"Terlihat buruk bukan berarti dia benar-benar buruk."
_
_____
Laki-laki itu berdecak kesal ketika melihat adik perempuan satu-satu nya yang kini masih asik bergelung di bawah selimut. Kevan, pria itu terheran-heran dengan adik satu nya ini, padahal sinar matahari sudah menyorot tepat ke wajah gadis itu tapi sampai sekarang ini masih tak ada tanda-tanda jika gadis itu akan bangun.
Tapi tak lama sebuah senyum penuh arti terbit dari bibir Laki-laki itu, ia segera berjalan ke arah nakas dan meraih jam weker di atasnya. Dengan bibir yang masih menampilkan senyum tipisnya, laki-laki itu dengan cekatan mengatur jam weker nya agar mau berbunyi sekarang.
Kring kring kringggg
Kevan tersenyum puas ketika jam weker yang ia sabotase tadi sudah berbunyi dan juga mata yang sedari tadi masih terpejam kini sontak terbuka lebar.
"HUWAAA MAMI! MATIIN JAM WEKER NYAAA!" Teriak Valle dengan badan yang sudah terduduk serta kedua tangan yang kini sudah menutup rapat kedua telinganya.
"Bang! Matiin alarm nya!" Sahut wanita paruh baya yang masih terlihat muda itu dengan nafas yang masih tersenggal senggal.
Kevan yang tadi sempat terbahak itu dengan sigap langsung mematikan jam weker yang masih di peganganya dengan bibir yang menampilkan cengiran khas nya.
"Udah nih." Ucapnya dengan tangan yang menunjukan jam weker yang sudah mati itu, "Gitu aja takut." Lanjutnya yang langsung mendapat pelototan sinis dari adiknya.
Riri--Mami mereka menatap heran ke arah anak gadis nya yang kini masih sibuk menutup kedua telinganya, ia tahu jika gadis nya itu paling tak suka dengan bunyi alarm dan karena apa? Riri sendiri juga tak tahu.
Ia tampak menghela nafasnya sebentar lalu berkacak pinggang, "Kamu juga! Anak gadis bukannya bangun pagi malah jam segini masih molor. Nggak malu sama anak ayam tetangga?" Omel nya yang hanya di cengiri oleh gadis bermuka bantal itu.
"Mandi sana!" Seru Kevan dengan bibir yang bergoyang menahan tawa.
Valle mendengus kesal, "Iya," lesu Valle.
"Lagian juga kenapa Valle harus malu coba Mi? Valle kan gini-gini juga rajin mandi, nggak kaya anak ayam punya tetangga yang selalu Mami banggain itu, emang pernah tuh ayam mandi?" Sambungnya.
Laki-laki itu berdecak, "Wah malah ngejawab nih Mi." Kompor Kevan yang membuat Valle melotot kesal ke arah nya.
Melihat mata sang Mami yang sudah hampir keluar itu membuat Valle dengan sigap berlari ke arah kamar mandi yang berada satu ruang dengan kamarnya. Sedangkan Riri yang melihat itu hanya mendengus geli, kemudian menarik lengan baju Kevan keluar dari kamar anak gadis nya.
Hanya butuh waktu 5 menit bagi Valle untuk berkonser ria di dalam kamar mandi, dan sekarang gadis itu tengah sibuk mempoles wajahnya dengan bedak tipis serta sedikit liptint di bibirnya agar tidak terlihat pucat.
Riri maupun Kevan yang kini sudah duduk di meja makan itu kompak menghela nafas ketika melihat Valle turun dengan model ala-ala nya. Seragam tanpa dasi yang di keluarkan, lengan baju yang di lipat, rok span 5 cm di atas lutut, sepatu berwarna pink dengan kaus kaki senada serta tas tipis yang kemungkinan besar hanya berisi satu pulpen macet dan buku tipis yang sudah di pastikan berabad abad menghuni tas tipis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Enemy (TERBIT & TERSEDIA DI DREAME)
Teen FictionBagimana rasanya jika secara tiba-tiba kalian di jodohkan dengan si ketos dingin yang setiap hari selalu menggagalkan aksi membolosmu? Bagaimana rasanya jika secara tiba-tiba kalian di jodohkan dengan si pembuat onar super cerewet yang kerjannya sel...
