Ch. 01 First Encounter

40 4 0
                                        

Sepasang mata itu menatap malas keluar jendela, memerhatikan dua orang anak manusia yang berlari kesana kemari membawa bola. Ia menopang pipinya dengan tangan kiri, menarik nafas lalu mendengus pelan. 'Bosan...' itulah kata yang terlintas dalam pikirannya saat itu, hari-hari yang sama, orang-orang yang sama dan peristiwa yang sama, berulang dan berulang. 'Tidak ada kah hal menarik yang terjadi di dunia ini? Zombie outbreak misalnya? Perang antar galaksi atau petualangan menegangkan macam dunia fantasi?' menyadari apa yang ia pikirkan, remaja itu kembali mendengus dan tersenyum masam, 'Tak mungkin hal seperti itu terjadi.'

Ia mulai mengantuk, pandangannya kabur, kepalanya menganggut, dan tangannya goyah. Tangan kiri itu terjatuh, membuat kepalanya hampir menghantam meja, namun ia tersadar.

Malas, ia kembali menopang pipinya dengan tangan kanan, berjuang untuk menahan rasa kantuk dan bosan. Sekuat tenaga ia menaikan bola matanya keatas, menatap langit biru dari lantai dua bangunan sekolah.

Awan putih beregrak perlahan tertiup angin dan kesunyian kembali menghinggapi, hingga ia menemukan sesuatu bergerak dikejauahan. 'Pesawat?' ia membatin, remaja itu menyipitkan matanya, mencoba memfokuskan seluruh pengelihatannya pada benda yang melesat cepat, bersinar dan meninggalkan ekor dilangit biru.

"Apa itu?" sebuah pertanyaan terlontar padanya.

"Pesawat," jawab remaja itu datar sambil tetap memandang ke luar.

Sebuah buku mendarat dikepalanya dan ia mengaduh barang sesaat. Remaja itu menoleh dan didapatinya sang guru menatap dirinya tajam. "Buka halaman 47, kerjakan soal latihan!" perintahnya, sambil berjalan menjauh dari bangku tempat sang remaja duduk.

Ia memegangi kepalanya lalu dengan wajah masam menengok pada teman sebangkunya yang hanya membalas dengan ekspresi canggung. 'Sialan,' ia membatin lalu membuka halaman demi halaman buku LKS.

****

"Kenapa lu gak kasih tau gue kalo tadi pak Adang nyamperin gue, Man?"

"Lah gue juga gak sadar, Rud! Tiba-tiba itu guru udah ada di samping gua aja," balas remaja bernama Maman itu, lalu memasukan sesendok es cendol kemulutnya. Melihat tingkah kawannya, Rudi hanya bisa diam kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain, menatap siswa-siswi yang melangkah keluar gerbang.

Rudi dan Maman duduk sebelah gerobak cendol seberang sekolah, menikmati sensasi manis dan dingin segelas cendol guna menghilangkan lelah dan penat. Hampir setiap hari mereka berada disana setiap pulang sekolah, dan hampir setiap hari pula mereka menikmati cendol yang sama tanpa menunjukan tanda-tanda adanya kebosanan diwajah.

'Haaah... kenapa sekolah gue pake sistem full day begini?' batin Rudi, ia lelah dengan kehidupan sehari-hari yang dijalaninya, namun apa boleh buat, hanya itulah pilihan terbaik yang ia miliki untuk saat ini, menjalani kehidupan yang membosankan. 'Gue pengen cepet lulus terus kuliah."

Tangan Rudi masih memegang segelas cendol, akan tetapi pikirannya tengah berkelana kedunia penuh khayalan dan cita-cita. Cita-cita Rudi tidak tinggi, tidak pula istimewa, ia hanya ingin menjadi seorang travel blogger yang berkelana dari satu tempat ketempat lain, bercerita dan berkisah tentang perjalanannya. Ia ingin bertemu dengan berbagai macam orang dari latar belakang kehidupan dan budaya yang berbeda, bercengkrama dan betukar rasa dengan mereka.

Namun cita-cita hanya cita-cita, keraguan menghantui remaja berusia enam belas tahun itu, ia tak yakin dengan apa yang ingin ia capai. Karena itu Rudi memutuskan untuk kuliah, mempersiapkan diri sebelum benar-benar terjun kedalam dunia yang kejam untuk mengejar cita-citanya. 'Tapi jurusan apa yang mestinya gue ambil? Gak ada jurusan travel blogger di universitas.' Rudi membatin dan terus membatin, menenggelamkan diri dalam perenungan dan kebingungan.

Alter Project: Lost ArtifactWhere stories live. Discover now