"Apa saja yang diberikan oleh orang tua mu selama kau berkuliah disini?" tanya Rancell. Mereka baru saja sampai didepan gedung kampus. Terlihat beberapa mahasiswa lainnya yang berlalu-lalang disekitarnya. Aimee yang baru saja mengambil ponselnya didalam tas, menoleh saat mendengar pertanyaan pria blasteran tersebut.
"Hmm, apartemen? Mereka bilang apartemen itu milik mereka, jadi aku tidak perlu mencari tempat tinggal lagi," jawab Aimee. Rancell mengangguk, sudah jelas mereka tidak punya, tetapi beralasan seperti itu agar bisa menjamin hidupmu aman dan mereka bisa mengawasimu, batin Rancell. "Lalu, apa lagi?"
"Mobil. Sebenarnya aku ingin mengajakmu menggunakan mobil, kebetulan kau kan bisa bawa mobil, tetapi aku tidak bisa. Hanya saja, aku ingin mencoba menggunakan transportasi umum dahulu untuk saat ini. Beradaptasi," jawabnya sambil tertawa. Rancell pun langsung menjitak kepala Aimee. "Giliran memanfaatkan orang, kau nomor satu," cibirnya. Aimee kembali tertawa.
Rancell kembali memikirkan nasib gadis ini. Mobil terlalu mencolok untuk seorang gadis yang tinggal sendirian untuk berkuliah. Apartemennya sendiri pun sudah cukup mewah. Sangat mencolok jika seorang gadis kuliahan tinggal di komplek apartemen seperti itu sendirian. Rancell mengkhawatirkan pendapat teman-teman baru nya nanti jika tahu bahwa gadis ini memiliki ekonomi yang "sangat sangat berkecukupan" dan tinggal sendiri dengan semua pemberian orang tua nya yang tak ada habisnya itu, ia akan dimanfaatkan. Sudah cukup banyak pengalaman sosial yang ia dapatkan sejak berpisah dari gadis ini, dan gadis ini belum mendapatkan pengalaman itu sama sekali.
"Rancell? Kau melamunkan apa?" tanya Aimee menyadarkan Rancell, karena mereka baru saja sampai didepan kelas. Rancell langsung tersadar. "Ah, tidak. Aku tidak melamunkan apapun. Oh iya, jika kau mau, aku akan pindah apartemen saja ke gedung apartemen yang sama denganmu. Kau sendirian kan? Aku bisa memesan disamping kamarmu," tawar Rancell.
Aimee kemudian terdiam, memikirkan tawaran Rancell. "Ternyata kau peka juga. Kenapa tidak dari kemarin?" tanya Aimee dengan polosnya.
Rancell pun memutar bola matanya. "Kita baru saja bertemu kemarin, Jeon Aimee," balasnya pendek.
Aimee pun terkekeh. Memang asik mengerjai Rancell. "Ya sudah, mungkin nanti aku akan mengabari adikmu, Jeon Junoo. Tenang saja, dia tidak akan melapor pada orang tuamu. Justru jika mereka tau bahwa aku tinggal dekat denganmu, mereka akan mendukungku, untuk mengawasimu kemudian melaporkan semua tentangmu ke mereka," jelas Rancell jahil. Aimee dengan cepat langsung menendang kaki Rancell,
"Argh!" teriak Rancell, kemudian Aimee bergegas masuk ke dalam kelas.
"Hei, kau kenapa?" tanya Darvys dengan cepat menghampiri Rancell yang tengah meringis. "Tak apa, biasa, si Ratu Sadis itu menendangku," jelasnya masih sambil meringis.
Darvys langsung tertawa, "Sepagi ini? Kau jahili apa dia?" tanyanya masih tertawa. Rancell hanya menggeleng lalu masuk kedalam kelas bersama Darvys.
***
"Darvysssss!!!" seru Aimee memanggil Darvys saat mata kuliah baru saja berakhir. Yang dipanggil pun langsung menoleh kaget sambil memegang dada, tak menyangka gadis ini sampai berteriak memanggilnya.
"Kenapa? Mengapa kau berteriak? Aku hanya berjarak 1 meja disamping Rancell. Dan kau tepat disampingnya," tanyanya heran, lalu memasukan semua peralatan kuliahnya kedalam tas. Gadis itu terkekeh.
"Apakah kau senggang? Bisa temani aku ke kantin? Aku ingin makan," ajaknya. Darvys mengangkat alis. "Bukannya ada Rancell?"
Rancell melirik ke arah Aimee. Gadis itu hanya meliriknya sekilas, lalu menyilangkan tangannya. "Aku sedang bosan makan dengannya. Sejak dulu, aku selalu makan dengannya. Aku ingin suasana baru," jelasnya. Mata Rancell pun membelalak.
"Kau ini.. Ya sudah terserah kau saja," pasrah Rancell, lalu menenteng tas nya keluar kelas. Darvys dan Aimee hanya terkekeh lalu mengikutinya.
Sesampainya di kantin, terlihat Rancell yang sedang memesan ramen pedas kesukaannya, lalu memgambil tempat duduk. Menyusul Aimee yang membawa Chicken Katsu dan Darvys yang membawa Mie Udon.
"Kau, serius ingin pindah satu gedung apartemen denganku?" tanya Aimee kemudian. Rancell masih sibuk mengunyah, lalu Darvys menoleh. "He? Rancell ingin tinggal bersama di apartemenmu?" tanya Darvys kaget.
"Uhuk! Uhuk!" Rancell tersedak.
Aimee memutar bola matanya. "Kau tidak mendengar dengan jelas, apa kalimatku tadi? Satu gedung apartemen, bukan satu kamar apartemen," perjelas Aimee dengan penekanan di setiap katanya.
Dengan cepat, Rancell menegak air minumnya yang ia beli tadi. Lalu menepuk-nepuk dadanya. "Kalian ini.." geramnya.
Darvys dengan cepat menyatukan tangannya, meminta maaf. "Maafkan aku, aku tak mendengar dengan jelas tadi karena masih mengunyah, hehe. Tapi kenapa?" tanyanya, lalu menyeruput kuah Mie Udon miliknya.
"Aku tak mau melihatnya mempermalukan dirinya sendiri lebih banyak jika ia tinggal sendiri di tempat seperti itu. Sudah cukup banyak bagian dari dirinya yang tak tahu malu seperti itu. Jadi aku memutuskan untuk tinggal di satu gedung dengannya, agar bisa menutupi aib gadis ini," jelas Rancell. Aimee langsung melotot, masih dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Kau!" serunya sambil menyemburkan beberapa bulir nasi dari dalam mulutnya. Darvys dengan sigap menjauh.
"Oh, seperti ini?" tanyanya lagi. Rancell mengangguk mantap. Gadis itu semakin melotot, lalu dengan cepat mengunyah makanannya.
Darvys kemudian memakan Mie Udonnya, lalu mengangguk. "Baiklah, kalau begitu, aku juga ikut," ujarnya. Rancell dan Aimee langsung menoleh cepat kearah pemuda tersebut.
"Karena kalian juga sama-sama tak tahu malu, dan hanya aku yang normal, jadi aku juga akan menutupi aib kalian berdua. Oke? Oke," jawabnya singkat tanpa benar-benar meminta persetujuan dari keduanya.
***
"Minggu depan, aku dan Darvys sudah bisa menempati apartemen ini. Aku ada di kamar apartemen nomor 1012, kamar kau sendiri sekarang di nomor 1014, dan kamar Darvys di 1018. Cukup dekat kan?" jelas Rancell ke Aimee.
Gadis itu mengangguk senang.
"3 hari lagi, aku dan Rancell akan mulai membereskan barang-barang kami. Dan kau, harus membantu. Siapkan makanan. Oke?" perintah Darvys ke gadis itu. Gadis tersebut membelalak.
"Hah? Aku juga ikut membantu? Sedangkan yang sedang pindahan kan kalian? Tidak tidak, aku tidak akan ikut. Sudah, aku mau masuk ke apartemenku. Bye, teman-teman," protes Aimee lalu dengan cepat hendak kabur. Namun, dengan sigap juga, kedua teman lelakinya itu menangkap lengan kecil gadis itu.
"Tidak ada penolakan." ujar keduanya sambil memberikan senyun terbaik mereka. Aimee langsung merasa lemas.
"Kalian berdua penjahat," sebalnya. Rancell dan Darvys menggeleng tak peduli. "Apa gunanya teman?" ujar Rancell.
"Untuk dimanfaatkan," lanjut Darvys lagi, lalu terbahak dengan Rancell. Aimee dengan kesalnya menjitak kedua kepala temannya itu.
"Kau, Darvys, ternyata seperti ini wujud aslimu, ya. Oke, aku tak akan segan untuk menendangmu juga lain kali," ungkapnya. Darvys hanya tertawa renyah. Lalu mencolek bahu gadis tersebut, yang dibalas serangan pukulan oleh Aimee.
Rancell yang melihatnya pun senang. Tak menyangka gadis ini akan cepat memiliki teman baru.
"Semoga saja ia akan selalu mendapat teman yang baik selama disini," harapnya dalam hati, walaupun didalam pikirannya, ia terbayang, teman terbaik gadis ini yang akhirnya mengkhianati gadis ini sendiri, Kim Jevan.
KAMU SEDANG MEMBACA
as your remedy [KSJ]
Fanfictionwhen the stranger that you didn't know before, was being your one and only remedy until you know who is he.. Kim Seokjin FF
![as your remedy [KSJ]](https://img.wattpad.com/cover/187869882-64-k676685.jpg)