Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Chapter 1 | Samuel Leicester

33 4 3
                                        

"Diana! Diana! Sadarlah" samar-samar seseorang memanggil nama ku. Kesadaran ku mulai membaik. Aku mulai bisa melihat bahwa orang yang memanggil nama ku adalah mom.

"Syukurlah kau sudah sadar, sayangku," ucap mom dengan wajah bersyukur segera memeluk diriku yang masih terbaring lemas di atas ranjang.

"Di mana aku, mom?" tanya ku dengan suara yang agak serak.

"Kamu ada di rumah sakit. Seseorang membawa mu kesini lalu menelpon mom menggunakan Handphone mu. Mom sangat khawatir pada mu," balas mom seraya melepas pelukannya.

Seketika itu aku ingat diriku sebelumnya berada di taman dan dada ku sakit. Aku langsung refleks memegang dada kiri ku.

"Masih sakit, ya? Dokter bilang kau tidak apa-apa. Mungkin kau hanya kelelahan, Ana," jawab mom saat melihat ku memegang dada kiri ku.
"Bagaimana mom tau jantung ku tadi sakit?" tanya ku mengernyitkan dahi.

"Ou, pria yang membawa mu kesini tadi bilang dia melihatmu memegang dada mu sambil memasang wajah menahan sakit," kata mom meletakkan telapak tangannya diatas dahi ku.

"Dimana pria itu, mom?" tanya ku pada mom.

Aku merasa telah di selamatkan oleh pria itu. Jadi, ku pikir aku bisa berterima kasih padanya.

Sebelum mom menjawab pertanyaan ku, ku lihat pintu yang berada di sebelah kanan ku terbuka. Ku lihat dokter masuk kedalam dan diikuti seorang pria.

"Apa? Di-dia kan Samuel!" jerit ku dalam hati karena takut di dengar oleh nya.

Samuel adalah teman-sebenarnya bukan teman. Kami hanya satu sekolah dan ku rasa dia juga tidak mengenalku. Tau kenapa? Itu karena ku dengar dari teman ku, kalau dia tidak pernah keluar kelas nya saat istirahat kecuali ke WC. Dia hanya duduk di kelasnya sambil mendengarkan lagu melalui earphonenya.

"Hai Diana, kau sudah baikan?" tanya dokter.

"Ya dok. Aku sudah agak baikan," jawab ku seraya menampilkan senyum terbaik ku.

"Syukurlah. Ou iya, Mrs. Moore bisa ikut saya sebentar? Saya ingin bicara dengan anda, " tanya dokter tersebut ke mom.

"Iya dok. Nak, bisa kau temani putriku sebentar?" tanya ibu ke Samuel setelah menjawab permintaan dokter.

Samuel hanya membalas mom dengan anggukan serta senyum tipisnya. "Dingin sekali dirinya, " pikirku.

"Mom tinggal sebentar, ya" ucap mom meninggalkan ku bersama Samuel. Sebenarnya, dalam hati ingin sekali supaya mom tidak pergi.

Suasana didalam ruangan sangat berbeda. Apa karena ada Samuel di sini? Dia bahkan tidak melirik sedikitpun kearah ku. Sekarang dia sedang memainkan handphonenya dan ku rasa ia juga sedang mendengarkan lagu menggunakan earphonenya.

Sungguh membosankan.

Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Lagipula Samuel juga sepertinya tidak peduli dan aku juga sudah sembuh. Aku mulai beranjak dari ranjangku. Sampai kurasa ada yang menahan tangan ku. Sontak diriku menoleh ke belakang dan melihat Samuel sedang menatap ku sambil berkata, "mau kemana kau?"

"Jalan-jalan sebentar," jawab ku dingin.

Samuel lalu segera menarik tubuh ku kembali berbaring ke kasur. Aku yang terkejut berusaha sedikit melawan. Tapi ya, dirinya tentu lebih kuat dari ku dan akhirnya diri ku pasrah.

Aku memalingkan wajah ku ke kanan berlawanan dengan Samuel yang duduk di sofa sebelah kiri ku.

"Kau marah," diri ku kaget mendengar Samuel mulai berbicara pada ku.

"Tidak, " jawab ku dingin tanoa menoleh ke dirinya.

Lalu suasana kembali tenang dan Samuel tidak lagi bersuara. Begitu juga diri ku.

Tak berselang lama, mom kembali ke ruangan dengan wajah yg bahagia. Dia tersenyum kepada ku dan berkata, "kau sudah boleh pulang, putri ku," mendengar hal itu membuat ku bahagia.

"Benarkah? Yes! " jawab ku bersemangat.

"Tapi kau tetap harus jaga kesehatan, itu pesan dokter," sambung mom.

"Iya, mom," balas ku tersenyum menatapnya.

"Ou iya, nak, makasih ya sudah menjaga putri ku dan juga sudah membawanya ke sini. Ada yang bisa kami lakukan untuk membalas? " ucap mom sambil berjalan menuju Samuel.

"Iya tante. Tante tidak perlu membalas kok. Asalkan Diana sehat, itu juga sudah membuat ku senang," jawab Samuel sambil melihat kearah ku dan ia berhasil membuat jantung ku berdetak kencang. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan ini pertama kali melihat Samuel senyum selebar itu.

"Oh, kau sudah mengenal putri ku?" tanya mom yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah ku.

"Iya, kami satu kampus, mom, " balas ku seraya memutar bola mata ku.

"Ou, kalau boleh tau siapa nama mu, nak?" mom bertanya ke Samuel sambil menunjukkan ekspresi terkejut atau kagum, entahlah.

"Samuel, Samuel Leicester, " jawab Samuel.

.
.
.
.
.
-To Be Continued-
.
.
Hai readers, di atas tadi chapter satu dari cerita ini.... Ga jelas banget deh kayak nya 😅. Tapi semoga readers suka ya.. Jangan lupa kasih vote+comment juga kritik dan saran yang membangun.
Sekian terimakasih.

Rigel : Beta OrionisCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang