Surat Patah Hati teruntuk Dia

17.1K 2.3K 696
                                        

Hai masa lalu, bagaimana kabarmu? Masihkah sering memikirkanku seperti dulu? Rindukah kau sedikitpun padaku? Maafkanlah aku yang tak bisa berhenti memikirkanmu selama ini.

Kamu adalah seorang perempuan yang sangat sederhana, yang dulu sempat mewarnai hari-hariku sewaktu kita masih berseragam putih abu-abu. Kamu-lah jawaban dari segala galau dan bucin-ku; jawaban dari segala doa-doaku. Sayang sekali, entah kemana pergimu. Kini kamu hanyalah seutas masa lalu.

Beberapa bulan belakangan ini, aku sering menangis sendiri, larut dalam kesedihan yang amat dalam. Sulit. Sulit sekali. Aku tidak mau ada orang yang tahu serapuh dan secengeng apa diriku ini, tak terkecuali dirimu. Aku yang biasanya ceria, kenapa semakin lama semakin suka merenung dan melamun sendiri?

Kita memang tak pernah lebih dari sekedar teman, apalagi punya status pacaran. Tapi entah mengapa, hati ini ingin berkata lain. Katanya, pernah ada rasa di antara kita. Tak bisa kujelaskan padamu, tapi rasanya seperti menulis ratusan sifat dan perilaku baik seorang wanita yang kuidamkan pada suatu hari, lalu hari berikutnya Tuhan mengirimkan seseorang yang mempunyai semua itu—kamu, kepadaku.

Sejak hari itu, dunia berubah. Terdengar mustahil, tapi percayalah, yang kurasakan adalah seakan-akan dunia yang berputar mengelilingi kita, bukan sebaliknya. Aku yang masih jauh dari dewasa saat itu, dengan bodohnya menjauh dari teman-temanku untuk berada lebih dekat denganmu. Aku akui itu salahku. Bahkan, dirimu yang jauh lebih dewasa pun sudah berkali-kali mengingatkanku bahwa teman itu lebih penting. Kamu tak pernah ada masalah bila waktuku hanya sedikit untukmu. Ah sudahlah, aku memang hanya seorang bocah yang tak ada henti-hentinya menyakiti perasaanmu. Kalau dipikir-pikir lagi, aku sungguh tak layak pernah disukai olehmu. Tolong maafkan aku.

Sejak hari itu pula, hari-hariku hanya terisi oleh kamu dan kita. Segala impian dan mimpi-mimpiku terasa jauh lebih mudah digapai ketika kamu berada di sisiku. Masih ingatkah dirimu akan fantasi masa depan bersama yang pernah kita ciptakan berdua? Sungguh, itu terasa sangat nyata dan sangat mungkin terjadi.

Aku benar-benar mengira itulah cinta yang sebenarnya. Aku sudah sangat nyaman dengan keberadaanmu di dunia, apalagi setiap kali dirimu hadir di dekatku. Aku kira, kamu-lah satu-satunya; kamu-lah orangnya. Nyatanya aku memang tak pernah salah menilai, kamu-lah orang yang tepat. Hanya saja, mungkin untuk orang lain, bukan untukku.

Hai masa lalu, masih ingatkah kau akan diriku ini? Masih ingatkah kau akan lagu-lagu yang pernah kita dengar dan nyanyikan bersama? Masih ingatkah kau akan lagu Natal yang pernah kumainkan dengan gitar hanya untukmu? Masih ingatkah dirimu akan kwetiau goreng yang pernah kita santap hampir setiap hari di kantin sekolah? Masih ingatkah dirimu akan tradisi bertukar selfie pada setiap hari Minggu? Ingatkah dirimu akan bunga-bunga yang pernah kurangkai seindah itu untukmu? Tolong aku. Aku teramat rindu.

Aku kira semua ini akan lewat begitu saja dengan mudah, tapi nyatanya tidak. Buktinya sampai detik ini pun, aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Rasanya ada yang hilang dari dalam diriku, tapi aku tidak tahu itu apa. Kurasa Tuhan pun tahu betapa sakit rasa itu. Aku yakin, kamu juga merasakan hal yang sama, walaupun kelihatannya kamu bisa menerima kenyataan dengan sangat cepat. Entah aku yang tidak mengerti tentangmu, atau kehebatanmu menyembunyikan itu semua dariku.

Pada akhirnya, aku mengerti apa itu arti cinta yang sebenarnya. Aku baru mengerti begitu aku bisa melepasmu pergi. Aku baru mengerti ketika aku bisa mendoakanmu dengan tulus, agar kelak mendapat seseorang yang jauh lebih dewasa dan baik daripadaku. Aku juga belajar bahwa cinta tidak selamanya harus memiliki. Cinta itu tak akan pernah bisa dibatasi oleh apapun. Ketahuilah, seperti itu pula wujud cintaku kepadamu—tak terbatas.

Hai masa lalu, izinkan aku bertanya kepadamu untuk terakhir kalinya. Gimana kabarmu? Masihkah memikirkanku? Rindukah kepadaku? Aku tak berharap jawaban sesingkatpun darimu. Bisaku hanya mendoakan yang terbaik bagimu.

Hai masa lalu, seandainya kamu membaca kalimat-kalimat rindu ini, ketahuilah bahwa ada ruang istimewa dalam lubuk hatiku yang terdalam, yang akan kurawat hanya untukmu. Tenang saja, ruang itu tidak dapat tergantikan oleh siapapun, dan akan abadi mengagumimu selamanya. Ketahuilah bahwa walaupun semua ini sungguh sangat tidak mudah, tapi aku bersyukur pernah melewatinya bersamamu. Ketahuilah, namamu selalu kusebut dalam setiap doaku. Ketahuilah, entah berapa banyak tetesan air mata yang jatuh ketika menulis surat rindu yang tak akan pernah tersampaikan kepadamu ini.

Hai masa lalu, aku sungguh sangat berhutang budi kepadamu. Maka dari itu, kumohon terimalah kasih sekaligus permintaan maaf ini dariku. Terima kasih sudah menjadikanku Leo yang sekarang. Terima kasih sudah pernah menghiasi dan mewarnai lembaran buku kisah hidupku. Maaf, bila aku selalu mengecewakan dan menyakiti perasaanmu. Tolong maafkan aku.

Tak terasa kamu sudah membaca habis surat ini. Selamat tinggal masa lalu, terima kasih sudah pernah ada. Aku rindu.

Bellevue, 20 Mei 2019

Leonardo Edwin

Puisi HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang