Bagian 2: Luka

11 1 0
                                    

Sudah selama dua tahun terkahir Kasian menyadari adanya potensi kekuatan yang luar biasa di dalam dirinya. Ia memahami jika ia melatih potensi tersebut maka kekuatannya akan muncul dan berubah menjadi luar biasa. Termasuk saat ia mengetahui kehadiran ayahnya ke sekolah kemarin, sebenarnya itu adalah hal menakjubkan. Ia berada di dalam kelasnya yang jaraknya 60 meter di seberang ruang TU di mana ayahnya berbicara dengan Ms. Sri, namun ia mampu mendengar pembicaraan mereka saat ia mencoba memfokuskan indra pendengarannya.

Ketika libur kenaikan kelas bulan Juli lalu, Kasian diantar Dr. Setya untuk berlatih beladiri secara pribadi dengan Steven Lee, murid perguruan Chu Song Tin di Hong Kong. Lee begitu keheranan saat Kasian mampu menguasai gerakan-gerakan dasar dalam sekali latihan saja, bahkan ia lebih cepat dari yang dikatakan. Hanya dalam tiga minggu, Kasian telah dianggap Lee menguasai beladirinya tanpa cacat, bahkan berhasil menggungguli Lee dalam beberapa kali latih tarung.

Kasian dan Dr. Setya sepakat untuk merahasiakan hal itu. Karena itu Kasian dilarang menunjukkan kekuatannya kepada siapapun, termasuk pada Dr. Setya jika tidak diperintahkan.

"Seharusnya kau tidak perlu mendesakku seperti itu!" keluh Dr. Setya atas tindakan Kasian di sekolah kemarin. Ia sedang bersandar pada tiang dapur dengan kedua tangannya dilipat di depan dada, menatap ke arah Kasian yang sedang duduk di kursi dapur sambil makan pir dan membaca sebuah majalah masakan.

"Ayolah Ayah. Tidak akan ada yang menyadari apapun dari hal seperti itu," jawab Kasian agak malas yang kemudian mengambil gigitan besar pada pir yang dipegang tangan kananya, bunyi gerusannterdengar renyah. Ia mengunyahnya sampai ada sedikit air pir keluar dari sela-sela bibirnya.

Dr. Setya memandang tajam Kasian seakan geram dengan sikap menyepelekan anaknya itu. "Kau boleh bicara seperti itu, Kasian! Tapi..." Ia berhenti berkata.

"Tapi apa, Ayah?" tanya Kasian mendesak Dr. Setya melanjutkan perkataannya.

Dr. Setya tidak menggubris pertanyaan Kasian. Kemudian ia mengalihkan pandangan ke taman belakang, melepas lipatan tangannya, dan beranjak dari sandarannya. "Tidak baik jika semua apa yang harus kau ketahui diberikan oleh orang lain. Terkadang kau harus memahaminya sendiri, Kasian," ucapnya pelan diiringi hembusan napas ringan. Lalu ia melangkah ke taman itu, pintu kaca dapur terbuka dan tertutup dengan sendirinya saat Dr. Setya melewatinya.

Kasian menjadi canggung. Ia tidak mengira persoalannya seberat itu. Kemudian ia memutar badan dengan tetap duduk di kursi, mengarahkan pandangannya ke Dr. Setya yang telah berdiri di pinggir kolam renang. Kau selalu mengatakan kalau aku akan mengerti. Perlahan ia kembali pada majalahnya dan melanjutkan makan bagian pir yang tersisa. Ia mencoba untuk tidak memikirkan perkataan ayahnya tadi. Ia tidak bisa mengertikannya. Ia terlalu sering tidak bisa mengertikannya.

Kasian memang tidak begitu akrab dengan Dr. Setya, maupun dengan Dewi. Ia telah lama berspekulasi terhadap statusnya dalam keluarga Birendra. Banyak hal yang menurutnya tidak sepadan, membuatnya beranggapan bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari salah satu orang tuanya, atau bahkan keduanya. Ia tidak pernah merasakan ikatan keluarga dengan mereka. Namun ia mencoba untuk bersikap lebih dewasa dari apa yang semestinya. Kurasa perlu untuk bersikap sedikit tidak peduli, itu menjadi penting agar aku tetap bisa berjalan di saat terlalu banyak hal yang harus diperhatikan. Entah benar atau tidak, itulah sikapnya.

Meski begitu, Kasian sangat dekat dengan Gatot. Adik mungilnya itu dipanggilnya dengan Gaca. Ini bukan sebuah akronim untuk Gatot Kaca, tokoh jagoan dalam perwayangan Mahabarata, tapi bisa juga dikatakan seperti itu. Gaca adalah penyebutan nama oleh Gatot sendiri, lidah kecilnya belum fasih untuk bicara sehingga kata Gatot terdengar dengan Gaca. Bermain dengan Gatot bisa menghibur dirinya. Gatot lah yang membuatnya merasa seperti bagian dari keluarga, merasa memiliki hubungan kakak beradik yang sangat erat.

Bioranger: The First AppearanceWhere stories live. Discover now