3. Pican

16 3 0
                                    

"Hahaha... Lihat dia! Hidungnya begitu besar dan badan yang bulat, hahaha"

"Hentikan! Ibu kata, aku cantik dengan hidung serta badan seperti ini. Berhenti mentertawakan ku!"

"Hei Sigung, sudah cukup meledeknya ..."

"Kenapa memangnya? Hidung dia kan memang besar, apalagi dengan badannya itu, bulat seperti bola milik Bibi Kumbang kotoran, ada apa dengan mu musang?"

"... Jika kau terus meledeknya, aku tidak kuat dengan suaranya; ngok, ngok, ngok. Haha-haha" Musang berusaha meniru suara serta gerak hidung dari Pican, si cantik bulat berwarna pink, begitulah panggilan ibu untuk Pican.

Pican sudah menahan untuk tidak menangis karena ledekan mereka, dia berusaha untuk terus mengingat apa kata Ibu; "jika ada yang meledek mu, berusahalah untuk tetap tegar, Nak. Tidak usah membalas mereka, biarkan saja. Bukan untuk mengiyakan, tetapi untuk bersyukur. Karena mereka memperhatikan mu sampai ke setiap jengkal hidup mu. Jarang loh yang ada sangat perhatian seperti itu, iya kan?"

"Pican tidak kuat lagi, Bu. Mereka jahat sekali, mereka tidak perhatian kepada ku. Mereka meledek ku, mereka mengejek ku. Mereka mengejek apa yang ibu bilang cantik, tapi tidak untuk mereka."

Suara tangisan yang begitu sedih pun terdengar, mungkin bagi mereka yang memiliki simpati, suara tangisannya seperti sebuah melodi yang menyayat hati.

Tapi untuk Sigung dan Musang suara tangisan itu adalah hiburan yang membuat mereka tertawa sampai susah untuk berhenti,

"Haha-haha, haha-haha.. Aduh, tolong aku, haha-haha.." Musang tertawa dengan badan yang terguling kesana dan kesini di atas rumput.

"Lihat kan, kalau sudah begini aku tidak kuat untuk berhenti, haha-haha. Kamu tanggung jawab, Sigung! haha-haha"

"Loh kok salah ku? Kan terakhir tadi kamu yang membuatnya menangis, ah sudahlah. Nanti kalau kau mati karena terlalu banyak tertawa bisa gawat" Sigung menghentikan tawanya untuk mengusir Pican pergi dari sana.

"Hei bulat!" Hardik Sigung.

"Cepat pergi dari sini! Kalau tidak, hentikan tangisan mu! Teman ku nanti mati karenanya! Cepat!" Sigung membentak Pican dengan suara cemprengnya.

"Hiks, hiks, hiks. Kalian jahat!" Pican pergi dari sana dengan wajah yang menunduk, malu karena wajahnya. Dia tidak cantik, ibu bohong. Tidak ada gunanya lagi untuk bersyukur!

Pican berjalan dengan wajah tertunduk sampai dia tidak menyadari pemburu sudah mengintainya semenjak dia bersama Sigung dan Musang.

"Walaupun bukan buruan yang ku cari, dia cukup untuk makan anak ku yang kelaparan. Tunggu Papa, Nak."

Dor!

Tubuh Pican ambruk ke samping setelah suara yang membuat burung burung di pohon kaget berterbangan, "aku benci hidup ku" begitulah kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Pican sampai akhirnya kegelapan tinggal bersama dia di kesunyian.

*****

Ibu Goldy terus mondar mandir di depan rumahnya, hari sebentar lagi akan gelap. Tetapi kenapa Pican belum pulang juga. "Kemana kamu, Nak?."

"Kakak, apa kamu lihat Pican pergi kemana?" Ibu Goldy bertanya kepada anak sulungnya yang baru pulang dari ladang di seberang rumah,

"Kakak tidak tahu, Bu. Mungkin dia menemukan kubangan lumpur baru lagi Bu, jadi lupa pulang" kata Kakak.

"... Kebiasaan yang tak pernah bisa hilang dari seekor Babi. Bungsu pulang" Bungsu si anak paling muda menyahuti omongan dari Kakak.

"Gitu dong, adik Kakak pintar" Kakak menjilati kepala Bungsu, lalu Bungsu tertawa geli.

"Hahaha, geli Kak. Tentu saja aku pintar, Bungsu kan adik Kakak!"

Tiba tiba ada suara geraman dari belakang mereka, "Kalian! Saat Pican pulang nanti, kalian harus minta maaf kepadanya. Dia saudara kalian, kalian tidak boleh mengejeknya!" Ibu Goldy marah dengan sikap anak anaknya, dia tidak menyangka anak anaknya bisa kasar seperti tadi. Itu bukanlah apa yang dia ajarkan.

"Seekor babi bukanlah saudara kami!" Bungsu berteriak.

"Dan sudah pasti anjing tidak melahirkan babi. Pican bukan adik ku atau kakak dari Bungsu! Dia babi, Bu!"

Kakak dan Bungsu lalu pergi dari sana, dengan gonggongan yang keras dari Kakak menjadi penutup dari pertengkaran yang sudah kesekian kalinya terjadi.

"Pican, anak ibu. Cepatlah pulang, hari akan gelap. Kamu takut gelap, kamu takut sendirian dan sunyi. Jadi cepatlah pulang, ibu menunggu mu, Nak"




















-Selesai-

:') I'm speechless, guys.

★★★★★

With love,

Kaputtriput💕

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 29, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Para "Manusia" HutanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang