Prolog

252 14 4
                                    

Aku menghisap rokokku untuk kedua kalinya, sudah dua batang rokok ku habiskan. Tapi aku tak ingin berhenti, semua ini membuatku bahagia.

Drugs and free

Itulah hidupku, aku senang menjalaninya, meski aku tahu ini bukan aku yang sebenarnya. Tapi sudahlah, aku tak ingin lagi menjadi diriku yang dulu. Aku bukan Sheren lagi, panggil aku Valerie sekarang.

Seluruh bebanku ikut terbawa bersama hembusan asap yang keluar dari mulut dan hidungku. Ketenangan ini mampu menghangatkanku dari dinginnya udara malam.

Aku menoleh dan menaruh pandanganku pada sebuah album merah yang ada di atas meja. Dengan sebelah tangan, kuambil album itu dan kubuka lembarannya satu-persatu.

Senyum miris langsung terukir di bibirku ketika memandangi foto itu satu persatu. Ketika aku masih berada diantara mereka tanpa perlu terusir keluar.

Dengan sembarangan, kuletakkan lagi album itu di meja. Kubiarkan album itu terbuka lebar dan menggambarkan tiap kenangan yang pernah terukir.

Sekali lagi, aku menghembuskan nafasku di udara. Ketenangan kembali menyelimutiku, bersamaan dengan menguapnya semua kenangan itu dari pikiranku, untuk sekejap.

Mereka selalu menghantui pikiran ku, tak pernah ada sedikitpun niat untuk memaafkan dua insan tersebut.

Benar aku kejam, aku tak bisa mengontrol diriku sendiri. Aku bagaikan toko antagonis di suatu cerita. Dan aku suka itu, aku senang dengan semua perbuatanku, tapi kalian harus tau aku masih memiliki hati. Masih ada rasa iba dalam diriku saat aku melakukan kekejaman pada mereka.

Aku tau aku salah, tapi aku tak bisa berubah. Tak ada yang ingin setia bersama denganku, semua orang hanya memanfaatkan ku, tak ada yang ingin bersungguh-sungguh menjadi teman hidupku.

Aku tersenyum sendiri, tapi ada satu orang yang peduli dengan ku, seseorang yang tak pernah ingin jauh dari ku.

Kusebut dia 'My Savior'

Peace [HS1]Where stories live. Discover now