"Sudah tidak apa-apa," Eunar mendadak berujar ketika sadar gadis di sampingnya lagi-lagi memelototi lengan sang pangeran yang terbalut perban selama perjalanan menuju kelas. Memang sudah sembuh, tetapi manusia selain Meia tidak mungkin menerima fakta tersebut, jadi perban harus dijadikan pengecoh yang menunjukkan kalau goresan cutter itu masih segar.
Meia tersentak dan mengalihkan pandangan ke sepatunya dengan murung, "kenapa tidak bilang dari awal kalau ada mantera penyembuhan seperti itu?"
Pemuda itu mengerutkan keningnya, "bukahkah kita seharusnya bertanya-tanya soal kumpulan perisak yang semakin nekat itu?"
Meia menggeleng. Frustasi dan enggan mengingat kejadian pagi tadi. Dia lebih suka membelokkan topik dengan pertanyaan seperti, "kalau sihir seperti itu ada, kenapa tidak hentikan juga lelehan di hidungmu itu?"
Sang pangeran seketika menyedot cairan kental dengan tarikan udara sekenanya, "si-sihir yang kupakai tadi itu hanya bekerja untuk luka ringan. Kalau sakit yang seperti ini harus pakai ramuan. Di sini tidak ada bahan yang biasa kupakai untuk—"
"Ikut aku," Meia menarik lengan Eunar dan menggiring pemuda itu menuju tangga di lorong yang sepi. Terlihat Meia mengeluarkan sebungkus tisu yang disimpan di saku roknya dan mengacungkannya, "ayo sini, hidungmu."
"apa?"
"Kita buang dulu ingusnya."
"A-aku bisa lakukan sendiri."
"ayo cepat."
"Tapi ...."
"Ayo!"
Gadis itu merasa geli ketika tubuh jangkung di depannya sedikit membungkuk, menenggelamkan wajah bagian bawah ke dalam gumpalan tisu, lalu membuang napas keras dengan polosnya. Meia sudah seperti sedang mengasuh anak kecil.
Meia langsung membuang tisu yang telah terpakai ke tempat sampah tak jauh dari sana.
"Sekarang kita ke kelas, ya?" ajak Meia. "Tu-tunggu! Wajahmu memerah."
Sang pangeran langsung membuang wajah. Menutup mulutnya dengan satu lengan. Kemudian gadis itu mendekat dan menempelkan kedua tangannya di kedua sisi wajah Eunar, "agak hangat."
"Ta-tanganmu yang dingin," sergahan Eunar dibalas gelengan mantap dari Meia.
Gadis itu jadi lebih cemas, "apa kau mulai demam?"
Pupil sang pangeran mengecil, lalu perlahan kembali ke ukuran normal, "mungkin."
Meia semakin merasa bersalah. Awalnya Eunar mengira kalau alibi demam bisa menghapus insiden memalukan barusan. Tapi rupanya Meia akan super terluka kalau demam itu benar-benar nyata.
"Ti-tidak. Tidak demam, tanganmu saja yang terlalu dingin, Meia," Eunar yang plin-plan lantas mengambil alih kedua tangan Meia yang masih menempel di pipinya. Menurunkannya. Membiarkannya menggantung beberapa lama dalam genggaman. Meia semakin jelas merasakan suhu tubuh Eunar tersalur melalui koneksi tangan yang dikunci oleh pemuda itu. Meia menatap lurus. Tertegun dengan segala hal yang dimiliki lelaki isekai tersebut.
"Kuharap cara seperti ini bisa membuatmu lebih baik," gumam Eunar.
Gadis itu meneguk salivanya sendiri. Sangat canggung tapi juga ingin menikmati momen itu lebih lama.
Sang pangeran pun kemudian melemahkan genggamannya, "sepertinya wajahmu juga memerah, Meia."
Meia terperanjat dan spontan melepaskan tangannya dari Eunar. Gadis itu meraba-raba wajahnya sendiri.
Sang pangeran menggigit bibir bawahnya, "apa mungkin aku menularkan—"
"Tidak. Bukan," langkah Meia menjauhkan jarak dari pemuda di hadapannya. Memalingkan pandangan adalah hal paling wajar dilakukan ketika wajahnya mulai dihanguskan rasa malu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Prince of OZ
FantasyMeia Lyndis adalah seorang anak terbuang, baik itu di rumahnya maupun di sekolah. Semua orang yang ditemuinya selalu memasang tatapan tajam kepadanya. Namun, suatu hari, muncul satu-satunya orang yang memandang Meia dengan lembut. Dialah Eunar Dapha...
