7

565 73 26
                                    

Happy reading

"Hyunjin" panggil Hyuna, Hyunjin menghentikan langkahnya menunggu sang sahabat yang berlari kecil menghampirinya.

"Tumben sendiri, mana pengikut Lu?" Tanya Hyuna, Hyunjin mendengus dan kembali berjalan.

"Kenapa ga bilang?" Tanya Hyunjin, Hyuna menatap Hyunjin bingung, apakah ada sesuatu yang harus diberitahukan pada Hyunjin.

"Soal Lu sakit" lanjutnya, Hyuna mengangguk mengerti, pantas Hyunjin lebih kalem hari ini.

"Cuma kecapean kali, lebay banget Lu"

Hyunjin menghela nafas kasar, Hyuna benar benar menyebalkan, tentu salahnya juga, seharusnya Dia tak mengkhawatirkan Hyuna, karena sudah tau jika gadis itu akan bersikap santai seperti ini.

"Mau beli apa?" Tanya Hyunjin begitu mereka sampai di kantin, Hyuna mengedarkan pandangannya dan tertuju pada tukang bakso.

"Itu" tunjuk Hyuna dan berjalan mendahului Hyunjin.

"Bang bakso dua mangkok, jangan pake sasa sama cuka ya"

Setelah mendapatkan baksonya, Hyunjin dan Hyuna berjalan ke salah satu meja yang ada di kantin.

"Sumpah ini enak banget, rasanya kaya mau meninggal" ujar Hyuna ala ala sebgram yang tengah mendapatkan endors di instastory nya.

Hyunjin tertawa pelan sambil memakan baksonya, namun sedetik setelahnya pandangannya kosong, Dia melamun, memikirkan banyak hal sambil menatap Hyuna yang tengah makan.

Andai Ayahnya tidak menjodohkannya dengan Ryujin, Hyunjin pasti sudah menyatakan perasaannya pada Hyuna.

Andai Hyuna tak menahannya untuk tidak melawan Ayahnya, mungkin Dia masih seperti dulu.

Pemuda urakan, perokok dan pemabuk, jangan lupakan balapan liar dan sempat terjerumus obat obatan terlarang.

Bagaimana hidupnya jika tak ada Hyuna, Dia bahkan tak bisa membayangkannya, sahabat sejak kecilnya yang selalu mengeluh soal asap rokok.

Seseorang yang berani memukul belakang kepalanya ketika Dia berbuat salah, namun di saat bersamaan memberikannya pelukan serta tepukan di punggung ketika Dia merasa sedih.

Hyuna adalah segalanya bagi Hyunjin.

Andai keadaan tak serumit ini, mereka pasti akan bahagia, setidaknya itulah pekikiran Hyunjin.

Namun berbeda dengan Hyuna, Dia tak percaya akan cinta, Dia tau segalanya, soal Hyunjin yang menganggapnya lebih dari sahabat, namun kembali lagi ke sebuah fakta jika Dia tak percaya dengan cinta.

Buktinya orang tuanya adalah kegagalan dari sesuatu yang bernama cinta, dalam fikiran Hyuna, Cinta hanya menyusahkan.

Itu hanyalah sebuah ego yang ingin menjadikan seseorang selalu di dekatnya, Hyuna benci itu, benci ketika orang orang mengatakan cinta itu indah namun sebaliknya, semua bukti yang Dia lihat cinta hanya menyakitkan.

Untuk apa ada cinta jika Dia memiliki Hyunjin di kehidupannya.

"Na Lu ga ada niatan cari pacar?" Tanya Hyunjin tiba tiba, Hyuna bahkan hampir tersedak mendengarnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 26, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

HyunjinKu | Hwang HyunjinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang