"Kau tidak apa-apa Jaemin?"
Tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Yang ditanya hanya menatap ke depan. Kosong. Padahal dirinya tidak pernah memimpikan pemuda tampan itu sejak 6 bulan lalu. Tidak pernah juga ia begitu memikirkannya, hanya terlintas sesaat, itu pun tidak sering, Jaemin jamin. Ia juga tidak pernah berdoa untuk dipertemukan kembali. Setidaknya jika doanya memang begitu, ia pasti mengharapkan bertemu di situasi yang lebih baik, bukannya di tengah hujan. Namun satu hal yang Jaemin selalu harapkan adalah supaya Jeno bisa hidup dengan baik. Terkabul sudah. Jeno memang hidup dengan baik dan mandiri sekarang.
Sama dengan Jeno, Jaemin masih menyimpan sebuah ruang dalam hatinya untuk Jeno meskipun ia pernah disakiti dalam cara yang tidak pernah ia percaya. Sejujurnya, ia tidak pernah percaya bahwa Jeno dapat menyakitinya. Mantan kekasihnya itu dulu orang yang sangat romantis, sangat lucu, sangat membuat Jaemin nyaman. Jaemin tidak akan pernah lupa cara Jeno mengungkapkan perasaannya. Mereka tidak pernah dalam masa PDKT jika dilirik ke belakang. Kedekatan yang terjadi juga karena kehidupan kampus, tidak ada yang spesial, sungguh. Tiba-tiba saja, malam itu, 13 Desember 2019, dalam mobilnya Jeno, peristiwa super romantis yang pernah Jaemin dapatkan yang ia kira hanya bisa terjadi di film-film terjadi. Tidak ada bunga, coklat, atau boneka. Hanya dua insan dengan kasih sayang yang sebenarnya sudah tumbuh lama, diiringi lagu dari radio, dan syarat seorang Jeno.
"Na, ada ramen nggak? Aku lapar." Jeno bertanya, membuat lingkaran di perutnya. Ia baru saja selesai bermain game moba di ponselnya sambil tiduran di kasur Jaemin. Siapa suruh tidak makan di café. Jeno ini, nafsu makannya besar. Jika Jaemin hanya bisa menghabiskan satu bungkus ramen, dia harus dua.
"Ada sayang, mau aku masakin?" tawarnya. Jaemin baru saja selesai mengganti pakaian keluar dengan piyama biru muda dengan gambar karakter Ryan. Terlihat Jeno mengangguk antusias saat Jaemin sedang menyisir rambutku dari kaca lemari.
Aku tidak tahan! Dia seme tapi kenapa harus seimut ini!!!! Hatiku lemah~ Pikir Jaemin.
Jaemin mendekatinya di Kasur. Jeno menggantungkan lengannya di pinggang Jaemin. Kepalanya mendongak ke atas. Lalu, Jaemin mencubit kedua pipi Jeno gemas. Tidak lupa digoyang-goyangkan. Lenguhan kecil keluar dari mulutnya. Tampaknya Jaemin sedikit terlalu keras. "Mmmmhhhh" Kini tangan Jeno memegang punggung tangan yang lebih muda.
"Bayi! Tunggu disini" Cup~ satu kecupan mendarat di pipi Jeno lalu turun ke dapur.
Setelah 5 menit memasak, Jaemin membawakan satu mangkok besar ramen dengan 2 sosis goreng ke kamarnya. Sambil berjalan, ia membayangkan dirinya memasak untuk Jeno pagi hari untuk sarapan dan malam hari saat dia pulang kerja. Makan bersama di meja atau sofa depan tv atau di kasur. Beberapa tahun kemudian, ada Jeno kecil yang juga ikut makan. Jaemin akan memangku Jeno kecil sementara Jeno menyuapi bubur, membuat suara seperti kereta api. Sampai saat itu, ia harap mereka akan selalu baik-baik saja.
Ia kesulitan membuka pintu kamarnya dengan dua tangan penuh masakan. Jaemin teriak memanggil Jeno yang mana dia langsung membukakan pintu. Matanya tidak terarah padanya, tapi ke ramen dan sosis. Siapa dia? Anak kecil yang diberikan lollipop?
Mereka duduk di lantai. Jaemin baru saja mengganti sprei kasur dan itu warnanya putih. Dia tidak mau ada cipratan kuah ramen. Tanpa dirinya mempersilakan, Jeno langsung mengambil sumpit dan mengaduk ramennya.
Dia makan seperti artis mukbang atau ASMR yang ada di YouTube. Slurp... Slurpp... Ahh. Jeno sepertinya kelupaan dengan sosis gorengnya. "Aaaaakk" Jaemin mengangkat sosis goreng dan berniat menyuapinya. Jeno membuka mulutnya.
"Jeno-yah, jangan imut seperti itu." Jaemin memasukan sosis ke mulutnya. Dia mengunyah sambil menutup mata. Sepertinya dia lapar sekali. Ia menaruh mangkok ramennya ke lantai. Kemudian berdiri di belakang Jaemin. Dia kembali duduk, lalu tangannya mengangkat tubuh kurus si pemuda manis itu sehingga sekarang dirinya ada di pangkuan kekasih tampannya. "J-jeno" panggilnya sambil mengusap tangannya yang melingkar di perutku.
"Suapin aku, yah?"
"Nono, yang uke disini aku."
"Seme ga boleh disuapin memangnya?" Dia mengeratkan pelukannya. Jaemin memutar bola matanya dan turun dari pangkuan Jeno. Sekarang Jaemin kembali berhadapan dengan Jeno tampan. Dia meminta izin untuk main game sambil makan, tentu saja diperbolehkan.
"Kamu ngga mau coba sedikit?" Jeno menawari ramennya. Matanya masih ada di layar hp dengan jempol kirinya membentuk lingkaran. "Boleh?" balas Jaemin. "Tentu saja, sayang. Kan sayang yang bikin." Ucap Jeno menoleh ke arahnya.
Jaemin memajukan wajahnya dan mengecup bibir Jeno. Sekali.
"Enak." Lalu kembali ke posisi awal. Jeno kaget dengan kecupan impromptu itu, tapi kemudian dia tersenyum, matanya melengkung.
Setelah makan, mereka menggosok gigi bersama. Sekarang ada di kasur. Jeno sekarang menggunakan kaus singlet milik Jaemin karena dia sebenarnya tidak suka menggunakan baju saat tidur, tapi Jaemin malu melihatnya telanjang dada semalaman jadi diberikan kaus singlet. Salah besar rupanya. Jeno terlihat semakin seksi. Apalagi dengan celana boxer navy. Berbeda dengan Jaemin yang lengkap tertutup.
Memori itu sangat manis bagi Jaemin. Dua tahun, dari 2019 sampai 2021, hilang, lost contact selama 4 tahun sampai sekarang, tidak ada yang mampu menggantikan semua yang telah mereka lewati. Tidak ada orang lain yang memberikan efek yang sama seperti yang Jeno berikan kepadanya. Jika mencari yang lebih tampan, banyak. Jika mencari yang lebih kaya, banyak. Namun, mencari yang hanya hati bisa berkata iya, susah. Mustahil kata Jaemin. Jeno, meskipun telah menyakitinya, telah menghancurkan pondasi kepercayaan dirinya, telah membuat dirinya terus-terusan bertanya dan meragukan diri sendiri, tetap menjadi yang nomor satu dalam hatinya. Bukan artinya Jaemin tidak membuka hati. Jika diibaratkan dengan rumah, ada satu ruangan besar yang terkunci dalam rumah hatinya dan untuk membuka itu, hanya Jenolah kuncinya. Mau didobrak sekuat apapun, ruangan itu tersegel atas cintanya. Maka dari itu, Jaemin sempat meminta maaf saat putus dari mantannya setelah Jeno, ia sadar bahwa mencintai yang lain tidak akan pernah sama seperti mencintai Jeno. Sekarang, ia bingung.
"Aku tidak apa-apa Renjun-ah. Terima kasih."
"Hey, kau kenal Jeno ya? Disana lah tempat ku membeli kopi akhir-akhir ini. Sangat enak."
Jaemin tidak hanya kenal Jeno, Renjun. Jaemin pernah menjadi bagian dari sejarah hidupnya.
"Iya. Dia..." ada jeda disana. Dia adalah cintanya. Dia adalah kebahagiaannya. Hidup selama 4 tahun ini sangat susah tanpa Jeno. Sepertinya, Jeno juga pelabuhan bagi kapal Jaemin. "teman lamaku." Namun, tidak mungkin ia mengatakan itu pada Renjun. Pemuda yang kini merupakan tunangannya.
YOU ARE READING
Love Me The Same [Nomin] [New]
FanfictionNew Version! Baca aja dulu. Ada sedihnya. Ada senengnya. Ada flashbacknya. Ada gemesnya. FanFiction! Jeno x Jaemin NCT Dream
![Love Me The Same [Nomin] [New]](https://img.wattpad.com/cover/186757218-64-k44788.jpg)