19

23 8 0
                                        

AUTHOR POV
Pagi Hari di Jepang.

Than sedang dalam perjalanan ke Bandara. Dia memegang snow globe untuk Hani. Senyumnya tak kunjung hilang dari bibirnya. Yuta yang duduk disamping hanya tersenyum.

"Is that for Hani?" Tanya Yuta.
"Of course, she will be angry if I don't bring a present." Ujar Than sambil tersenyum.
"She would really like it. I am sure" Ucap Yuta sambil menepuk bahu Than.

Sesampai di bandara Than memeluk Yuta.

"Yuta, Thank you. You really helped me here, you're a good friend, hopefully we can meet again." ucap Than.
"Haha, no problem. We will meet again, invite Hani to meet me. Be careful. I'm glad to have you as my friend" ujar Yuta.

Setelah itu Than bergegas pergi, dan Yuta langsung kembali ke asrama untuk berkemas dalam rangka libur musim panas.


HANI POV
Mall. 10.00 pagi

Jadi gw bolos hari ini. Gw pake hoodie dan rok sekolah. Hari ini sengaja naik taksi, lagi males naik motor. Gw beli hadiah buat kak Stevi, Stevan, Than, Lala. Gw tau kak Stevi suka banget lampu tidur unik gitu, yang kaya proyektor gitu lucu deh. Lala suka banget sama candle beraroma lavender. Gw beliin buat dia yang mahal hehe, yang ada di toples kaca gitu, biar aesthetic. Buat Than gw beliin dia snow globe, dia sama gw suka banget sama Snow globe jadi gue beliin buat dia. Buat kak Stevan gw beliin bunga imitasi mawar, sama gw beliin dia Jaket. Jaketnya kak Stevan tuh lumayan tipis jadi dia bakal kedinginan, Makanya gw beliin jaket. Hadiahnya udah. Tinggal beli kotak-kotak kado buat hadiah-hadiah ini. Gw belum sarapan sih jadi, gw ke caffe bentar buat makan. Pesenan gw udah dateng, baru makan dikit kok gw kek liat seseorang yang mirip banget sama tante Anya ya. Eh beneran tante Anya, dan dia hamil. Pasti papa seneng banget. Mama gimana ya? Hani minta maaf banget sama Mama. Maafin banget Hani bakal ingkar janji.

"Hani, lu disini?" suara cowok, bareng sama tetes air mata gw yang turun.
"Lu kenapa?" tanyanya khawatir sambil megang pipi gw.
"Kak Stevan, ngapain disini?" tanyaku sambil senyum.
"Ikut gw!" ucapnya sambil ngambil semua belanjaanku dan menarikku keluar caffe tadi, tenang udah gw bayar tadi kok pas pesen.
"Kak siniin Hani bawa sendiri aja" ujarku.
"Berat, diem. Ngapain bolos?" tanya kak Stevan.
"Kakak juga bolos kan?" tanyaku halus.
"Kakak tadi habis jadi perwakilan sekolah buat rapat siswa" ucapnya.
"Oh, Kak mau kemana?" Tanyaku.
"Ikut aja" ucapnya.

Jadi dia langsung ngajak gw masuk ke mobil. Dia jalanin mobilnya dan gw gak tau mau kemana, yaudah lah gw diem aja. Gw cuman senyum setiap kali dia noleh. Karena lama jadi gw ketiduran.

"Hani, bangun!" Ucap kak Stevan.
"Eum?" gumamku.
"Ayo turun, udah sampe." ucap kak Stevan.

Gw langsung turun dari mobil dan kita ada di danau yang banyak taman bunganya. disini bener-bener sepi banget. Kak Stevan ngajak gw duduk di bangku taman yang di depannya udah ada danaunya.

"Teriak sekarang!" ucap kak Stevan.
"Teriak apa?" tanyaku.
"Teriakin semua masalah lu sampai lega" kak Stevan, dia gak paham masalah gw.
"Hehe enggak, kakak aja" ucapku.
"Oke, GW SAYANG HANI! TAPI DIA GAK SAYANG GW! GW HARUS GIMANA BIAR DISAYANG HANI! GW FRUSTASI DIA GAK MAU NGOMNG SAMA GW BEBERAPA HARI!" teriak kak Stevan.
"Kak?" lirihku.
"GUE SALAH APA SAMA DIA! DIA GAK BISA SAYANG SAMA GW! GW TULUS SAMA DIA! DIA MARAHAN SAMA STEVI, TAPI APA SALAH GW! GW CINTA DIA!" teriak kak Stevan.
"Kak, mendung. Ayo pulang" lirihku yang udah nahan tangis.
"Oke" lirih kak Stevan.

Sampai mobil hening, mobil berjalan normal. Diiringi Hujan deras, mobil yang tampak hening. Tak ada pembicaraan apapun. Sampe depan rumah kak Lala, rumahnya masih gelap. Mungkin kak Lala belum pulang dari boutik.

"Kak, hani mau ngomong" lirihku sambil senyum.
"eum? Ngomong aja" kak Stevan.
" Makasih udah sayang sama Hani. Hani juga sayang sama kak Stevan. Hani juga cinta sama kak Stevan. Makasih udah jagain Hani selama ini, kak?" Ucapku sambil memegang tangan kak Stevan. Gw berharap banget dia gak benci gue setelah ini.
"Lo mau jadi pacar gw?" tanya kak Stevan serius.
"Ini buat kakak." ucapku memberikan bunga tadi.
"Lo mau jadi pacar gw?" Tanyanya.
"Enggak, Kakak bisa dapet yang lebih dari Hani." ucapku senyum tapi air mata gw ngalir.


AUTHOR POV

Suasana hening, tangan Hani masih megang tangan Stevan. Dan bunga tadi masih dia pegang. Senyumnya tak luntur, air matanya tak berhenti mengalir. Ada apa dengan dia hari ini?

"Hani! Gw beneran sayang sama lu" ucap kak Stevan.
"Hani tau kok kak" ucap Hani sambil meluk Stevan, Bunga tadi dia taruh di tangan Stevan yang gak ngebales pelukannya.
"Makasih banyak, Hani sayang sama kakak" ucap Hani sambil nglepas pelukannya. Dia buka pintu mobil, dan bawa semu barang dia. Sebelum turun, dia noleh ke Stevan yang masih diem.
"Kakak buruan pulang" ucap Hani setelah mencium pipi Stevan.
"Bye!" ucap Hani sambil lari ke rumah.

Sampai rumah, Hani langsung memisahkan hadiah tadi ke kotak-kotak hadiah. Setiap kotak punya secarik kertas dan hadiah masing-masing. Setelah itu Hani mandi dan mengganti bajunya dengan dress Hitam favoritnya. Dia keluar rumah, naik taksi ke rumah papanya.


TOK TOK TOK

Pintu Hani ketuk. Lalu Tante Anya keluar dengan papanya. Mereka nampaknya akan menjadi keluarga yang bahagia. Mereka bingung mengapa Hani ada disini malam-malam, lebih bingung dengan Dress Hani. Lengan panjang transparan, dengan panjang Dress selutut, dimalam dingin ini dengan hujan yang deras. dengan tas slempang hitam.

"Kenapa kamu kesini malam-malam?" tanya papanya.
"Maaf Tuan. Saya cuman mampir sebentar, gak akan lama." ucap Hani sambil senyum.
"Saya berterima kasih sudah menyekolahkan saya dari TK-SMP, udah memberikan saya kekayaan yang sudah saya rasakan selama itu, terima kasih sudah menikah dan menjaga ibu saya. Dan terimakasih tidak pernah mengatakan dimana ibu saya." ucap Hani sambil senyum.
"Apa kamu mau kembali kerumah karena tak punya uang?" tanya tante Anya.
"Tidak, saya hanya ingin mengatakan itu dan selamat atas kehamilan anda" lirih Hani. Tante Anya mundur beberapa langkah setelah menatap sorot tajam mata Hani.
"Kenapa kamu itu?" sinis papa nya, Hani menggeleng. Dia berjalan mendekat, dan memeluk papanya.
"Terimakasih" lirih Hani, lalu melepas pelukannya dan dia pergi. Mungkin dia berniat agar ayahnya menyesal.
"Tempat terakhir" lirih Hani sambil tersenyum.




















WHEN I HAPPY?

Vote And Coment

When I happy? (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang