Bandung, Maret 2022.
Eggy dan Jimmy tidak menyangka bahwa mereka kembali menerima titipan dari sang pencipta dalam jangka waktu yang dekat. Pada awalnya, Eggy cukup khawatir bagaimana putranya; Antares Kamal jika memiliki adik diusianya yang terbilang masih sangat kecil. Apakah dia menerimanya nanti, apakah Ares akan menyayangi adiknya nanti. Dan yang paling utama, apakah Eggy sendiri beserta Jimmy bisa bertindak adil. Memberikan perhatian mereka dengan porsi yang sama.
Eggy sangat berharap bahwa dirinya bisa melakukan yang terbaik. Untuk sekarang, dia dan sang suami hanya perlu melakukan usaha perlahan memberi pengertian pada si kecil berkepala pelontos itu, bahwa di keluarga mereka akan kedatangan anggota baru.
Syukurnya. Sejauh ini Ares mulai tahu bahwa dia akan punya adik. Semoga saja waktu bisa memudarkan kegundahan yang masih bersemayam di hati kecil Eggy.
Sore yang cerah ini. Eggy dan putranya sudah berpakaian rapi. Rencananya, mereka akan pergi kontrol kehamilan Eggy di minggu ke enam belas. Jimmy juga dalam perjalanan, dia sudah mendapat izin pulang lebih awal guna mengantar istrinya.
Persiapan sudah. Perlengkapan dan kebutuhan Ares bila keluar rumah juga sudah masuk ke dalam tas gendong bermotif kotak-kotak. Tinggal menyiapkan susu dalam botol karena asi secara langsung untuk Ares memang dibatasi.
"Kita bikin mimi cucu dulu yuk sayangnya Bunda," ujar Eggy membawa putranya dalam gendongan menuju dapur.
Ares merespon dengan berceloteh lucu. Seperti biasa. Kalau dia akan melewati perbatasan antara ruang tengah dan dapur, Ares selalu menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Bila ditanya apa alasannya, sudah pasti Eggy tidak mau mendengarnya lagi. Dia hanya tidak mau malah menjadi sugesti negatif. Seringnya mereka hanya berdua saja di rumah.
Selesai menyiapkan ASIP. Ibu dan anak itu kembali ke ruang tengah. Eggy memilih duduk di sofa, sambil menunggu Jimmy tiba. Dia menyamankan posisi duduk Ares disamping pahanya yang sudah bisa memegang botol susu sendiri.
"Pinternya anak Bundaa," ujar Eggy mengelus kepala Ares ditambah kecupan sayang.
Eggy sangat bersyukur. Dia bisa merasakan kebahagian sebagai Ibu sepenuhnya. Memantau langsung perkembangan putranya yang lucu. Tidak mengapa walau waktu Eggy sekarang hanya dihabiskan di rumah saja. Itu memang sudah menjadi resiko dari keputusannya untuk fokus pada Ares.
Terkadang, Eggy memang kepikiran banyak hal. Tidak naif bahwa perekonomian Eggy dan Jimmy berbeda dari sebelum mereka hidup bersama. Apalagi, Eggy tidak bekerja sekarang. Jadi sumber penghasilan hanya dari suaminya. Maka dari itu, seringkali Eggy menekan banyak keinginannya. Lebih baik kebutuhan Ares dulu, baru setelah itu dirinya.
"Aa-nya sini tawarin adik susu," Eggy mengelus area perutnya yang sudah terasa membuncit dari balik blouse coklat muda. Dia lalu menuntun Ares untuk melakukan hal yang sama.
Seperti biasa. Anak laki-laki itu akan merasa kaget, kemudian tidak lama dia akan menyentuh-nyentuh perut Eggy penasaran.
"Adi dede diini?" Celotehnya begitu botol susunya terlepas dari mulut.
Senyum Eggy mengembang. Demi apapun dia tidak pernah terbayang akan memiliki anak laki-laki selucu Antares Kamal; pipi gembul, senyum manis, tawa yang riang, wajah yang terkadang bisa mirip Eggy atau mirip Jimmy.
"Iyaa adiknya Aa disini, sekarang dipanggilnya Aa yaa bukan Dedek lagi, kan mau punya adik jadi Aa bukan Dedek yah.."
Ares nampak bingung. Tatapan polosnya benar-benar menggemaskan, tapi detik berikutnya dia mengangguk seolah telah paham.
Begitu mendengar deru mesin mobil. Eggy menurunkan Ares dari sofa, meletakan balita baju putih bergaris coklat itu diatas karpet. Antisipasi taku-takut anaknya itu menyusul. Dia paling senang kalau Ayahnya sudah pulang. Begitu pintu utama dibuka, sosok Jimmy dengan gurat lelah yang samar tersenyum pada istrinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Keluarga Park (Lokal Vers.)✔
ChickLitAnother story of Keluarga Min (Lokal Vers.) by Mechintaaa