4

44 5 3
                                    


Fira yang sedang mengantri membalikkan badan dan melihat vania sedang lari terbirit-birit kearahnya.

"kok gue kayak dengar ada yang panggil nama lo sih?" Tanya fira kepada vania yang masih mencoba mengatur napasnya.

"hah? Siapa yang kenal gue disini? Gue kan anak baru. Mana ada yang kenal sama gue. Baru juga 2 hari yakali gue udah setenar itu." Ucap vania mencoba mengelak dan fira seperti bingung dengan sikapnya saat ini. "udah ah gue udah dapat tempat. Lo juga udah pesan kan?" Tanya vania mengalihkan pembicaraan.

"udah." Jawab fira dan vania menarik tangannya menuju sebuah tempat yang lumayan jauh dari tempat arga dan teman temannya.

Kantin sudah sepi. Jam sudah menunjukkan pukul 10.25 yang artinya, 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Bakso mereka datang dan mereka menikmatinya dengan sedikit terburu buru. Pelajaran sesudah ini adalah maam niar guru bahasa inggris yang terkenal dengan kedisiplinannya dan tugasnya yang selalu menggunung. Jadi mereka tidak boleh telat.

Ketika memasukkan bakso kedalam mulutnya, vania merasakan baksonya sedikit aneh. Ya, rasa pedas.

"fir, baksonya lo pesan yang pedas?" Tanya vania dengan gemetaran.

"i..iya. lo nggak bisa makan pedas?" Tanya fira antara gugup dan takut melihat wajah pucat vania.

"oh shit." Ucap vania dan langsung berlari ke toilet meninggalkan fira yang bingung.

Vania menatap kaca yang ada didepannya dan sudah ada ruam-ruam merah dilehernya. Ia sudah tak tahu harus bagaimana. Bagaimana cara menutupi ruam ruam dilehernya.

Ya, vania alergi dengan yang berbau pedas. Jika ia makan, seperti inilah ia mendapati beberapa ruam di lehernya. Salah satu jalan keluarnya adalah ia harus pulang. Tapi bagaimana ia keluar? Ia juga harus ke BK untuk meminta surat pulang.

Ia sudah pasrah. Ia keluar dengan menutupi lehernya dengan tangannya. Ketika didepan toilet ia melihat arga yang berdiri dan memegang syal putih. Ia menyingkirkan tangan vania dan memakaikan syal tersebut.

"lo mau pulang?" Tanya arga menatap vania yang masih bingung. Vania bingung mengapa arga tau kalau ia punya ruam di leher? Atau sejak ia lari ke toilet dan melewati meja arga ruam-ruamnya sudah terlihat? Tapi tidak secepat itu ia bereaksi. Ah sudahlah.

"hey" ucap arga kembali sambil menggoyangkan tangannya di depan wajah vania yang bengong.

"eh, um.. iya" ucap vania.

"bareng siapa?"

"paling ojek online."

Tiba-tiba arga pergi meninggalkannya. Vania menghela napas pelan. Ia tak tahu mengapa setiap bersama arga ia merasakan degup jantungnya memompa sangat cepat.

Arga sudah menghilang dari pandangannya. Ia kembali berjalan ke ruang BK untuk meminta surat pulang.

Vania sudah berada diluar sekolah. ia sudah mendapatkan surat izin pulang dan juga sudah menelpon fira memberitahukan bahwa ia akan pulang. Kalian tahu bagaimana reaksifira. Gadis itu kaget dan meminta alasan kenapa vania pulang. Fira berfikir karena kejadian bakso pedas tadilah yang menyebabkan vania harus pulang dan fira meminta maaf atas kesalahannya. Dan sekarang vania merasa baik-baik saja tetapi ia tetap harus pulang dan minum obat yang selalu lupa ia bawa.

"vania?" Tanya seorang ojol yang mungkin driver yang didapatkan vania.

"oh. Iya pak" ucap vania dan menerima helm dari pak ojol. Saat mau naik keatas motor bapak ojol. Tiba-tiba seorang arga ada disamping motor bapak ojolnya.

"turun." Ucap arga kepada vania.

"loh, bapak ojolnya gimana?"

"ongkosnya berapa pak?" Tanya arga kepada pak ojolnya sambil membuka dompetnya.

"11 ribu,dek." Ucap pak ojol.

Arga memberikan selembar uang biru kea bang ojol. Vania turun dari motor dan mengucapkan maaf kepada bapak ojolnya. Bapak ojol sudah tak terlihat lagi.

"nunggu apa lagi? Naik buruan." Ucap arga.

Vania naik ke motor arga. Arga menarik tangan vania ke perutnya."pegangan. nanti jatuh." Ucap arga.

Vania tersenyum kecil dan arga melihat dari kaca spionnya. Senyum kecilnya pun juga terbentuk.

***

Sesampainya didepan rumah vania mengucapkan terima kasih ke arga dan arga hanya menjawab dengan jari jempolnya. Tanpa ada embel-embel "istirahat ya" "jangan lupa minum obat". Eh, apaan sih yang gue pikirin, batin vania.

Vania memasuki rumahnya yang kosong. Ayah ibunya bekerja, juno-kakaknya pergi kuliah atau keluyuran. Jadilah hanya vania dan mbak siti dirumah. Vania naik ke lantai 2 tempat kamarnya berada. Masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya dikasur empuknya. Ia memegang syal ada dilehernya. Ia menatapnya sambil tersenyum.

Entah apa yang sedang ia rasakan sekarang. Ia merasakan degup jantungnya berdebar dengan cepat setiap bersama arga. Arga seperti pernah ada di dalam hidupnya. Dan arga seperti selalu tahu apa yang terjadi kepada vania. sudahlah, tak usah dipikirkan lagi. Lebih baik ia istirahat. 

***

Pagi telah tiba. Vania sudah siap dengan seragam sekolahnya. Sekarang ia sedang menikmati sarapannya bersama Rachel, rayhan, dan juno.

"van, besok papa sama mama mau jenguk oma yang lagi sakit." Ucap rayhan memecahkan keheningan dimeja makan.

"oma sakit apa?" Tanya vania dengan nada khawatir.

"kata tante fanya habis jatuh dikamar mandi kemarin. Makanya papa sama mama mau jenguk oma besok di Surabaya." Jelas rayhan.

"loh, vania nggak ikut? Cuman berdua doang sama kak juno?"

"kak juno juga besok mau pergi liburan bareng teman-temannya."

"jadi vania sendirian disini?" Tanya vania dengan nada disedih-sedihkan.

"papa sama mama rencana mau nitip kamu di rumah teman papa disekitar sini. Lagian papa cuman lima hari kok. Kalau keadaan oma udah lumayan membaik papa sama mama akan pulang." Ucap rayhan sambil mengusap kepala vania dengan lembut.

"kenapa nggak disini aja sama mbak siti? Kenapa harus aku dititip sih? Kayak anak kecil aja." Ucap vania dengan kesal.

"mbak siti juga mau pulang kampung vania. kalau kamu sendirian disini dan terjadi apa-apa gimana. Lagian di rumah om irwan juga ada yang satu sekolah sama kamu, jadinya bisa berangkat bareng kesekolah." Jelas irwan mencoba meyakinkan vania.

"yaudah deh. Tapi janji ya cuman lima hari. Nggak lebih boleh kurang." Ucap vania pasrah.

"iya vania." ucap rayhan. Melihat hal itu membuat juno dan Rachel melihatnya dengan senyum.


"yaudah, yuk. Ayo berangkat. Entar terlambat. Papa tunggu dimobil ya." Ucap rayhan. Sedangkan vania masih menghabiskan sarapannya.

***


Hai!

Ku mencoba update hari ini. Maaf jikalau sangat pendek, ya. Ini aja diusahain karena rasa bersalahku tak update selama hampir satu bulan. Jika ada saran ataupun kritikan jangan sungkan dikomen ya.

Happy reading! Jangan lupa like and komen (nggak usah subscribe)


Silent LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang