3. Jaemin?

55 1 0
                                        

Seoul, 10 November 2025

Myeong-dong hari ini diderai hujan yang deras dengan langit kelabu. Lampu-lampu penerangan di jalan dihidupkan oleh petugas setempat karena jalanan menjadi cukup gelap. Meskipun begitu, Myeong-dong tetaplah indah. Sekarang jam 2 siang tetapi rasanya seperti jam 7 malam, gelap dengan cahaya lampu jalan dan lampu semua toko yang terpancar dari jendela. Tidak terkecuali kedai kopi Nano-Nano. Cahaya berwarna kuning menyinari sepetak tanah di depan toko dari dalam jendela yang telah ditempeli stiker bergambar logo kedai.

Terkait dengan nama toko, itu sebuah gabungan dari Nana dan Jeno. Jeno adalah Jeno, sedangkan Nana diambil dari marga mantan kekasih pemuda bermata bulan sabit itu. Na Jaemin. Itu juga merupakan panggilan sayang Jeno ke Jaemin yang ia ciptakan saat pertama masa orientasi di kuliah. Sebelumnya, ia dan teman-teman lain hanya akan memanggil Jaemin dengan Jaemin. Jadi, hak paten dari nama Nana ada di tangan Jeno. Jika ada yang mau memakai, harus seizin Jeno.

Hujan-hujan begini kedai pasti dikira akan sepi. Salah besar. Malah sekarang semua meja dipenuhi pelanggan. Alasan pertama untuk berteduh. Alasan kedua tidak ada. Apalagi yang ketiga. Namun para pelanggan ini cukup sadar diri untuk tidak menaruh bokongnya saja, mereka tetap memesan, meskipun hanya sekadar kopi hitam, menu yang paling murah, atau teh panas dengan perasan lemon, menu yang paling murah bagi mereka yang bukan peminum kopi.

Jeno tidak pernah ambil pusing. Bukan keuntungan besar yang ia targetkan, tetapi perasaan bahagia. Sudah sejak lama ia ingin memiliki kedai kecil dan melayani pelanggan. Kuliah di jurusan bisnis membentuk keinginannya. Meskipun sebenarnya ia sudah memiliki sekolah-sekolah untuk diteruskan tongkat estafet bisnis dari ayahnya, ia lebih memilih untuk berdiri sendiri. Kebahagiaannya terlihat jelas sekarang dengan semua senyum yang ia lemparkan ke para pelanggan yang memesan. Tak jarang banyak yang luluh kepadanya. Bahkan dua bulan lalu, kedai kopi miliknya sempat viral karena seorang model kelas atas mengunggah foto Jeno ke akun Instagram dengan caption 'Sweetest employee for the sweetest coffee in town, grab yours (coffee, I mean)'. Bahkan Jeno harus sampai menon-aktifkan akunnya sendiri karena banyak direct message yang masuk dan membuatnya risih. Terlepas dari semua itu, Jeno bersyukur karena sejak kejadian tersebut, kedainya jadi sangat ramai dan terkenal. Bulan lalu bahkan mendapat review dari kritikus makanan dengan rating 4,7 dari 5. Terima kasih pada Johnny hyung dan kopi-kopinya.

Manik Jeno sekarang sedang menatap pemuda bertopi hitam yang sedang berdiri di depan kedai kopinya. Jeno bertanya-tanya, mengapa pria itu basah-basahan, tidakkah ia membawa payung. Jeno dengan inisiatifnya, mengambil payung hitam dari keranjang di sampingnya kemudian berjalan menghampiri pemuda itu.

"Permisi, apa Anda memerlukan payung? Anda bisa mampir ke kedai saya jika ingin berteduh." Kata Jeno dari samping pemuda itu. Wajahnya tidak kelihatan jelas karena topi yang dipakai. Pemuda itu menoleh. Fitur wajahnya sangat halus. Salahkan topi itu yang jadi penghalang.

"Maaf sampai harus merepotkan Anda seperti ini." Suaranya terdengar manis dan lembut. Seperti gula kapas. Suara yang mungkin familiar. Seperti miliknya.

"Oh tidak apa-apa. Saya tid—"

Angin berhembus kencang. Sangat kencang. Bahkan Jeno hampir kehilangan payungnya jika ia tidak dengan sigapnya menguatkan pegangan. Daun-daun di jalanan berterbangan. Dingin, membuat tubuhnya sedikit bergetar. Lelaki di depannya mendekap dadanya dengan kedua tangan. Tanpa sengaja, tangan Jeno yang lain menopang lelaki itu di belakang pinggangnya. Khawatir jika pemuda tersebut jatuh ke belakang.

"Topiku!"

Bohong jika Jeno tidak ingin melakukan apa-apa. Bohong jika ia harus berpura-pura tetap berdiri memegangi payungnya. Bohong jika ia tidak merindukan Jaemin. Pemuda di hadapannya adalah orang yang pernah mengisi hari demi hari hidupnya selama dua tahun. Pemuda yang ia pernah dan masih cintai dengan segenap hatinya, bersanding bersama dengan penyesalan dalam setiap cinta. Pemuda yang memutuskannya di perjalanan pulang ke rumahnya.

"Jaemin."

"J-jeno."

Senyum menghiasi wajah bos berambut hitam. Wajahnya terasa mati. Otot-ototnya kaku. Bahkan untuk senyum saja ia merasa susah untuk mempertahankannya. Ia ingin menangis.

"Apa kabar Jeno?" tanya Jaemin.

Mantan kekasihnya kini berambut cokelat tua. Masih dengan mata boneka yang imut itu. Suaranya masih memberikan sengatan listrik kepada Jeno. Masih kurus seperti dulu. Masih seperti orang yang Jeno sayangi.

"Masih mencintaimu." Jawabnya.

Cepat. Secepat itu Jeno memeluk Jaemin. Yang dipeluk hanya berdiri kaku. Jeno menaruh kepalanya di pundak Jaemin. Mengeratkan pelukan setiap detiknya. Jaemin tidak membalas sedikitpun. Ia masih terkejut dengan aksi mantan kekasihnya.Hangat ini yang dirindukan kedua pihak. Tubuh Jaemin sangat pas di dalam lengan Jeno. Hanya tubuh Jeno yang memberikan rasa nyaman ini bagi Jaemin.

"Aku merindukanmu. Maafkan aku. Maafkan aku Jaemin." Ucap Jeno masih memeluknya.

Oh Jeno, ketahuilah Jaeminpun masih memiliki perasaan yang sama. Pemuda bermarga Na itu membalas pelukannya. Sedikit mengeratkan setelah 3 detik, kemudian memegang lengan Jeno dan membuat jarak supaya bisa berbicara.

Setelah lulus kuliah, tidak ada komunikasi. Semua social media seperti hilang. Jeno frustrasi tidak mampu menghubungi Jaemin. Sampai suatu ketika terdengar kabar bahwa Jaemin pindah ke Jepang karena diterima di sebuah bank swasta. Pupus sudah harapannya. Harapan untuk menata kembali yang sudah Jeno hancurkan sendiri. Namun sekarang. Namun sekarang harapan itu kembali. Ia siap, apapun resikonya, ia siap untuk membuat hubungan mereka berdua kembali layaknya dulu.

"Jeno, aku memaafkanmu. Aku pun juga sama, rindu kamu."

Sialan setan yang ada dalam tubuh Jeno. Sekarang Jeno mencium kening Jaemin.

Jaemin yang menerima menutup matanya. Ia tersenyum saat Jeno berhenti.

"Masuklah dulu, kita bicara di dalam." Ajak Jeno meraih tangan Jaemin.

"Tidak Jeno, aku menunggu seseorang."

"Kau bisa menunggunya di dalam."

Sebuah mobil kemudian terparkir di depan mereka berdua. Jendela diturunkan.

"Na Jaemin cepat masuk!"

Itu Renjun.

"Sampai jumpa lain hari Jeno. Hiduplah dengan baik."

Jaemin pergi dengan kata-kata terakhirnya. "supaya aku tidak khawatir." Ucapnya pelan saat berjalan ke mobil. Tak sedikitpun ia menoleh ke Jeno.

"supaya kau tidak khawatir." Ucap Jeno melihat kepergian Jaemin yang sangat disayanginya itu.

Love Me The Same [Nomin] [New]Stories to obsess over. Discover now