bayi. Dahinya mengerut saat mendapat kabar keponakannya meminta untuk merawat anaknya sementara. Ia tak bisa menolaknya. Karena seperti sebelum perang meletus waktu dulu, memang ia yang dengan senang hati bahkan mengusulkan (dengan sedikit memaksa) untuk mengirimkan anak-anak mereka sebagai penghiburan, karena ia memang tak pernah memiliki anak.
Tapi kini ia betul-betul tak menghendakinya. Perang telah menghancurkan keadaan ekonomi negaranya. Bahkan ia sekarang tak bisa membeli susu. Air cucian beras mungkin jadi alternatif yang tepat untuk menghilangkan hasrat bayi pada cairan susu berwarna putih. Selain bibi sedang repot, juga karena akan ada banyak tamu yang datang. Ia baru saja mempromosikan dengan diskon yang cukup besar rumahnya yang dijadikan tempat rumah makan baru. Itu terjadi setelah usul keponakannya. Dan dalam keadaan seperti itu, seperti kebiasaan masyarakat kota, bibi pun akan menaruh bayi yang baru saja sampai yang dikirim lewat pos itu ke dalam kandang besi. Terletak menjorok ke arah luar dekat jendela di lantai dua. Si bayi memang kemudian asyik saja sepertinya berada dalam kerangkeng.
KAMU SEDANG MEMBACA
KEMALANGAN YANG LUCKY
Short StoryMenulis adalah gagasan yang dekat dengan bunuh diri. ___ Keperkasaan tiada berbalas dengan pekerti. Sopan santun tiada berperi dalam arti. Hidup menanggung beban masa lalu. Kecemasan masa depan. Langit berpijar serupa angsa. Putih bagaikan surga. ...
