Perlakuan para preman pasar pada Akmal membuat Kasian sangat marah dan dendam. Kasian pun pergi menghampiri mereka. Para preman itu biasa berkeliling Pasar Gebang dan duduk di pagar pasar dekat pertigaan. Setiap hari mereka melakukan pemalakan pada anak-anak dan kaum lemah. Tidak ada yang berusaha menghentikan mereka, sekalipun aparat keamanan. Kali ini Kasian yang akan membuat perhitungan dengan mereka.
Kasian berhenti di jarak dua ratus meter dari pasar. Ini kesempatanku menggunakannya. Ia memfokuskan pandangannya ke arah pasar. Pupil matanya membersar. Pengindraan ini tidak seperti manusia biasa, proyeksi visual yang didapatnya diperbesar hingga beberapa kali. Seperti kemampuan kamera dengan magnifikasi yang tinggi. Detail pasar pun dapat terlihat dengan jelas. Kemudian ia memperhatikan sekitaran pertigaan pasar untuk menemukan posisi para preman itu.
Satu di depan tambal ban. Dua lagi di gapura pintu masuk. Satu lagi duduk di pagar pasar.
Ia berhasil mengetahui lokasi preman-preman itu, namun orang yang diincarnya belum ditemukan. Kemudian ia meningkatkan fokusnya. Nampak urat darah memerahkan bagian putih matanya. Beberapa saat kemudian ia mengunci panglihatannya pada satu titik di depan pasar, "Ketemu!" ucapnya tegas sesaat setelah memastikan pria yang bertato di tangan sedang memakan bakso di pinggiran jalan antara gapura gerbang pasar dengan kios tambal ban. Sebagian tubuhnya tertutupi oleh gerobak bakso keliling.
Kemudian ia mengembalikan pengindraan visualnya seperti semula. Dan...
"Aaakhh!!" ia menutup matanya dengan tangan secepat yang ia bisa. Ia dapat merasakan aliran darah di dalam matanya, menimbulkan rasa seperti ditekan. Mataku seperti mau lepas!
Kasian tersungkur di atas lututnya, keringatnya mengucur melalui dagu. Perlahan ia mencoba membuka matanya, penglihatannya kabur dan berguncang. Mungkin ini efek penggunaan mataku! Meski begitu, ini bukanlah pilihan. Ia tidak membolehkan dirinya berhenti di sini. Kemudian ia mendorong tubuhnya untuk bangun. Kaki kirinya menopang kedua tangan, lalu ia mendorongnya hingga badannya terangkat. Ia pun berdiri.
Penglihatannya perlahan kembali normal. Jalan pasar yang tadinya nampak membelah dua, kini kembali mejadi satu. Lalu ia menghela napas dalam. Kemudian ia berjalan menuju pasar. Tatapannya masih terkunci pada pria yang bertato di tangan itu.
Beberapa saat kemudian ia tiba di tempat yang ditujunya, pinggiran pasar di seberang kios tambal ban.
"Permisi," sapa Kasian diiringi dengan menepuk pundak pria bertato yang sedang menikmati baksonya. Aroma khas bakso yang menggiurkan sempat mengusik Kasian, tapi ia berusaha untuk tetap fokus. "Apa aku mengganggumu?"
Pria tersebut menghentikan suapannya dengan tangan masih memegang sendok. Ia tampak tidak senang dengan kehadiran Kasian. "Hmm!!" pria itu berdehem sembari menoleh ke pundaknya yang disandari tangan Kasian.
Kasian cuek. Ia tidak mempedulikan ekspresi pria itu. "Kemarin kawanku... Kawan baikku mendapatkan bekas luka di wajahnya," ucap Kasian meneruskan omongannya.
Mendengar perkataan Kasian, pria itu nampak semakin kesal. Ia membuang sendok yang dipegangnya ke mangkuk baksonya dengan kasar, lalu ia beranjak dari tempat duduknya. Ia membusungkan dadanya yang kekar seiring berdiri tegak seakan mengintimidasi Kasian. Kejadian itu menarik perhatian rekan-rekannya. Mereka pun datang dan mengepung Kasian. Ekspresi wajah mereka seram, atau lebih tepatnya diseram-seramkan. Abang tukang bakso menyingkir, mungkin tidak mau terlibat.
Meski begitu, Kasian sama sekali tidak gentar. Tatapannya sama sekali tidak lepas dari pria bertato itu. Justru dagunya semakin terangkat seakan menjawab intimidasinya. "Ia bilang, bekas luka itu di dapat darimu!" tukas Kasian memprovokasi lawan bicaranya yang tampak sudah kehabisan kesabaran itu.

YOU ARE READING
Bioranger: The First Appearance
AdventureApa yang bisa dilakukan bocah 14 tahun dengan kekuatan sebesar ini? Jika aku jadi dirimu, aku akan menjaga perdamaian dunia! Anak kecil seperti kita, hanya akan merepotkan orang dewasa. Tidak juga, terkadang anak kecil justru lebih bijak dari mereka...