BAB 8

36 11 5
                                        

"Jadi sihir semacam itu ada?" manik Meia membulat. Tak disangka nilai 100 saat ujian rupanya bisa dengan mudah didapat jika mengetahui mantra. "Apa aku bisa belajar sihir juga?"

"Untuk kami yang dialiri darah sihir pun akan sulit," jawab Eunar. "Bahkan ada yang mengulang satu tahun karena belum menguasai sihir jenis itu."

Meia menghela napas pasrah saat berjalan menuju kantin. Mungkin sekolah di dunia Eunar bahkan lebih sulit dari sekolah di bumi. Gadis itu, kan, cuma ingin terlihat keren dengan matematika yang bagus.

"Kantung matamu terlihat gelap, Meia," ucap Eunar. "Maaf karena membuatmu kurang tidur."

Meia terperangah, "semua ini salah ibu, kok. Benar-benar wanita itu yang salah."

"apa harus tidur selarut itu tiap hari?"

"Semua itu tergantung ibu, sih," balas Meia. "Oh, ayo kita coba beli kopi nanti. Katanya itu bisa mengurangi kantuk, sih. Tapi aku sendiri lebih memilih coklat panas kalau soal minuman, sebenarnya."

Mereka harus menuju gedung yang berbeda untuk sampai di kantin. Di perjalanan outdoor-nya itu, mereka bertemu dengan Lizie squad.

"Oh, jadi sudah keluar dari gudang, ya." Lizie bergumam saat berpapasan dengan Meia. Seharusnya Lizie mengatakan itu di pagi sebelum kelas dimulai, kan?

Meia Lyndis berpura-pura tidak mendengar, namun Eunar yang ikut mendengar membalik tubuhnya. Meminta Lizie dan teman-temannya berhenti.

"Apa kalian yang mengunci Meia kemarin?" sang pangeran langsung bertanya. Membuat Meia lagi-lagi menggeleng tak percaya.

Lizie sedikit memainkan minuman yang dibawanya, "apa Meia sudah cerita banyak hal tentang kami?"

"Jangan lakukan itu lagi," ujar sang pangeran.

Si tampan ini membela gadis kaya itu? Yah, sudah terlihat, sih, dari caranya mencurangi tempat duduk batin Lizie curiga.

Apakah Eunar ini tipe pria yang mengincar harta perempuan? Dari penampilannya memang terlihat, sih. Aku tidak boleh meremehkan anak baru itu. Dia punya cara bertahan hidup yang hampir mirip denganku pikir Joe.

Astaga, kenapa Meia terus dekat-dekat Eunar, sih? Batin Erna menjerit.

"Hei, kenapa kau tidak bergabung dengan kami saja?" Lizie maju selangkah, "pulang sekolah kita mau main ke tempat menyenangkan. Kau tidak ikut, Eunar?"

"Kalau tidak bersama Meia, aku tidak ikut."

"Apa? Meia juga mau ikut?" Erna mendecak sebal.

"Tidak," Meia menjawab cepat, lantas beranjak, diikuti Eunar yang mengekor.

"Tunggu dulu," Erna mengejar. Tidak terima karena pembicaraannya ditutup oleh gadis yang menyebalkan di matanya. Lizie dan Joe yang kebingungan akan sikap kawannya pun menyusul Erna di belakang.

Meia terlihat risih, namun tetap konsisen pada langkah cepatnya. Eunar yang menyadari itu pun mulai mengerti hubungan Meia dengan teman-temannya.

PTAKK..

Erna terperanjat. Tepat di hadapannya, pot bunga yang menggantung di koridor terbuka lantai dua mendadak terjun. Erna berada satu langkah lebih maju saja, benda itu sudah pasti akan memecahkan kepala.

"Jangan ikuti kami, tolong," pinta Eunar datar.

Suasana mendadak hening. Semuanya terperangah, termasuk Meia.

Gadis itu tahu kalau yang jatuh barusan bukanlah kebetulan. Iris kelabu itu menarik orang di sampingnya. Meninggalkan Lizie squad yang masih terkejut.

👑

Sekarang tujuan mereka bukan lagi kantin. Meia membawa Eunar ke taman belakang yang jarang di jamah siswa karena letaknya terlalu jauh.

"Eunar," ucapan Meia menjeda. Gadis itu merasa tidak enak, namun dia harus memastikan. "Apakah pot yang tadi itu juga berasal dari sihirmu?"

"Maaf," sang pangeran menunduk meratapi sepatunya.

Meia tidak sanggup membalas. Semua ini bukan salah Eunar. Tidak adil juga kalau Meia yang harus di salahkan. Menyalahkan Lizie squad juga sama saja bohong. Mereka berada di titik di mana menyalahkan tidak mungkin bisa memperbaiki keadaan.

"Aku... tidak tahu," ujar Eunar pelan. "Mulanya aku berpikir akan segera terbiasa tidak menggunakan sihir di hadapan manusia lain. Tapi melihatmu sedih begitu, aku tidak tahan."

Sedih? apa selama ini Meia menunjukkan muka sedih di hadapan orang kebanggaannya itu tanpa sadar? Astaga, Meia melakukan kesalahan fatal. Tapi pernyataan sang pangeran juga memancing hatinya untuk berteriak girang.

"Aku benar-benar ingin melindungimu," Pangeran Eunar mengangkat wajahnya, menatap lawan bicaranya serius. "Aku ingin kau tersenyum hangat bukan hanya padaku, tapi pada semua orang."

Meia menggigit bibir bawahnya. Merasa ingin menangis detik itu juga.

"Eunar, terima kasih," gadis itu bersuara setelah cukup lama berkecamuk dengan perasaan di dadanya. Kini kesedihan akan selalu di ubah menjadi senyum hangat selama sosok Eunar mendampinginya. "Tolong lindungi aku, Pangeran Eunar Daphariel."

"Aku juga akan mulai berhenti mengandalkan sihirku," lelaki itu tersenyum sama hangatnya seperti Meia.

👑

My Prince of OZCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang