Part3

51 4 0
                                    

PLAKKK.

Suara itu tersisa menggema didalam ruangan ini. Tanganku terasa panas dan pipinya terlihat memerah. Wajahnya mengarah ke samping karena aku baru saja menamparnya.

Aku Langsung melompat dari ranjang ini dan mendarat dengan mulus di lantai berlapis kayu mahoni. Aku sama sekali tidak perlu merasa bersalah dengan apa yang baru saja kulakukan. Dia pantas menerima itu. Dasar pria tidak sopan, tidak tahu malu.

Tanpa mengucapkan apapun, aku langsung membuka pintu apartemennya, segera keluar dan membanting pintu. Aku langsung masuk ke apartemenku tanpa memedulikan rambut panjangku yang tergerai berantakan, pakaianku yang kusut-tunggu, mengapa pakaianku sudah berganti?

Aku hampir berteriak sebelum menyadari bahwa ini adalah sweater yang ditimpakan pada gaun yang masih kukenakan. Aku menghela nafas lega dan segera masuk ke dalam apartemenku, segera berjalan menuju kamar mandi.

Tapi, siapa yang memakaikan sweater ini? Mataku langsung membulat begitu menyadari tidak ada makhluk lain selain 'dia'. Aku menggeram dan berniat untuk memberi pelajaran kepada pria brengsek itu sepulang sekolah.

Seusai mandi, aku sudah siap dengan seragam dan segera meraih kunci mobilku. Tidak lupa dengan sekotak roti isi yang telah kusiapkan didalam lemari pendingin. Tas sekolahku sudah berada didalam mobil karena aku tidak pernah memindahkannya sekalipun. Isi tas sekolahku hanya empat, yaitu buku tulis, alat tulis, kunci loker, dan dompet.

Jalanan masih gelap karena aku berangkat lebih cepat hari ini. Bahkan jauh lebih cepat. Suasana jalan di pagi buta ini sudah cukup gelap sehingga aku tetap harus mengebut untuk mencapai sekolah sebelum matahari terbit.

Sesampainya di sekolah, aku langsung memarkirkan mobilku dan berjalan menuju lokerku. Aku mengambil sebuah plastik hitam, lem kayu, dan botol saus, kemudian berjalan menuju kelasku.

Suasana kelas masih sangat sepi. Lorong yang biasanya penuh diisi siswa-siswi yang berlalu lalang kini kosong. Aku segera berjalan menuju bangku dan membuka lapisan plastik itu hingga bau tikus yang sudah membusuk tercium. Meski sudah mengenakan masker, bau itu masih tetap tercium dan membuatku ingin muntah.

Setelah meletakkan tikus mati itu didalam lacinya, aku melumuri bangkunya dengan lem. Aku memberikan lem sebanyak dan setebal mungkin agar tidak cepat mengering. Setelahnya, aku menuangkan saus di bawah mejanya hingga botol saus itu kosong.

Setelah semua rencanaku selesai, aku berjalan menuju tempat parkir untuk menunggu di mobilku. Aku membuang sisa botol dan plastik itu ke tong sampah kelas lain yang kulewati. Ujung bibirku tertarik ke atas membayangkan betapa menyenangkannya pagi ini.

*

Aku memasuki kelas agak telat karena sempat tertidur didalam mobil. Dari kejauhan aku bisa melihat kelasku yang ramai dipenuhi siswa-siswi. Bahkan beberapa guru juga terlihat di dalam ruangan.

Aku mendekati kelasku dan nyaris tertawa ketika melihat sisa rok yang menempel di bangkunya. Membayangkan bagian roknya yang hilang saja sudah membuatku harus menahan tawa. Aku tersenyum puas dengan apa yang telah kulakukan, apalagi ketika melihat (...) yang sedang menangis di meja guru.

Tenang saja, Saat ini kau baru menemukan awal dari kejutan selanjutnya.

Aku terkejut ketika lenganku ditarik secara paksa. Aku langsung menoleh dan berteriak meminta dilepaskan, namun orang itu melemparkan tanganku setelah kami tiba di lorong toilet.

"Apa ini semua ulahmu?" tanya dis sambil menahan emosi.

Aku tersenyum sinis sambil membuka bungkus permen karet yang ada di sakuku, memandangku dengan tidak percaya dan menghembuskan nafas kasar. "Sekali lagi kau lakukan ini-"

"Kau bisa menunggu kejutanmu lain waktu. Pagi ini aku terlalu sibuk menyiapkan kejutan untuk murahan itu-"

"Jaga bicaramu!" suaranya naik satu oktaf, dan menyerupai bentakan. "Aku tidak mengerti bagaimana bisa kau memperlakukan sahabatmu seperti ini, dengan tanganmu sendiri. Apa kau masih menyebut dirimu manusia?"

Kalimat yang diucapkannya terasa begitu menusuk. Gigiku bertemu dan tanganku mengepal. Meskipun aku menyukainya, bukan berarti aku akan lemah dihadapannya.

"Kenapa tidak kau tanyakan hal itu pada kekasihmu? Aku yakin ia punya jawaban yang sangat tepat untuk pertanyaanmu." ucapku tak kalah pedas. "Lebih baik sekarang kau cari rok untuk kekasihmu, daripada berurusan denganku."

Aku berjalan menjauhinya yang tidak bergeming dari tempatnya. Aku bisa melihat wajahnya yang memerah menahan amarah. Di ujung lorong, aku berbalik dan melihat dia yang masih tidak bergeming. "Serpihan rok di bangku itu masih bisa dijahit kembali ke roknya. Jika butuh alat jahit, kau bisa mengambilnya dari laciku."

Aku berjalan menuju parkiran dengan bangga. Aku mengemudikan mobilku keluar dari pekarangan sekolah. Satu misi terselesaikan.

Comment nya dan vote^^

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 22, 2015 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Peace [HS1]Where stories live. Discover now