Kira-kira ... sebulan?
Kata orang, ketika menikmati hidup, waktu akan berjalan jadi sangat cepat.
Awalnya itu sebuah omong kosong. Tapi sekarang, setelah sebulan ini hubungan sosial Meia membaik, gadis itu hampir sangat memercayai apa-kata-orang.
Bahkan Lizie pun sampai harus memperingatkan mana yang benar dan tidak.
Minggu lalu, Erna terpaksa berteriak maling ketika makhluk misterius datang kepada Meia dengan dalih meminjam handphone. Bahkan Joe sempat ikut rombongan warga yang sedang mengejar pencuri itu. Akhirnya Liana yang phobia polisi pun turut menjadi saksi di kantor polisi.
Ya. kebaikan dunia yang kini dirasakan Meia, sukses membuatnya menjadi gadis naif yang nyatanya kelewat polos. Bahkan Meia yang sekarang jadi lebih rentan dan perlu pengawasan ekstra dari teman-temannya.
Belakangan ini pun Eunar menjelma menjadi remaja yang murah tawa, terlalu puas menonton kekonyolan gadis yang ingin dijaganya itu.
"Eunar, memangnya jalan-jalan di kota se-asyik ini, ya?" tanya Meia di perjalanan pulang. Sejak pulang sekolah hingga matahari terbenam, Meia, Eunar dan Lizie squad bersenang-senang selayaknya remaja SMA pada umumnya.
Eunar sangat tahu bahwa perasaan asyik itu bukan karena jalan-jalan. Meia hanya punya banyak teman saat ini. Sangat sederhana.
Ketika mereka sampai di depan gerbang rumah Meia, gadis itu terlonjak kaget. Dia segera memeriksa waktu di ponselnya, "sekarang bahkan belum pukul delapan malam."
Eunar agak menunduk menelusuri ekspresi Meia, "ada apa, Meia?"
"Seharusnya ibu belum pulang," jelas Meia singkat. Tapi dari balik jendelanya itu, jelas bahwa lampu-lampu di dalam menyala. Dan jangan lupakan mobil yang terparkir di halamannya.
"Kalau begitu bagus, bukan?"
Meia menggeleng, "aneh. Untuk apa nenek sihir itu cepat-cepat pulang?"
👑
Nyonya Marie menyambut di ruang tengah ketika Meia dan Eunar masuk. Dari sana, tercium bau samar yang Meia khawatirkan adalah aroma masakan.
Ibu memasak?
"Ibu sudah memasak makanan kesukaanmu," ucap Nyonya Marie ketika Meia menarik lengan Eunar naik ke tangga. "Meia. Ayo, kita makan malam bersama."
Meia berhenti. Dari anak tangga kelima, gadis itu menoleh dan menyelidiki presensi ibunya di bawah dengan amat heran.
"Eunar, kau juga bisa bergabung," tambah Marie.
Meia merotasikan bola matanya malas, "kami sudah makan di luar, bu."
Tentu saja itu kebohongan karena jika belum makan nasi, sama saja belum makan. Itulah apa-kata-orang yang Meia percayai sejak kemarin lusa.
Meia melanjutkan langkahnya. Namun tangan Eunar yang masih di genggam gadis itu, menahan diri.
Eunar menolak mengikuti Meia. Pemuda itu lantas melepaskan pegangan dari Meia.
Lagi-lagi gadis itu terlalu heran bahkan untuk bersuara. Dengan tatapannya, Eunar meyakinkan Meia supaya mengikuti permintaan ibu.
👑
Tidak. Seharusnya tidak bisa. Karena kehadiran Eunar lah, dia kini akhirnya bisa duduk di hadapan ibunya.
Bahkan Meia sempat lupa pada kenyataan bahwa ibunya bisa memasak. Dari plester yang melingkupi kedua jari di tangan kiri ibunya, gadis itu bisa menebak kalau Nyonya Marie rupanya juga sempat lupa cara memasak. Pasti perlu kerja keras menyingkronkan ilmu masak ketika tangan sudah bertahun-tahun tidak dibiasakan melakukan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Prince of OZ
FantasyMeia Lyndis adalah seorang anak terbuang, baik itu di rumahnya maupun di sekolah. Semua orang yang ditemuinya selalu memasang tatapan tajam kepadanya. Namun, suatu hari, muncul satu-satunya orang yang memandang Meia dengan lembut. Dialah Eunar Dapha...
