Together With You

5.9K 715 34
                                    

Berminggu-minggu sudah berlalu semenjak kalian berkenalan. Kageyama benar-benar  mengajarimu dengan tekun hingga kau lulus di ujian olahraga. Dan kau sangat berterima kasih karenanya.

Beberapa hari lalu kau tidak sengaja melihat poster klub bola voli putra di mading. Mereka sedang mengadakan penerimaan anggota baru, juga pencarian manager baru. Berhubung kau dan Kageyama belum masuk klub mana pun, kau berinisiatif untuk mengajaknya bergabung ke sana. Lagipula dengan bakat yang Kageyama miliki, akan mubazir jika ia tidak bergabung dengan klub voli.

"Tobio, aku ingin bergabung dengan klub voli sebagai manager. Bagaimana menurutmu?" ujarmu, selagi menghabiskan bekal makan siangmu bersama Kageyama. Seperti biasa kalian berdua duduk di meja Kageyama, dengan makanan yang kau bawakan.

"Kenapa bertanya? Itu bukan urusanku," jawabnya acuh. Terlalu fokus mengkabiskan makanan.

"Yaah... seperti yang kau ketahui kita harus memilih minimal 1 klub, iya, kan? Aku tidak bisa bermain musik, atau bermain peran, atau olahraga, atau seni dengan benar. Tapi aku sudah jadi ibumu selama 2 bulan ... aku bisa melakukannya. Aku juga pasti bisa jadi manager," balasmu.

"Ibuku? Haha, lucu," Kageyama mengabaikanmu kembali demi meneguk susu kotak yang kau beli untuknya.

Seketika kau pun cemberut. Terkadang ucapan Kageyama memang terdengar agak jahat.

"Jangan menertawaiku! Itu kenyataan. Siapa yang mebawakanmu bekal, membelikanmu makanan, dan menjajarimu matematika jika bukan aku?" keluhmu sambil menunjuk-nunjuk.

Kemudian, Kageyama menghela napas halus. Enggan melirik, ia berkata, "Yaaa, mungkin aku akan bergabung dengan tim voli-—"

"Benarkah?!" mendadak kau menggebrak meja, menyeringai antusias. Kageyama sampai hampir melompat dari kursinya karena terkejut.

"Aku bilang kan, mungkin," balas pemuda itu. Entah mengapa  wajahnya memerah melihat responmu. Terutama karena senyum lebar di wajah semringah itu.

"Yokatta! Kau pasti jadi pemain yang hebat, Tobio! Aku tahu pasti!"

***

Menjelang senja hari itu, Kageyama berdiri di depan gimnasium menunggumu. Tidak seperti Kageyama yang hanya perlu menyerahkan formulir pendaftaran klub, kau harus mengikuti tes wawancara terlebih dahulu.

Setelah hampir setengah jam berlalu, akhirnya kau diperbolehkan pergi. Kageyama yang menunggu di luar gimnasium, menyambutmu dengan raut penasaran. Dan itu membuatmu terkikik.

"Aku lolos! Mulai besok aku adalah manager tim voli putra!" umummu kepadanya.

Kedua mata Kageyama sedikit melebar. Namun hanya sesaat, sebelum dia kembali seperti semula.

"Itu cukup bagus untukmu," ucapnya berusaha tetap tenang.

"Apa-apaan itu? Hanya begitu reaksimu?" tanyamu setengah cemberut, "seharusnya kau katakan, selamat kau berhasil, [y/n]! Begitu!"

Kageyama berdehum kecil. Wajahnya berpaling, tetapi sempat kau lihat ada semburat merah muda di pipinya.

"Terserahlah! Pokoknya begitu!" Tiba-tiba Kageyama membalikan badan dan berjalan cepat.

Tentu saja kau mengejarnya. Dengan sigap kau menyamakan langkah dengan Kageyama, menyusuri setiap kodidor, melewati gerbang sekolah, lalu menapaki jalan setapak. Seperti biasa, hati ini pun kalian akan pulang bersama.

"Kau tahu, Tobio?" ucapmu membuka percakapan, "aku senang sekali bisa menjadi manager tim voli. Tahu kenapa?"

"Kenapa?" sahut kawanmu pelan.

Kau menoleh sedikit kepadanya. Mengulas senyum lembut yang tulus, kau berkata, "Karena aku jadi bisa bersamamu setiap waktu. Tidak hanya di kelas, tapi kita juga bisa bertemu di klub. Makanya aku sangat senang!"

Mendadak semburat merah muda kembali muncul di wajah Kageyama. Entah karena pengaruh langit senja yang kemerahan, membuat wajahnya terlihat lebih matang sampai ke telinga. Tetapi yang jelas, kau cukup menikmatinya--meski agak kebingungan.

Kageyama menutup mulutnya. Seperti kebiasaan ketika malu. Melirik ke arahmu pun tidak mau. Hanya mencoba memandang ke jalanan.

"Tobio? Kenapa jadi diam begitu?" sapamu mengetahui pemuda itu membisu.

Si pemilik rambut hitam tersebut memperlambat langkahnya. Sekarang justru dia yang menyesuaikan dengan ritme langkahmu. Masih dengan wajah merona itu, ia mengeluh, "Berhentilah mengatakan hal-hal yang memalukan, [y/n]!"

Seketika kau mengerjap keheranan. "Aku hanya mencoba berkata jujur--"

"Meskipun kita tidak satu klub," sela Kageyama, "kita masih bisa pulang bersama ... s-seperti ini. Kau bisa mengikuti klub mana pun yang kau sukai."

"Tapi, aku memang suka klub voli. Dan aku suka bersamamu!"

"[Y/n] ...! Kau mengatakan hal yang memalukan lagi!"

"Apa? Aku hanya jujur."

Senyap seketika. Kageyama sempat berhenti berjalan dan menatapmu. Semburat dj wajahnya masih saja tidak menghilang. Justru semakin meluas. Ia pun menghela napas pasrah dan melanjutkan berjalan.

"Terserahlah," katanya menyerah. Bukan berarti dia tidak suka. Hanya saja malu sendiri mendengar ucapanmu.

"Yah ... kau bebas berada di dekatku. Lagipula kehadiranmu ... tidak terlalu mengusikku," tambahnya.

Kau baru saja akan memprotes lagi. Jadi selama ini Kageyama agak terganggu dengan kehadiranmu? Tetapi hal tersebt harus kau telan lagi karena tiba-tiba Kageyama mengadahkan tangannya padamu--seperti meminta.

Seketika senyummu kembali mengembang. Kau ambil tangan itu dengan senang hati. Kalian pun melanjutkan perjalanan sambil bergandengan tangan. Hanya berdua, dalam kedamaian senja. Waktu yang sangat disukai seorang Kageyama Tobio, hingga harus sekuat tenaga ia menahan senyum.

'Aku harap ini tidak hanya untuk sementara. Kau boleh berada di sisiku selamanya. Harusnya itu yang kuucapkan tadi.'

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Beda kan, ceritanya sama yang dulu? XD

Okaaayyy kalau kamu suka silahkan tinggalkan jejak! Vote, comment, are very appreciate!

Sekian dulu untuk hari ini. Selamat tidur!

Love,

Alicia

NOTICE ME! [KAGEYAMA X READER X OIKAWA]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang