31. SATU RAHASIA

51 5 3
                                        

Cahaya pagi menyeruak dari celah gorden. Kepalanya terasa seperti dipukul palu godam-denyut nyeri yang ritmis mengikuti detak jantungnya. Saat ia mencoba bangkit, rasa mual menghantam ulu hatinya, memaksa Gilang kembali jatuh ke bantal.

Tangannya meraba ke bawah selimut, mencari helai kain yang seharusnya melekat di tubuhnya, namun ia hanya menemukan kulitnya yang polos bersentuhan langsung dengan sprei satin yang dingin.

Gilang mencengkeram tepi kasur hingga buku jarinya memutih, mencoba memanggil kembali potongan ingatan semalam: lampu strobo yang berputar liar, dentum bass yang merusak pendengaran, dan tawa Aurell yang terasa terlalu dekat di lehernya.

Di sebelahnya, tertidur seorang wanita cantik. Wanita itu masih terpejam dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.

"Bangun," suara Gilang serak. "Bangun. Kenapa kita ada disini?"

"Pagi... Kan lo yang ngajak gue ke sini." Aurell bergeser pelan, seperti seseorang yang memang sudah setengah sadar sejak tadi. Matanya terbuka perlahan, tanpa kaget.

"Gue?! Ngajak lo?!" tanya Gilang, tidak percaya. Ia tahu ia mabuk, tetapi ia tidak pernah sefrontal itu.

Aurell membangunkan tubuhnya dan merapikan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia memamerkan sedikit kulitnya yang mulus, tahu betul efeknya pada Gilang.

"Lo lupa?"

"Jawab."

"Lo mabuk. Lo ngajak gue ke sini. Lo bilang capek pura-pura kuat," katanya datar. "Sisanya... ya itu."

"Itu omong kosong," sahut Gilang. Ia sudah berdiri, mencari celana dan jaketnya. "Gue nggak pernah-"

"Pernah," potong Aurell. "Dan lo kelihatan yakin waktu itu."

Gilang menatap Aurell. "Apa yang lo masukin ke minuman gue?"

Aurell mengambil ponselnya dari meja kecil, memainkannya sebentar, lalu menoleh.

"Kenapa?" tanyanya ringan. "Takut?"

"Aurell," suara Gilang mengeras. "Kalau lo ngebius polisi-"

Aurell menekan layar ponselnya, lalu melemparkannya ke arah Gilang. Ponsel itu mendarat dengan bunyi thud empuk di atas selimut yang berantakan.

Layar ponsel itu menampilkan sudut miring dari atas nakas. Sprei putih yang tersingkap berguncang mengikuti derit ritmis ranjang.

Mata Gilang melebar saat melihat dirinya sendiri dengan mulut terbuka dan napas pendek-pendek. Sepasang mata di layar itu berputar liar. Sepasang kaki jenjang mengunci pinggangnya, tumitnya menekan punggung Gilang. Suara tawa serak dan erangan rendah keluar dari bibir Gilang.

Gilang menekan tombol power. Layar ponsel mendadak hitam. Tangannya gemetar.

"Berapa?" tanya Gilang pelan. "Berapa video yang lo punya?"

"Cuma satu," jawab Aurell. "Yang itu aja cukup."

Tatapan Gilang terpaku pada ponsel di depannya, lalu beralih ke sudut-sudut kamar yang masih remang. Jemarinya mencengkeram sprei sampai kain itu tertarik kencang. Rahangnya mengeras..

"Lo tau ini bisa bikin hidup lo hancur juga," ucap Gilang. "Narkoba, geng motor, pemerasan-"

"Tenang aja, videonya aman selama lo jaga rahasia gue," Aurell beringsut, menurunkan kaki ke lantai yang dingin. Ia berdiri, membiarkan kain satin jatuh menutupi punggungnya. "Kalau lo berani perintah gue lagi, Aura bakal ngelihat video itu. Gue jamin, karier dan hubungan lo hancur dalam semalam."

Aurell menatap Gilang tanpa berkedip. Gilang hanya terdiam, matanya terpaku pada layar hitam ponsel itu. Tangannya yang masih bergetar kini mengepal di atas kasur yang kusut.

SATU TITIK #1.2 [SEGERA TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang