Ekhemmm/
😂
Gadis itu melangkah kan kakinya cepat ke arah Appartemen miliknya dengan Lia juga Sisi yang sedari tadi mengekor di belakangnya dengan pertanyaan-pertanyaan tak paham yang bermunculan di kepalanya. Pertanyaan tak paham yang jawabannya bisa membuat gadis di depan mereka itu mengajaknya pulang segera dan melangkah panik ke Appartemen nya.
Melihat pintu Appartemen yang tak terkunci itu membuat rasa panik nya semakin menjadi, ia segera melangkah ke dalam, dan saat itu juga Reno juga Bembi yang tengah duduk gelisah di sofa depan televisi itu berdiri lega.
"Astaga Val, akhirnya Lo pulang juga." lega Bembi yang diangguki setuju oleh Reno.
Kening gadis itu berkerut tak paham, "keo?"
"Di dalem, dia dari tadi gue kunci gegara ngamuk nggak jelas." jawab Reno.
Valle mengangguk, "Kenapa bisa mabuk? Bukannya tadi dia bilang ada rapat Osis?"
Bembi mengangguk, "Soal rapat Osis, dia nggak bohong, soalnya gue juga masih di sekolah waktu dia rapat."
Gadis itu menatap keduanya bergantian, "Ya terus, kenapa dia pulang mabuk gitu?"
"Dia bisa pulang juga karena kita berdua jemput Val, tadi ada yang ngabarin gue kalo tuh anak teler di tempat nggak bermutu itu." sahut Reno yang diangguki oleh Bembi.
Valle, gadis itu menghela nafasnya dalam dengan mata yang kembali menatap kedua laki-laki di depannya, "Koala biar gue aja yang ngurus, lo berdua balik aja gih, ajak Lia sama Sisi juga."
"Seriusan?" tak percaya Bembi.
Ia mengagguk, "Iya, btw makasih ya."
"Iya elahh, dia temen kita juga kali." sahut Reno terkekeh, "Yaudah, kita balik ye? Kalo tuh anak masih ngamuk, gepok aja kepalanya pake pintu Appartemen." sambungnya.
Valle menggeleng seraya terkekeh pelan, kemudian mengunci pintu ketika mereka sudah menginjakan kakinya keluar dari pintu Appartemen nya.
Gadis itu menatap pintu kamar dengan helaan nafas panjang nya, dan sosok Keo yang tengah memeluk lutut lah yang pertama kali ia lihat ketika pintu di depannya ia buka.
Koala kenapa?
Gadis itu heran? Sudah pasti. Lagian siapa yang tak heran coba? Ia yang biasanya melihat laki-laki itu rapi dan juga anti dengan hal-hal seperti itu tiba-tiba melihat sosok Keo yang sudah mabuk-mabukan tak jelas hingga tak sadar seperti itu.
Ia melangkah mendekat, menepuk bahunya seraya menggumam, "Woy, Kanebo kering!" Serunya berbisik, takut-takut jika Keo dengar, ia akan diamuk seperti apa yang Reno juga Bembi bilang tadi.
Mendengar sesuatu membuat Keo mendongak, ia menghapus pelan benda cair di pipinya. Berbeda dengan Valle yang justru melotot kaget, 'Kanebo nangis?!' Histeris nya dalam hati.
"L-lo, kenapa?" tanya nya mencoba memberanikan.
"C-caa," panggilnya serak seraya bangkit, membuat gadis itu refleks memundur ke arah tembok.
"Lo kenapa jadi gini sih Ke? Kenapa jadi tukang mabuk? Lo ada masalah? Cerita ke gue, jangan lo mabuk nggak jelas kaya gini." cerocosnya panjang lebar.
"Kenapa dia balik lagi, Ca? Kenapa?" lirihnya sayu.
"Siapa yang balik lagi?" tanya nya seraya mendorong dada Keo yang semakin menghimpit nya ke tembok.
Keo terkekeh miris, "Kenapa dia balik lagi setelah gue udah buka hati buat orang lain?"
"Kenapa dia balik lagi setelah hampir tiga tahun ngilang gitu aja?"
"Apa dia nggak punya hati?"
Mendengar racauan Keo membuat kening gadis itu berkerut tak paham, dia? Dia siapa yang Keo maksud? Dan lanturan laki-laki itu membuat Valle semakin bingung.
Satu tangannya yang mengepal ia tinjukan ke tembok tepat samping Valle berdiri, membuat gadis itu memejamkan matanya erat.
"Arghh! Dia nggak punya hati, Ca." racaunya lagi.
"Dia siapa? Siapa yang lo maksud nggak punya hati?" tanya nya yang kekepoannya sudah melebihi batas maksimal.
"Dia,"
Sudah cukup! Gadis itu sudah pusing sendiri mendengar racauan kata 'Dia' milik Keo, 'Orang mabuk emang nggak bisa diajak ngobrol.' Batinnya.
"Eca," racaunya memanggil.
Gadis itu mendongak, dan saat itu juga bibir nya menempel dengan bibir milik Keo. Matanya membulat ketika laki-laki di depannya ini menggerakkan bibir nya membentuk lumatan.
Ia mendorong nya sekuat tenaga, memukuli dada laki-laki itu seraya berteriak, "Stop!" yang sama sekali tak membuat Keo berhenti.
"Gue benci dia." Ucap Keo tanpa melepas bibirnya dari bibir Valle.
Ia kembali memukuli dada bidang Keo, mendorongnya sekuat tenaga hingga pagutan bibirnya terlepas. Ia menyeka air mata nya yang entah turun sejak kapan.
"Gue tahu Lo benci sama dia, Keo! Tapi bukan gini caranya. Gue bukan dia yang lo maksud, jadi please jangan lampiasin semua itu ke gue." lirihnya dengan mata yang menatap mata sayu laki-laki di depannya itu.
Laki-laki itu terkekeh seraya menggeleng pelan, lalu mendorong tubuh Valle hingga jatuh ke atas kasur tanpa menggubris pekikan gadis itu, "Gue tahu, Ca." kekehnya.
"Minggir!" teriak gadis itu dengan tangan yang sudah meronta di bawah kukungan Keo.
Lagi-lagi Keo tak menggubrisnya, laki-laki itu justru menyembunyikan kepalanya di leher Valle, menghirup dalam aroma melon pada gadis itu.
"Arghh!" mata gadis itu melotot, ia kembali memukuli bahkan menjambak rambut Keo ketika Laki-laki itu menggigiti kecil lehernya.
"Stop!! Apa yang lo lakuin ke gue?!" Teriaknya masih sambil mencoba mendorong tubuh vano.
Laki-laki itu menahan tangan Valle yang memukuli dadanya seraya berucap, "Gue benci dia." racaunya dengan tangan satu lagi yang sudah berpindah kemana-mana.
"Gue juga bakal benci sama lo, kalo sampai lo lakuin itu ke gue." Lirihnya, karena percuma melawan jika tenaganya saja tak akan bisa membuat Keo berhenti.
"Hiks,"
Tobecontinue yaaa:)
Maap kalo selalu garing_-
Dan jujur, aing rada geli nulis bagian ini. Ada yang geli juga kaga?
Tapi yaa gimana lagiii yekann;/
Tebak siapa yang nangis?
Kalo ada yang bener besok apdet lahh_--
Yaudinlahyaw eaakjj/
Jan lupa Voment nyaa aja uki¿
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With Enemy (TERBIT & TERSEDIA DI DREAME)
Teen FictionBagimana rasanya jika secara tiba-tiba kalian di jodohkan dengan si ketos dingin yang setiap hari selalu menggagalkan aksi membolosmu? Bagaimana rasanya jika secara tiba-tiba kalian di jodohkan dengan si pembuat onar super cerewet yang kerjannya sel...
