Endless

7.2K 927 85
                                    

Segalanya terasa.. berbeda.

Ketika Namjoon membuka matanya, dia tidak melihat sesuatu yang aneh, atau janggal dan tidak tepat sedikitpun. Semuanya baik-baik saja dan terlihat normal.

Dia melihat langit-langit sebuah ruangan, dan lampunya menyala. Namun Namjoon tidak pernah melihat langit-langit ruangan itu sebelumnya seumur hidupnya. Kemudian Namjoon mencoba menarik napas, dan dia mulai merasa ada yang salah. Dahi Namjoon berkerut, dia merasakan perbedaan pada tubuhnya, namun dia tidak tahu apa.

"Hei,"

Namjoon menoleh ke arah asal suara dan dia melihat Seokjin, berdiri dengan ragu-ragu di sisi ruangan. Dahi Namjoon kembali berkerut karena dia tidak mengenali ruangan tempatnya berada, Namjoon memalingkan pandangannya dari Seokjin dan memilih untuk menatap sekeliling ruangan, mengamatinya.

Ruangan itu adalah sebuah kamar, dengan dinding yang dihiasi wallpaper dengan pola seperti kayu, (atau mungkin itu memang kayu, Namjoon tidak yakin), barang-barang di dalam kamar itu juga didominasi oleh furniture yang terbuat dari kayu. Ada sebuah lemari besar yang terlihat antik, jam besar dari kayu yang berdiri kokoh di sudut ruangan, pintu geser menuju teras luar, sebuah meja rias yang juga terlihat antik, dan tempat tidur yang saat ini ditempati oleh Namjoon.

"Namjoon?"

Namjoon mencoba bangun, mengabaikan panggilan ragu-ragu Seokjin padanya. Dia duduk di atas tempat tidur dan matanya memperhatikan kedua telapak tangannya, Namjoon mengepalkan dan melepaskannya berulang kali.

Tubuhnya terasa baik. Sangat baik, dan itu terasa aneh.

"Namjoon, ada yang perlu kujelaskan."

Namjoon menoleh dan dia melihat Seokjin berjalan ke arahnya, langkahnya masih ragu-ragu, dan entah bagaimana dia terlihat takut pada Namjoon. "Ada apa?" ujar Namjoon, suaranya terdengar jernih dan jelas, hampir membuat Namjoon terkejut karena kadang dia perlu berdeham ketika bangun tidur untuk membuat suaranya terdengar normal.

Seokjin menggigit bibir bawahnya, "Kemarilah sebentar." Seokjin berjalan ke arah sisi lain ruangan, menuju sebuah cermin besar setinggi badan orang dewasa di sana.

Namjoon menaikkan sebelah alis, dia tidak mengerti, namun Seokjin menunggu, dan Namjoon akhirnya berdiri. Kakinya melangkah menuju Seokjin dan Namjoon ingat dia hanya bergerak satu langkah namun dalam sekejap mata dia sudah berada di sebelah Seokjin.

Seokjin sedikit terkejut, matanya melebar dan dia tersenyum tipis. Seokjin memandang cermin di hadapan mereka, "Aku ingin kau melihat dirimu sekarang."

Namjoon memalingkan pandangannya dan menatap bayangan dirinya di cermin. Dia ada di sana, berdiri di sebelah Seokjin, mengenakan sebuah kemeja berwarna biru muda dan celana jeans biru pudar. Kakinya tidak mengenakan alas kaki apapun, dan menapak dengan sempurna di lantai. Namjoon menaikkan arah pandangannya hingga dia akhirnya menatap wajahnya.

Wajahnya tidak berubah, masih sama seperti wajahnya sejak dulu, hanya saja kulitnya terlihat lebih halus, lebih pucat, dan garis-garis wajahnya terlihat lebih tegas. Namjoon meneruskan penelusurannya dan dia berhenti saat akhirnya dia menatap pantulan matanya di cermin.

Mata itu berwarna merah darah.

"Aku.. aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf. Tapi.. tapi ini perlu dilakukan untuk menolongmu."

Namjoon menoleh untuk menatap Seokjin, dia memperhatikan saat Seokjin bergerak-gerak gugup dan Namjoon berani bersumpah, dia mendengar suara gesekan samar antara kaki Seokjin dengan lantai, padahal Seokjin hanya bergerak sedikit.

EndlessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang