3: never want to know

10 3 1
                                        

"Ya! Kim Jevan!" teriak seorang wanita dengan keras, sambil berusaha mengejar seseorang yang ia serukan namanya. Pemuda itu tak bergeming. Ia tetap terus berjalan, semakin cepat, dan semakin cepat.

"Apa kau akan terus seperti ini? Maafkan aku!" seru wanita itu lagi. Pemuda tersebut pun geram, lalu membalikkan badannya. "Lalu menurutmu?! Kau membuatku menjauhi teman-temanku, dan kau juga yang membuatku kehilangan mereka. Kau pikir aku rela kehilangan mereka karena apa? Hah? Sudah jelas karena kau!" seru pemuda itu dengan penuh emosi.

"Tapi aku tak bermaksud seperti itu!" jelas gadis bersurai merah gelap itu, dengan kedua tangannya yang berserah pasrah. Rasanya dunia seperti menghujaninya dengan pedang. Sungguh sakit. Laki-laki itu tidak mempercayainya.

"Tak bermaksud? Kau bilang kau tidak bermaksud? Hahaha.. Sudahlah. Aku pergi. Dan aku tak mau bertemu lagi denganmu," jelas laki-laki bermarga Kim itu sambil meninggalkan wanita itu, dengan membawa koper dan tasnya. Sudah cukup ia berada disini. Ia muak.

"Jevan! Kim Jevan! Tolong, hanya kau yang aku punya! Jevan!!" teriaknya histeris. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak membalikkan badannya. Dan sama sekali tidak pernah balik lagi.

***

Drrt drrt Drrt drrt

Ponsel Aimee bergetar saat tangannya baru saja berpindah tangan keatas ponsel itu. Ia pun terbangun, lalu melihat ada seseorang yang menelfonnya.  "Hallo?" jawabnya parau.

"Hallo, nona manis. Ini aku, Rancell. Kau sudah bangun kan? Lebih baik sekarang kau bukakan aku pintu kamarmu. Aku membawakan bubur untukmu," pinta suara dibalik ponsel tersebut. Aimee lalu melihat sekitarnya, "eh? Aku sudah ada dikamar?" batinnya kebingungan.

Aimee pun dengan linglung terbangun lalu berjalan untuk membuka pintu apartemennya, lalu melihat Rancell tengah berdiri, lengkap dengan tas ransel dan tas kresek berwarna hitam.

"Bagaimana bisa kau tahu dimana apartemenku? Dan bagaimana bisa kau tahu nomor telfonku? Apakah kau.. Stalker?!" serunya kaget, dengan secepat kilat ia menjauhi Rancell.

Rancell hanya bisa memutarkan bola matanya. Sepertinya gadis ini benar-benar mabuk berat tadi malam sampai tidak ingat siapa yang membawa dirinya bisa pulang dengan selamat sampai apartemennya.

"Aku dan Darvys yang membawamu pulang. Kau sendiri yang menunjukkan apartemenmu. Aku juga sengaja menukarkan nomor telfonmu dengan nomorku tadi malam, untuk berjaga-jaga jika kau kenapa-kenapa. Aku tidak mau menanggung beban amarah dari kedua orang tuamu jika mereka tahu bahwa aku juga ada disini, dan aku sama sekali tidak mengawasimu," jelasnya panjang lebar.

Aimee langsung memasang muka cemberut. "Sebenarnya kau ini ada dipihak siapa sih? Dipihakku atau orang tuaku?" tanyanya sambil menaikkan intonasinya sedikit. Rancell sedikit tertawa. "Sudah jelas aku dipihakmu. Jika tidak, aku sudah melapor ke orang tuamu tentang apa yang kau lakukan tadi malam," akunya menggoda Aimee. Dengan sigap, Aimee langsung menendang kaki pemuda jenjang tersebut.

Rancell pun masuk ke dalam apartemen Aimee, lalu menuju dapur apartemen milik gadis tersebut. Sudah ia duga, tidak mungkin orang tua gadis ini membiarkan anak gadisnya berjuang mandiri dengan sendirinya, sampai membelikan anaknya apartemen mahal seperti ini. Sungguh merepotkan sekali orang tua seperti itu.

"Lebih baik kau cepat bersiap-siap. Aku tak mau telat masuk kelas karena kau yang lambat seperti itu," perintahnya sambil memanaskan bubur yang ia beli tadi. Bubur tersebut ia beli jam 7 pagi tadi didekat apartemennya, karena jarak apartemen miliknya dan apartemen gadis ini lumayan jauh, dan saat ini sudah menunjukkan pukul setengah 8 pagi, bubur itu pun sudah dingin. Oleh karena itu ia ingin memanaskannya untuk gadis itu.

Aimee yang mendengar seruan Rancell, hanya bisa menggerutu tak jelas. Dengan cepat ia bersiap-siap mandi dan berpakaian. Rancell yang sedang menunggu bubur yang ia panaskan, segera mengambil ponselnya dari dalam kantong celana jeansnya, lalu mencari kontak milik Darvys untuk menelfonnya. Tak lama, terdengan suara seseorang disebrang telfon miliknya.

"Darvys? Kau sedang ada dimana sekarang?" tanyanya.

"Aku sedang berada di apartemenku. Mungkin sebentar lagi aku akan berangkat. Ada butuh sesuatu?"

"Oh tidak tidak. Aku hanya ingin bilang bahwa saat ini aku sedang bersama Aimee. Kurasa anak itu benar-benar mabuk berat. Ia tidak ingat bahwa kita membawa dia pulang semalam," jelas Rancell.

Kemudian terdengar suara tertawa dari sebrang.
"Benarkah? Apa kau membawa sesuatu untuk meredakan efek mabuknya? Kurasa Aimee akan merasakan pusing nanti dikelas," tanya Darvys khawatir.

"Aku sudah membawakan bubur untuknya. Semoga saja efek nya bisa berkurang nanti. Anak itu sama sekali tidak ingat bahwa ia harus kuliah hari ini," racau Rancell frustasi.

"Haruskah aku membawa sesuatu lagi untuknya?" tanya Darvys lagi menawarkan.

"Tidak perlu. Nanti saja, biarkan dia merasakan tidak enaknya mabuk saat berada di jam kuliah," ungkap Rancell jahil, dan ia tak menyadari bahwa Aimee sudah ada dibelakangnya. Dengan sigap, Aimee langsung memukul kepala belakang Rancell.

"Argh!" teriak Rancell mengaduh kesakitan sambil memegang kepala belakangnya. "Hei, Rancell! Kau kenapa?!" tanya Darvys khawatir.

"Bisa tidak, kau berperikemanusiaan sedikit saja ke temanmu ini? Dasar tidak punya hati!" omel Aimee, lalu berjalan mengarah ke kompor, mematikan kompor dan kemudian menuangkan bubur yang sudah hangat didalam panci kedalam mangkuk yang sudah ia siapkan sebelumnya.

Rancell menatap Aimee dengan penuh kesal, lalu menempelkan lagi ponselnya ke telinga. "Tidak, barusan Aimee baru saja memukul kepalaku. Ya sudah, sampai bertemu di kelas," jelas Rancell lalu mematikan sambungan. Kemudian ia langsung melihat kearah gadis bermanik coklat hazel yang sedang asik memakan buburnya.

"Dan bisa tidak, kau memperlakukanku sedikit lebih halus?" tanya Rancell dengan muka datar.
Gadis itu hanya cuek sambil lanjut menyantap buburnya.

Rancell kemudian melirik ke arah Aimee, lalu berdeham, "Apakah kau masih kecewa dengan 'cowok' itu, Aimee?" tanyanya. Aimee yang mendengar itu langsung menghentikan aktifitasnya, kemudian menaruh mangkuk bubur yang ia pegang diatas meja. Lalu melewati Rancell tanpa melirik sedikitpun.

"Aku tak tahu maksudmu siapa," jawabnya dingin. Lalu dengan sigap mengambil tas dan ponselnya, dan berhenti sejenak.

"Ayo, berangkat. Kau mau kita telat masuk kelas?" ajak nya singkat. Kemudian berjalan keluar. Rancell yang melihat gerak-gerik gadis itu, langsung menghela napas, dan ikut keluar dari apartemen gadis itu untuk berangkat kuliah.

as your remedy [KSJ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang