"Makasih ya kak. Udah dianterin pulang lagi. Maaf aku selalu ngerepotin kak Rafa."
"Sama-sama Lala. Kenapa masih sungkan aja sih sama aku?"
"..."
"Ya udah, kamu sekarang masuk aja terus istirahat ya. Atau mau aku temenin di rumah kamu? Kan gak ada orang, kalo kamu kenapa-napa lagi gimana?"
"Eh gak usah kak. Di rumah ada bibi, lagian aku udah gapapa kok. Kak Rafa pulang aja! Makasih kak."
"Oke deh kalo gitu. Tapi ntar kalo ada apa-apa jangan ragu buat kabarin aku ya La!"
"Iya kak."
"Aku balik dulu. Cepet sembuh ya La!"
Rafa kembali ke rumahnya setelah mengantar Lala pulang. Sesampainya di depan pintu rumah, Rafa dibuat penasaran dengan sebuah kotak yang tergeletak di lantai. Ia pun mengangkat kotak itu dan berniat membukanya di kamar. Ia sangat penasaran dan bertanya-tanya apa isi kotak itu.
Begitu sampai di kamarnya, Rafa langsung membuka kotak itu. Ia terkejut begitu mengetahui isinya. Di dalam kotak itu terdapat foto-foto Rafa bersama Amel dan beberapa benda kenangan yang dulu pernah Rafa berikan kepada Amel.
"Kenapa Amel balikin ini ke aku? Apa dia bener-bener pengin lupain aku? Tapi kan aku sama dia belum ada kata putus." Rafa bergumam sendiri.
Rafa berusaha menghubungi Amel lewat ponselnya. Namun, Amel tak kunjung meresponnya. Beberapa menit kemudian, muncul notifikasi di ponsel Rafa. Ternyata itu pesan dari Amel.
Amel
"Raf? Temuin aku di tempat dulu pertama kali kamu ajak aku jalan. Itu pun kalo kamu masih inget tempat itu."
Rafa bergegas pergi ke tempat yang dimaksud Amel. Sebuah jembatan di dekat taman, di mana di bawah jembatan itu mengalir sungai yang indah. Rafa mendapati Amel yang sudah menunggunya di sana.
"Ternyata kamu masih inget tempat ini ya? Aku pikir kamu udah lupain semuanya."
"Mel, maksud kamu apa? To the point aja. Kenapa kamu balikin semua benda di kotak itu ke aku dan kenapa kamu minta kita ketemu di sini sekarang?"
"Aku cuma punya pertanyaan buat kamu Raf. Sebenernya hubungan kita sekarang ini kayak gimana? Aku masih pacar kamu gak sih?"
"Memang kapan kita pernah bilang mau putus Mel?"
"Tapi ini semua bener-bener gak jelas buat aku Raf."
"Mel, masalah kita sekarang cuma terjadi karena ego kita masing-masing."
"Atau mungkin kamu ngerasa kita emang udah gak cocok?"
"Maksud kamu?"
"Mungkin kamu mulai suka sama cewek lain?"
"Kamu ngomong apa sih? Siapa yang kamu maksud? Aku gak ada apa-apa sama Lala."
"Nah, aku bahkan gak bilang itu Lala. Tapi kamu sendiri langsung mikir soal Lala. Gimana kamu mau jelasin ini?"
Rafa mendadak tak bisa berkata apa pun. Ekspresinya kini sudah berubah jadi agak panik.
"Raf? Sekarang kamu diem?"
"Mel, sekarang terserah kamu. Aku gak suka kamu bersikap kekanakkan kayak gini. Gak ada gunanya kamu cemburu sama Lala."
"Oh ya? Jadi menurut kamu aku yang salah di sini."
"Amel cukup! Aku gak tau lagi sekarang harus gimana sama kamu. Aku dateng ke sini karena aku masih ngehargain kamu dan mau perbaikin semuanya sama kamu. Tapi kalo kayak gini, yah. Aku gak ngerti lagi Mel. Biar takdir yang nunjukkin akan ke mana arah hubungan kita."
"Rafa!!"
Rafa pergi begitu saja meninggalkan Amel. Rasanya ia benar-benar frustrasi sekarang. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri.
Malam itu Rafa merebahkan diri di kasurnya. Matanya masih belum bisa terpejam. Entah kenapa ia jadi teringat dengan Lala. Rafa pun mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia mencari kontak seseorang dan menekan tombol panggilnya.
"Halo kak."
"La, kamu belum tidur?"
"Belum kak. Kak Rafa kenapa telepon aku malem-malem gini?"
"Eh gapapa kok La. Aku-aku cuma mau ngingetin kalo besok aku mau adain rapat buat bahas acara dies natalis sekolah, sekalian mau pasti-in keadaan kamu sekarang."
"Oh iya kak, aku pasti dateng besok."
"Hmm La, kalo memang masih sakit gak usah dipaksain dateng ya La. Kamu istirahat aja."
"Kak Rafa, sekarang aku udah gapapa kok."
"Syukurlah kalo gitu."
"Iya kak."
"Kamu lagi apa? Kok belum tidur?"
"Lah ini kan lagi teleponan sama kak Rafa."
"Bukan itu La. Maksud aku sebelumnya, sebelum aku hubungin kamu."
"Oh, gak kak. Aku cuma lagi baca novel. Hehe."
"Kamu suka banget baca novel ya?"
"Iya kak."
"Kapan-kapan kita ke toko buku bareng lagi yaa! Kita explore buku-buku keluaran terbaru. Aku juga suka baca cerita fiksi kok."
"Oke kak!"
"Ya udah, kamu istirahat aja, udah malem. Lanjut besok aja baca novelnya."
"Iya deh kak."
"Sipp, sampe ketemu besok ya. Aku tutup dulu. Bye Lala."
"Daa kak Rafa."
Lala merasa aneh. Ia heran mengapa Rafa meneleponnya malam-malam hanya untuk mengingatkannya soal rapat besok. Apa Rafa benar-benar mengkhawatirkan keadaannya. Masih bingung dengan pikirannya, Lala dikejutkan dengan notifikasi pesan dari Rafa.
Kak Rafa
"Lala, besok aku jemput kamu ya! Kita berangkat bareng ke tempat rapat. Oke??" 😉
Lala memutuskan untuk tidak membalas pesan dari Rafa. Ia sedang sibuk menstabilkan detak jantungnya yang makin cepat. Tunggu saja sampai besok, apa Rafa benar-benar akan datang menjemputnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Romantika Anak OSIS
Novela Juvenil[ SUDAH TERBIT ] Ketika organisasi menjadi awal kisah cinta para remaja SMA. *** Terjadi kisah percintaan yang rumit di OSIS SMA Pertiwi. Mila Angela yang kerap disapa Lala menyukai si ketua OSIS yang sekaligus seniornya--Rafa Aditya sejak pertama k...
