Part 1

152 16 7
                                    

Aku memandang diriku sendiri di depan cermin.

Kucel. Berantakan. Gila.

Tiga hal itu yang kulihat saat memandangi pantulan tubuhku di cermin. Tapi no problem, aku sudah terbiasa dengan hal itu. Dengan cepat kusambar tas sekolahku, dan berjalan keluar dari kamar.

Hal yang pertama kulihat adalah orangtuaku dan adik perempuanku dibawah sana sedang sarapan. Aku merupakan anak dari dua orang yang memiliki harta yang banyak. Tapi bukan itu yang kuinginkan. Tidak sama sekali.

Dengan gontai aku menuruni anak tangga. Saat mencapai anak tangga terakhir, aku dipandang oleh seluruh anggota keluargaku. Keluarga? Tak pernah ku anggap sedikitpun. Aku melanjutkan jalanku sambil mengunyah permen karet yang ada di dalam mulutku.

"Sheren, ayo makan dulu" itu suara mama, tapi aku tak peduli dan melanjutkan jalanku.

PRAK

Suara meja di pukul, aku pun menghentikan langkah ku, sudah kupastikan itu ayahku. Aku mendengar suara langkah kaki di belakang, dan aku menunggu untuk dia datang.

"Sheren hadap papa!" Bentak papa dibelakang ku.
Aku pun membalikkan badan, dan menatapnya dengan santai.

"Mau ngomong apa sih?" Tanya ku sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.

"Kamu dari kecil papa ajarkan sopan santun, tapi engga ngerti juga, mau kamu apa?!" Tanya papa, sambil menunjukkan wajah marahnya.

"Mau gue apa?, mau gue sekarang papa nggak usah ngatur hidup gue lagi, nggak usah sok nasehatin gue lagi!"

Papa sudah mengangkat tangannya, dan aku tahu apa yang akan dilakukan nya, dengan siap aku akan menerimanya.

"Sudah pa, sudah" mama menenangkan papa, sambil menahan tangannya yang hampir mendarat di pipiku. Sial, padahal seru kalo aku di tampar. Aku makin bisa melawannya.

Papa pun menurunkan tangannya kembali, sambil menstabilkan emosinya. Aku pun hanya diam disana, dan memperhatikan dua manusia tersebut. Muak melihat muka mereka, aku pun segera mengambil kunci mobil yang ada di meja yang tidak jauh dariku.

"Oh ya pa, gue pinjem dulu ya mobilnya" kataku cuek dan berlalu pergi dari rumah. Aku tahu mungkin ia sebentar lagi akan kena serangan jantung. Bagus deh, lebih bagus kalau langsung mati.

Aku langsung memasuki mobil papa, dan menghidupkan mesinnya, lalu berlalu pergi dari tempat yang kusebut neraka.

[*]

Aku sudah berada di jalan tengah kota tanpa tau tujuan ku dimana. Sejujurnya ini adalah hari sekolah, tapi aku tak ingin kesana.

Sekolah? No shit. Lebih baik aku dikeluarkan dari sana. Sudah satu minggu aku bolos sekolah, dan sebentar lagi aku akan kena skors. Dan aku harus bersiap-siap menerima amarah papa.

Aku sudah tahu akan ke mana, sebelum kesana aku membuka baju di mobil, dan mengganti rok SMA ku dengan hotpans, baiklah semua siap. Aku pun menggas mobil ku, dan pergi untuk bersenang-senang.

[*]

Disini aku sekarang, setelah menjelajahi kota dan berbelanja, bermain billiard, ke cafe, having fun sendiri, ke bioskop, dan hal gila lainnya. Termenung sendiri sambil meneguk wine yang sudah dituangkan sang bartender. Tak kusangka hari sudah larut malam. Aku melihat sekitar ku, banyak wanita murahan disini. Setidaknya meskipun aku tak tahu diri, tapi aku bukan murahan.

Aku mengambil sebatang rokok dari,saku celana ku. Dan menghidupkan mancis ku, lalu menghirupnya. Rokok membuat ku tenang, kesialan di hidup rasanya telah hilang karenanya.

Kepala ku terasa berat,entah kenapa hari ini aku tak bisa menghabiskan banyak gelas wine dan batang rokok.
Kepala ku rasanya pening, aku langsung bangkit dari tempat duduk ku dan berjalan gontai. Tanpa sadar saat ku jalan, aku menabrak seorang pelayan club dan membuat grlas-gelas itu jatuh.

"Mbak gimana sih!, hati-hati dong kalo jalan, liat ni semuanya pecah, harus di ganti" bentak nya.

"Heh! Lo pikir lo siapa suruh gue gantiin tu semua?! "

"Maaf ya mbak, tapi jika ada barang rusakmemang harus diganti"

"Resek lo ya..,ni ambil!" Gue langsung melempar uang seratusan lima lembar ke mukanya. Ia tampak terkejut, dan banyak mata memandang kami.

"Apa kalian lihat-lihat?!" Bentak ku tak jelas pada mereka semua. Karna kesal aku pun berlalu sambil melabrak si pelayan dan pergi keluar club.

[*]

Aku berjalan tak ada tujuan, dengan gontai di pinggir jalan raya. Mobilku sedang ada di hotel, dan aku tidak menggunakan mobil ke club tadi. Aku melihat sekeliling, dan tak ada taksi tengah malam begini.

Sial. Bodoh sekali aku, tapi tak ada gunanya menyesali, aku merasakan ada air jatuh menyentuhku. Ini pertanda tidak baik.

Sial! Kenapa malam begini pakai hujan segala lagi, aku melihat ke depan dan ada sebuah cafe sederhana, dengan cepat aku berlari menuju cafe tersebut sebelum hujan turun semakin lebat.

[*]

Disini aku sekarang, duduk di paling pojok sisi cafe. Disini sangat sepi hanya sebagian tempat duduk yang diisi. Aku memutar sendok pada cangkir coklat panasku. Tak selera untuk meminumnya. Pintu cafe berbunyi, pertanda ada pelanggan yang datang. Entah kenapa aku tertarik unyuk melihat siapa yang masuk. Dan aku melihat seorang perempuan dengan gaya yang biasa, sambil memegang buku di tangannya.

Aku melihat perempuan itu lebih jelas lagi.

Oh tidak, sial. Kenapa bisa ketemu dia sih. Dan parahnya perempuan itu akan menuju tempat duduk di dekat ku.
Tidak. Aku harus segera pergi dari tempat ini. Aku bergegas meletakkan selembar uang seratus di atas meja, dan beranjak pergi. Baru saja beberapa langkah aku berjalan, dan aku dikejutkan oleh sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku menegang sesaat, tak tau apa yang harus lakukan sekarang ini.

Ini pasti dia, aku sangat tak ingin bertemu dengannya.

"Sheren?" panggilnya lembut, memastikan dia menyentuh pundak yang benar. Aku pun dengan pasrah membalikkan badan ku, dan menatapnya dingin. Ia memandangku dengan rasa iba, melihat penampilanku sekarang.

Cih, menjijikkan , aku tak akan pernah memaafkan perempuan di depan ku ini.

Tak akan pernah.

---

Hey author gaje balik dengan cerita baru, gimana part1? Tolong vote dan komennya ^^

Peace [HS1]Where stories live. Discover now