Temu

19 2 0
                                    

”Aku tunggu di meja kedua, tepat di depan mawar berwarna jingga”
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sore ini tak seperti biasanya, perpustakaan begitu sepi. “Mungkin karena tadi hujan” batinku. Lagipula, aku tak pernah menghiraukan siapapun disini.
Seperti biasa, aku hanya berkutik dengan laptop, membuka satu file sambil mendengarkan musik dari Coldplay, Secondhand, ataupun instrumental klasik agar lebih rileks. Ya, tugas akhir ini memang membuatku berpikir lebih keras dari biasanya, dan bagiku mendengarkan musik adalah salah satu cara agar aku tetap memiliki mood yang baik ketika sedang mengerjakan sesuatu.

Aku menyukai suasana perpustakaan, disamping lebih kondusif untuk mengerjakan sesuatu, ada satu sudut yang menjadi favoritku, tepat di samping jendela yang menghadap ke danau. Disini aku dapat menikmati keindahan danau yang membentang.
Damai, itulah yang aku rasakan ketika berada disini. Belum lagi jika sore tiba, berkas cahaya berwarna jingga memancar dan memantulkan cahaya dari permukaan danau yang membuat suasana ini semakin nyaman untukku.

Terbesit di pikiranku, ketika 2 bulan lalu aku melihat seorang perempuan yang duduk sendiri di sudut perpustakaan, di samping jendela di sisi lain.
Dia sedang membaca buku dengan cover berwarna biru, “sepertinya sebuah novel” batinku. Entah kenapa aku seperti pernah melihatnya, “tapi dimana?, ah mungkin hanya perasaanku saja”. Sesekali aku sempat mencuri pandangan kepada perempuan itu. Paras cantiknya tergambar jelas lewat cahaya yang masuk melalui celah jendela. “Sial sepertinya dia tahu kalau aku memperhatikannya” dia menoleh ke arahku dan aku memalingkan wajahku sambil berpura-pura mengerjakan sesuatu di laptopku. Tak berselang lama, perempuan itu meninggalkan mejanya sambil membawa tas. Ada satu hal yang aku ingat sampai saat ini, ketika dia sempat melemparkan senyum kepadaku, dan aku membalas senyuman itu. Senyuman yang begitu manis.

Aku terlalu asik dengan tugas akhirku sampai tak menyadari sebentar lagi perpustakaan akan tutup, karena sudah menunjukkan pukul 20.40. Ketika aku bersiap untuk berkemas pulang ke indekos, terlihat satu notifikasi muncul di layar ponselku dari seorang bernama Nada. 

“Ta, aku lagi di kampus, kamu masih ngerjain tugas akhirmu?”

“Eh iya Nad, ini baru aja selesai, udah mau pulang, kenapa?”

“Mmm, gapapa, aku lagi ada di sekitaran perpustakaan, tadi aku mampir ke lab buat ambil berkas yang ketinggalan, terus mampir kesini, sekalian pengen ketemu kamu sebentar kalau lagi ada di perpustakaan”

“Oke baiklah, tunggu aku ya sebentar, kamu dimana sekarang?”

“Aku di taman perpustakaan, aku tunggu di meja kedua, tepat di depan mawar berwarna jingga”

Ini adalah awal pertemuanku dengan Nada secara langsung setelah kita saling mengenal melalui pesan singkat. Perasaan canggung dan grogi bercampur menjadi satu. Seorang perempuan bernama Nada, yang pernah aku lihat di sudut perpustakaan 2 bulan lalu, kini hanya berjarak beberapa langkah saja di depanku. Dia duduk sendiri menungguku, sambil mendengarkan musik dengan headphone nya.

Perbincangan kita malam ini, untuk pertama kalinya secara langsung.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jingga di Ujung SenjaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang