3. HOMO

100 5 2
                                    

08:00 pagi. Cuaca sangat cerah, langit biru terlihat sangat indah. Hana bangun dari tidurnya. Ia meregang, menghirup udara segar dari balkon rumahnya. Ia memandang perumahan yang terlihat sama di sekitar. Orang - orang tampak sibuk di pagi ini, ada yang bersiap berangkat kerja, ada juga yang sedang bersih - bersih. Hana lalu duduk di kursi menikmati cuaca pagi. Tak lupa segelas teh hangat juga ikut menemani.

"Beginikah hidup orang kaya?" gumamnya pada dirinya sendiri.

Punya rumah besar, dan balkon untuk bersantai setiap saat. Sungguh menyenangkan bukan? Hana tidak mau melewatkan kesempatan ini. Dia bersantai mengangkat kaki menikmati terik sang surya yang menyapa pagi.

Tling... Tling...

Benda pipih itu berbunyi, Hana mengambil benda itu lalu mengusapnya perlahan. Tertulis di sana Tuan Sejin mengirim pesan.

"Sial, aku baru saja menikmati jam santaiku." gumamnya pelan setelah melihat pemberitahuan itu.

"Hana. Namjoon bilang ada yang berusaha mengganggu di jendela kamarnya tadi malam. Bisa kau lihat?"

Hana menghela hapas. Sepertinya dia memang harus mulai bekerja. Ia menutup ponselnya lalu berjalan ke arah kamar mandi.

____

Jungkook dan Jimin ada di ruang tengah, mereka asik menonton acara reality show yang ada pagi ini. Jimin duduk tepat di samping Jungkook, ia merebahkan kepala di bahu Jungkook yang lebar itu.

"Kookie, kau lapar?" Jimin bertanya.

Jungkook menggerakan kepala untuk mencari posisi yang nyaman. "Iya, aku lapar," desahnya pelan.

"Aku akan pesan makanan." Jimin mengambil gawai yang ada di atas meja. Tangan mungilnya lihai mengusap benda pipih itu.

Jungkook merebahkan badannya ke sofa, rasa malas di pagi ini membuatnya tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Mendadak si kelinci lucu itu menarik lengan Jimin. Jimin langsung menoleh melihat ke arahnya. "Hyung, aku tidak jadi makan," kata Jungkook.

"Wae?" tanya Jimin.

"Aku ... Diet."

Jimin terdiam, dia memandang wajah Jungkook heran. "Ya! Untuk apa kau diet? Badanmu sudah bagus, jangan menyiksa diri seperti itu."

"Kau saja sudah kurus tetap diet, kenapa aku tidak boleh?"

"Ya! Aku ini mudah sekali gemuk, jadi wajar saja aku harus diet setiap saat."

"Aku juga. Berat badan ku naik."

"Oh, benarkah?Hm?" Jimin naik ke sofa dan mulai menggelitik pinggang langsing Jungkook.

Jungkook terkekeh, dia berusaha menyingkirkan tangan mungil Jimin, tapii badannya terkunci. Jimin menaiki tubuhnya dan tidak memperbolehkan dia bangkit. "Sini biar ku hancurkan semua lemak mu," kata Jimin makin menggelitik perut Jungkook.

"Hyung, geli. Sudah, hyung. Hentikan!"

"Tidak, tidak akan ku hentikan."

"Hyung!!"

.

Telulitt. Greekk.

Mendadak Hana masuk, matanya seketika melebar ke arah Jungkook dan Jimin. Kedua pria itu terdiam saat melihat kedatangan Hana.

"Kalian ...."

Jungkook tersentak, dia langsung mendorong Jimin lalu duduk di sampingnya, Jimin memandangnya heran, "Hehehe, ini bukan seperti yang kau pikirkan," kata Jungkook kikuk.

Jimin langsung terkesiap, dia ikut membenarkan posisinya. "Haha, ada apa nona datang ke sini?" kata Jimin mencoba mengalihkan pikiran Hana.

"Aku ingin memeriksa kamar Namjoon, dia bilang ada yang mengganggu tadi malam."

"Oh, mari ku antar." Jimin bangun dari sofa.

"Tidak perlu, kalian lanjutkan saja." Hana pergi meninggalkan mereka berdua, Jimin dan Jungkook hanya diam terpaku melihat gadis itu pergi.

"Dia pergi?" Tanya Jungkook.

"Yah, aku rasa begitu." Jimin kembali duduk.

Aaah... Jungkook dan Jimin menghela napas lega. Jimin kembali menyenderkan kepalanya di bahu Jungkook.

"Menurutmu, apa yang gadis itu pikirkan?" Jimin bertanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Menurutmu, apa yang gadis itu pikirkan?" Jimin bertanya.

"Entahlah, aku harap bukan yang aneh," Jawab Jungkook.

______

Hana membuka satu - persatu pintu. Di lihatnya isi dan penghuni kamar itu. Dia tidak peduli jika itu akan mengganggu orang. Yang jadi tujuannya hanya menemukan kejanggalan yang ada di rumah. Dan jika dia kena marah karena hal ini. Toh dia tetap akan melakukannya. Karena ini pekerjaannya.

Sudah 3 kamar dia lewati, dan semua isinya kosong tidak berpenghuni. Kecurigaan juga tidak terlihat dari ke tiga kamar itu. Hana memilih lanjut ke kamar berikutnya. Kamar yang sempat dia lewati karena lebih tertarik dengan kamar dengan pintu hitam yang isinya kosong.

Hana memutar katup pintu. Dan langsung masuk begitu saja. Ada sebuah ranjang kosong di dalam, dan rak buku di samping. Hana menghela napas, ternyata kamar ini tidak jauh beda dengan yang lain. Dia kembali menutup pintu.

Namun, sesuatu menarik perhatian Hana. Ada suara seperti hapas berat dari dalam kamar. Hana kembali masuk. Matanya memicing ke arah belakang rak buku. Dia mendekat, kecurigaan makin membesar saat baru menyadari ada satu ranjang lagi di balik rak buku itu. Dan saat Hana makin memperpendek jarak, netranya seketika melebar. Mulunya menganga. Ini sungguh pemandangan aneh bagi Hana.

Dia buru - buru pergi meninggalkan kamar itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Dia buru - buru pergi meninggalkan kamar itu. Suara pintu terdengar keras. Hana tidak sengaja menutupnya begitu kuat. Dia langsung pergi keluar dan kembali melewati Jungkook dan Jimin.

"Hana-ssi, apa sudah kau temukan kamarnya?" Tanya Jungkook.

Hana berhenti, dia memutar badannya sedikit menatap tajam ke arah Jungkook. "Aku akan kembali lagi nanti," Jawab Hana kembali melangkahkan kakinya. "Harusnya aku tau kenapa mereka menolak ku tinggal di sini," gumam Hana yang terdengar jelas di telinga Jungkook.

"Apa yang terjadi? Tunggu ... Apa dia pikir??!"

___________

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 30, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Little Bodyguards Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang