18. TIGA HARI

59 8 0
                                        

Jarum jam menunjukan angka pukul 22:30. Di warung kopi pinggir jalan Ceger Raya, sebuah warung sederhana dengan tenda terpal dan bangku kayu panjang, Nadia dan Toni baru saja tiba. Aroma kopi robusta dan gorengan hangat menyelimuti udara malam.

"Kopi item sama teh tarik, kan?" sapa pemilik warung kopi yang sudah tidak muda lagi, tangannya cekatan mengurus pesanan.

"Udah hafal dia sama kita," ucap Toni terkekeh.

"Siapa yang bisa lupain Neng Geulis ini sih, Kang," sahut pemilik warkop, matanya mengerling menggoda Nadia.

"Ingat umur, Beh," ucap Nadia, membalas godaan itu dengan senyum kecil.

"Umur boleh tua, tapi tenaga bisa diadu sama yang muda, Neng," goda pemilik warkop lagi, menuangkan air panas ke gelas kopi Toni.

"Ingat bini di rumah, Beh," ujar Toni, nadanya sedikit lebih keras dari candaan.

Mereka duduk, membiarkan keheningan malam menyelimuti sejenak.

"Lo yakin dia bakal lewat sini?" tanya Nadia, memecah keheningan, matanya terus menyapu jalanan yang mulai sepi.

"Info yang gue dapat dia selalu ganti rute setiap hari, dan kita sudah seminggu di sini nungguin dia," jawab Toni sambil menyesap kopinya.

"Gue yakin dia pasti lewat malam ini," lanjut Toni.

Nadia menggenggam cangkir teh tariknya, membiarkan panasnya merembes ke telapak tangan. "Semoga dia lewat."

"Eh... Bukannya bulan depan ada event PRJ? Lo nggak ikut?" tanya Toni, mengalihkan pembicaraan.

"Gue ikut PRJ?" Nadia tertawa kecil. "Jualan gue sudah banyak. Kalau gua masih ikut event, kasihan sales lain nggak pada jualan."

"Sombong banget," sungut Toni,

"Bukannya sombong, tapi Om-om kalau udah gue rayu, pasti mau beli mobil," canda Nadia.

"Beli mobil buat lo?" tanya Toni.

"Ya nggak lah... Jadi simpanan Om-om dong gue," Nadia mencibir.

"Ya kali gitu, lo kan cantik, semok juga. Om-om mana yang bisa nolak lo," goda Toni.

"Gue-nya nggak mau, wleee," balas Nadia, menjulurkan lidah.

"Karena Rizal?" tanya Toni.

"Bisa jadi," jawab Nadia singkat, menatap aspal jalan raya.

"Gue ngelakuin ini karena Rizal itu teman kecil gue. Orang tuanya sudah maafin dia, dan mereka mau Rizal balik." jelas Nadia melihat perubahan ekspresi Toni. "Mereka khawatir. Makanya gue mati-matian nyari dia buat ngasih tau kalau dia sudah boleh pulang. Itu aja."

"Oh... Kirain," sahut Toni singkat.

"Kirain apa? Gue suka sama Rizal? Ya nggak lah, gila!" kilah Nadia, tertawa keras.

Toni melepaskan napas panjang yang sedari tadi tertahan. Bahunya turun perlahan lalu kembali menyesap kopinya.

Suara mesin matic membelah kesunyian Ceger. Lampu depannya redup menyorot aspal, menampilkan siluet pria berhoodie hitam dengan gambar tengkorak menyeringai di punggungnya. Nadia menahan napas saat ia mengenali bekas sayatan di bawah mata kanan pria itu yang tertimpa cahaya lampu merkuri.

Toni segera menghampiri sepeda motornya. Setelah Nadia membayar tagihan mereka dengan terburu-buru, Nadia bergegas naik ke sepeda motor Toni.

Mereka menjaga jarak. Beberapa kali mereka menepi di balik pohon ketika Rizal berhenti, menyerahkan nasi kotak dari dasbor motornya kepada gelandangan dan pemulung di pinggir jalan.

SATU TITIK #1.2 [SEGERA TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang