Nikmat memang, walau itu hanya nafsu belaka tapi tak pa lah. Sudah barang kebiasaan buatku menjadi tabiat yang menyebalkan. Niat awal untuk menyapa, pasti terurung, ntah itu sengaja atau tipu daya belaka. Sebatas senyum tulus yang bisa ku basuh untuk nya, dibumbui sedikit mesra walau tak menggoda.
Menuju dapur, menuju bak mandi, menuju tempat yang mesti terpendam. Komat kamit sedikit menambah ceria terang itu.
Satu hal yang ganjil, bukan genap, bukan bilangan prima, ku kutip sedikit matematika. Dia selalu mampir, mimpiku, sasaran nikmat buat melepas rantai yang mengikat separuh jasmani, seperempat jasadnya. Walau setiap pagi tak sedikit pun berbekas di wajah ku.
Air mengucur, aroma basah telah melucuti setiap pori pori nyawa. Kantuk masih sedikit melekat pada otot mataku, tapi biarlah yang penting sudah mencoba. Semalam kubiarkan pikiran ku hanyut, dalam melodi, kata, dan asap. Tak henti henti sel otak kala itu tumpul harus ku gunakan. Karna layaknya sungai, kerja keras belum perlu diusahakan. Antara satu menjadi dua ditambah 3, isi surat yang dia kirim lewat pos malam yang selalu berputar dalam bejana kepala ku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Simpul Baju
AdventureKetika suatu yang telah lekat selama ini harus lepas. Ketika takdir yang telah terjadi harus di ulang agar baik kembali. "Sampai Jumpa di lain masa", ujarnya