25 - No Time To Die

298 28 2
                                        

Halooooooo
Aku kembali nih sm Namjoon.
Tapi, aku mau minta maaf sm kalian dah buat kalian nunggu. Dan satu lagi, aku minta maaf ya sama chapter ini🥺🥺


******

WARNING!

TOKOH DAN SIFAT DALAM CERITA HANYA FIKSI!
Mohon untuk tidak salah paham atau hal sebagainya karena sifat tokoh karakter dalam cerita mungkin terlalu antagonis dan membuat kalian berfikir 'wah si author pasti tidak menyukai si 'ini' jadi di bibuat begini.'

Tidak ya. 

saya suka sama semua tokoh karakter disini. setiap tokoh sudah mendapat bagian dan  bukan berarti juga saya berlaku tidak adil dan menempatkan tokoh seperti ini. tidak berarti juga saya berniat menjatuhkan pemain atau tokoh dalam karakter disini. tidak ada kata bahwa saya membenci tokoh, menghina, atau hal sebagainya. tidak sama sekali

sekali lagi saya tegaskan, ini hanya cerita fiksi. semua tokoh, sifat karakter, dan jalan cerita hanya sebatas khayalan semata. jadi maaf jika beberapa pihak tidak menyukai posisi tokoh atau hal sebagainya.

terimakasih pengertiannya. Happy Reading.


.

.
.
.

















Namjoon menatap sekeliling ruangannya dengan panik. Sosok yang semalam menemaninya di ranjang itu tak ada di setiap ruangan hotel mewah tersebut. tak ada surat yang ditinggalkan sebagai perpisahan, ataupun jejak yang bisa saja dijadikan sebagai alasannya pergi. Namjoon seperti merasakan De-Javu. Ia seperti sedang terkena kutukan hingga mimpi buruk ini terulang lagi padanya.

"Jian, Kim Jian!" serunya sekali lagi sambil memastikan setiap ruangan sudah ia jelajahi. Rasa gila di kepalanya seakan mengambil alih dirinya. Lelaki itu menjambak rambutnya, meyakinkan dirinya bahwa ini semua hanya sebuah mimpi. panik mulai menyerang dirinya setelah ia memeriksa semua ruangan demi ruangan yang ada. Jian tak membawa Ponselnya, meninggalkan dompetnya bersama Uang yang utuh dan kartu-kartu yang ia miliki. pakaiannya bahkan masih tertata rapi di Almari. bahkan sepatu dan sandalnya masih ada di sini. pun jika Jian pergi sebentar, setidaknya ia mengenakan Alas kaki atau membawa ponselnya. Jian juga tak mengenakan jaket kesayangannya yang selalu ia kenakan. tak perduli panas atau dingin, ia selalu memakainya.

"tidak, tidak mungkin Jian pergi!" tubuhnya merosot jatuh, kakinya terasa kelu hingga tak mampu menopang berat tubuhnya. Rasanya sangat mendadak dan tidak terduga begitu saja. Seperti Penghianatan yang benar-benar sudah direncanakan matang-matang. Namjoon bahkan tidak mencurigai gerak-gerik Jian selama ini, atau Namjoon saja yang tidak peka? Entahlah.

Sikap Jian sama sekali tidak menunjukkan bahwa wanita itu sebenarnya menunjukkan sesuatu besar yang dapat mengubah dirinya, bahkan menghancurkannya sekalipun. Pelukan hangat, atau kecupan manis selama ini terasa tulus. Senyuman dan tawa riangnya bahkan benar-benar nyata, bukan kepalsuan. Mustahil baginya bila Jian hanya bermain-main dengannya untuk beberapa bulan ini. menarik perasaannya, memanah kembali tepat di ulu hati, membuatnya terbang tinggi menuju Surga Tuhan yang indah, merebut semua dunianya. namun balasan apa yang ia peroleh saat ini sungguh menyakiti dirinya. liburan mewah di Aspen akan menjadi omong kosong. Apalagi menata masa depan yang indah bersama buah hati mereka akan menjadi cerita lalu saja.

Ashes After Us - KNJTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang