CHAPTER 19

436 57 4
                                        

- GIMANA? -

PRANG!!!!

"Hwall... lo jahat..."

Hwall yang tadinya posisi duduk, sekarang berusaha buat bangkit dari kasur rumah sakit.

Gw langsung nahan lengan lebarnya.
"Hwall. Lo di infus, jangan banyak gerak dulu"

"AH! Lo gak mikirin naya gimana! Minggir!"
Hwall langsung nepis tautan tangan gw di lengannya, dan langsung keluar dari kamar bertuliskan 'VIP' bersama dengan infus di tangannya.

"NAY! TUNGGUIN GUE! GUE BISA JELASIN!"
Ucap hwall yang sekilas melihat naya berlari kecil di lorong rumah sakit.

Naya memberhentikan langkahnya dan mengumpulkan tekad untuk berhadapan dengan lelaki satu ini.

HYEMI POV

"Aaw..." ringis hyemi memegang luka di tangannya. "Ahh jinjja? Dia berubah secepat itu? Padahal baru saja beberapa menit lalu dia berterimakasih kepadaku, dan- aww.." ringis hyemi untuk kedua kalinya.

"Hyem? Lo kenapa? Ini kotak bekal siapa? Kok jatuh?"

"GILAK HYEM LU KOK BISA BONYOK BEGINI ANJAY"

"IYA ASTAGA LU BABAK BELUR KENAPA DAH?!"

"PARAH SIH ELU"

Astaga, dari gaya bahasanya kalian pasti tau mereka siapa😒 iye ini lami, somi, eunbin. Dan... kevin.

"Lu pada ah, rusuh bgt. Ni otak gue makin mumet-aww"

Kevin nyamperin gue.
"Lo di apain?"

Ini gimana ya? Jawab jujur atau.. Ahh! Gue males kalo udah begini ceritanya.

"Gue ga di apa apain"

"Jawab jujur!" Tegas kevin, seketika temen temen gue pada mingkem. Termasuk gue.

"G-gue... gatel tadi.. trus gue garuk" iya bohong lagi, kalo gue ngomong jujur. Ni empat orang pasti ngatain gue bego.

"Ikut gue!" Kevin narik telapak tangan gue dimana cuma ada sedikit luka kecil dan gak terlalu sakit.

Kevin bawa gue keluar.

"Hyem, gue gak suka lo nutup nutupin ini. Gue mau yang jujur." Ucap kevin penuh penekanan pada kata jujur.

"Emang kenapa? Toh kan gak terlalu penting banget bagi lu vin." Jawab hyemi lesu.

"Lo penting di hidup gue hyem... jadi please.."

Kata kata kevin kali ini bikin gue ngerasa aneh, entah apa yang gue rasain sekarang. Seakan nge hipnotis gue pengen nyeritain semuanya.

"Oke, tapi janji lu gaakan buat ekspresi apapun dan ga bakal ngebacot?" Tanya gue meyakin kan dan kevin ngacungkan jempolnya. Dan gue nyeritain seluruh kejadian dari awal bangunan kosong waktu itu.

"Gue- hiks.." di akhir cerita panjang yang bikin air mata gue menetes kembali. Mami benar, aku memang orang yang rentan kebawa suasana. Bahkan drakor menjadi saksi nyata jatuhnya air mata gue, meski itu bukan gue yang alamin.

RIGHT HERE ; HWALLTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang