Dimitri's POV
Aku membuka kelopak mataku, merasakan suhu disekitar yang berubah drastis. Udara dingin yang menusuk, serta diiringi suara binatang malam yang bersautan, membuatku enggan untuk bergerak.
"Ahh... Akhirnya kau bangun."
Dengan spontan aku menegakkan tubuhku, menolehkan kepala ke arah sumber suara itu berasal.
"Siapa kau?" Mendengar aku mengucapkan hal ini, aku melihat ekpresi orang itu tersentak dalam beberapa detik sebelum mengembalikannya dan menjawab dengan tenang
"Tak perlu khawatir, aku disini bukan untuk menyakitimu."
Seseorang yang tak aku kenal itu mulai mendekat ke arahku, bisa kulihat tangannya membawa beberapa obat-obatan dan secangkir air.
"Kau minum obat ini dan beristirahatlah sebentar lagi, aku akan memanggil tetua." Setelah mengucapkan kalimat itu orang ini bergegas pergi dengan nada riang
Apa yang dimaksud dengan memanggil tetua?
Penampilan orang itu cukup aneh, berbaju hijau, mempunyai rambut hijau, bahkan warna matanya pun juga hijau. Sungguh aneh. Mengambil beberapa obat, aku memutuskan untuk meminumnya. Setelah melihat caranya berbicara, sepertinya orang itu tidak mempunyai gelagat yang aneh selain penampilannya.
**
"Jadi kau menguasi elemen apa?" Laki-laki asing ini bertanya kepadaku dengan tatapan kosong.
"Apa? Elemen apa? Kalian semua sangat aneh. Aku bahkan tak tau apa itu elemen yang kalian maksud! "
Aku mengatakannya dengan enggan. Beberapa saat orang ini melirik ku dengan tatapan menusuk. Aku merasakan dia begitu emosi?
Persetan dengan emosi. Peduli apa aku dengan mereka.
Perempuan disebelahnya tampak sedang mengusap pundak orang ini beberapa kali sebelum memandangku dengan lembut
"Jadi kenapa tetua mengizinkan mu untuk tinggal disini kalau kau tidak punya elemen?"
Entah kenapa aku merasakan kenyamanan dengan tatapan perempuan ini. Melihat wajah dan tingkah lakunya, sepertinya dia lebih muda dariku. Tapi aku bisa merasakan aura kedewasaannya.
"Hei apakah kau bisu? Jawab pertanyaan adikku"
Suara bariton dari laki-laki tadi membuat Lamunanku terpecah. "Apa urusannya dengan kalian?!"
Aku menjawab dengan kesal. Kemudian tanpa melirik mereka aku mengambil jalan untuk meninggalkan mereka. Belum seberapa jauh mengambil langkah, aku bisa mendengar perempuan itu berusaha untuk menenangkan laki-laki yang sepertinya adalah kakaknya itu.
"Kakak, tak perlu emosi. Apapun alasan dia tingal disini hanya tetua yang tahu."
Mendengarkan dia berbicara entah mengapa membuat gejolak api kecil didalam tubuhku. Sangat menyenangkan.
End POV
***
Beberapa saat yang lalu, setelah 'orang hijau' tadi keluar. Tampak seorang paruh baya masuk dengan senyuman yang mengembang"Apakah kau merasa lebih baik nak?"
Pria tua ini menatap Dimitri dengan tatapan yang bergejolak. Dimitri mengembangkan senyuman kaku lalu menganggukan kepala sebagai jawabnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
PRINCE OF MORT
FantasíaSeorang pemuda yang mencari jati diri di dunia antah berantah