2

2.4K 46 0
                                        

---Happy Reading---

Shena membiarkan angin menyapu rambutnya, sedangkan matanya masih sibuk melihat ke kanan dan ke kiri. Kalau biasanya ia duduk dihalte sembari menunggu bus, hari ini justru berbeda. Ia menunggu Aga yang kemarin malam mengatakan padanya bahwa ia akan menjemput. Tapi, entah apa yang terjadi, sudah hampir setengah jam Shena menunggu pacarnya itu, namun yang ditunggu belum memberi tanda-tanda akan kemunculannya.

Shena berdecak, sambil terus-menerus melihat jam tangannya, berharap bahwa Aga akan muncul dalam hitungan detik.

"Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Lima.. Enam.. Tujuh.. Ah–mana sih nih si Aga." Gumam Shena sambil mengusap wajahnya frustrasi.

Shena melipat kedua tangannya, wajahnya tampak masam karena ini sudah terlalu lama. Bahkan bus yang biasa ia tumpangi pun sudah berlalu sejak lama, kalau saja ia tidak nekat menunggu Aga, sudah dipastikan bahwa sekarang ia sedang bersantai di rumah.

Drrrtttt...

Shena mengambil ponselnya yang sejak tadi berada ditasnya, dan nama Aga muncul dilayar handphonenya.

Tanpa ba-bi-bu Shena langsung mengangkat panggilan tersebut.

"Kamu dimana sih, Ga? Aku nungguin dari tadi tau gak? Aku uda dihalte nih sekarang, kayanya mau pulang naik bus aja, jadi gak usah nawarin diri untuk jemput aku, aku pulang sendiri aja."

Shena tak henti-hentinya melontarkan kalimat yang justru membuat Aga terpingkal. Dari nada bicaranya, Aga bisa menebak bahwa kekasihnya itu sangat kesal.

Dua meter dari tempat Shena berada, Aga memperhatikan punggung Shena yang membelakanginya. Ia tersenyum jahil, mengingat bahwa Shena belum juga selesai marah-marah dari dalam telepon, bisa dipastikan saat ini wajahnya tampak lucu.

Lalu tanpa memutus panggilan ia melanjukan motornya sedikit, berhenti didepan Shena yang sedang berdiri sambil nunduk liatin handphone.

"Udah ngocehnya?" Ucap Aga tiba-tiba. Lalu Aga mengklik icon merah dilayar ponselnya.

Shena menoleh, "Aga!!" Lalu ia menghampiri Aga dan mencubit lengannya lumayan kenceng, bikin Aga merintih dalam tawanya.

Aga masih ketawa, sedangkan Shena masih cemberut. Wajah Shena beneran lucu sampai-sampai bikin Aga kepengen motret Shena pakai kamera Handphonenya.

"Maaf deh, abisnya muka kamu lucu banget sih kalo lagi ngambek, jadinya makin suka nih aku, tanggung jawab hayo!"

"Ngaco!"

"Yaudah, ayo langsung naik. Nih pake dulu helmnya, biar lebih safety." Aga memberi helm yang sengaja ia bawa dari rumah itu untuk Shena. Memasangkannya dengan rapih dan lembut ke kepala sang kekasih hati.

"Mau langsung pulang?"

"Memang mau kemana lagi? Udah sore, mamamu khawatir nanti."

Mendengar itu, Shena cuma ngangguk. Nggak ngomong apa-apa lagi karena memang sudah sore.

Shena melirik ke Aga yang ntah sejak kapan kaca spion motornya mengarah kewajahnya. Jujur, Shena salah tingkah. Tapi ia cuma bisa menahan senyum biar nggak dikira kegeeran. Padahal aslinya pengen kayang.

"Shen?" Panggil Aga pelan. Mata mereka bertemu dikaca spion.

"Ya?"

"Kok kamu bisa cantik sih? Operasi plastik ya?"

Shena terkekeh sembari memukul punggung Aga pelan. "Aneh! Ya ngga lah! Cantik dari lahir ini."

Aga menganggukkan kepalanya sok serius. Keduanya kini sudah masuk ke area perumahan yang sama-sama mereka tinggali. Rumah Shena dan Aga ngga jauh, cuma beda gang, tapi kalau jalan kaki lumayan capek juga.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 03, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SHENA (Revisi) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang