Chapter 1

64 2 0
                                        

Author POV

Untuk melupakan, tak hanya kata-kata belaka, tapi juga sebuah tekad yang kuat. Karena seseorang pernah berkata, bahwa batu yang paling kuat adalah tekad  yang kuat. Begitu pula yang sedang  Qila coba kini. Siapakah yang akan menggantikan Ari kalau begitu?

Entahlah, mungkin akan ada keajaiban yang menimpa kehidupan Qila nantinya.

Sementara itu, tepat pada tanggal 20 Agustus ini putri Caca dan Arvan telah berusia 3 tahun. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk mengadakan perayaan ulang tahun pada pagi hari ini di cafe Ananta.

Nara, anak sulung dari pernikahan Arvan dengan Caca itu memakai gaun warna putih yang dipakai dalam sebuah acara perayaan ulang tahun pada umumnya. Namun, yang membuatnya terlihat spesial adalah kecantikan alami yang dimiliki oleh Nara. Tentu saja kecantikan Nara menurun dari ibunya, Caca. Karena Arvan memang kelihatan biasa saja.

"Tiup lilinnya... tiup lilinnya... tiup lilinya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga!"

Semua tamu undangan yang hadir ikut melantunkan syair lagu ulang tahun dan lain semacamnya yang dilakukan saat pesta ulang tahun.

Hingga tibalah saatnya pemotongan kue. Potongan pertama Nara berikan kepada sang ibu yang selalu merawatnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Sedangkan potongan ke dua ia berikan kepada sang ayah yang selalu membuatnya tertawa.

"Permisi," seru seseorang yang membelah kerumunan.

"Iya nih, orang ganteng mau lewat!" Timpal seseorang yang lain.

Kegaduhan yang dibuat oleh keduanya membuat Arvan, Caca, dan Nara sontak menoleh ke sumber suara. Ternyata kegaduhan itu berasal dari dua sejoli yang memang tak terpisahkan. Ya, setelah kedua temannya hilang. Yap! Siapa lagi kalau bukan Jonet dan Arnold.

"HAPPY BIRTHDAY NARA!!!" Pekik keduanya, secara bersamaan.

"Astaga! Kalian berdua tuh, berisiknya minta ditampol!" Kata Arvan, setelahnya menyuapkan sepotong kue coklat ke dalam mulutnya.

Jonet dan Arnold hanya bisa nyengir kuda. Arnold tidak datang sendiri dia membawa serta kedua anaknya yaitu, Alia dan Dara. Sedangkan Jonet, dia memang datang sendirian kali ini. Karena pernikahannya dengan Anne belum menghasilkan keturunan.

"Happy Birthday Nala! Ini Alia punya kado buat Nala." Kata Alia, dengan gaya bicara yang belum terlalu lancar karena dia baru berusia tiga tahunan.

"Iya Nara, ini Dara bawain kado juga." Kata Dara, sambil menyerahkan kotak kado yang bermotif bunga-bunga kepada Nara.

"Wah! Masih ya Alia dan Dara. Entar kalo pesta udah selesai kita main yuk?!" Ajak Nara, bersemangat.

Setelah anak-anak saling menyapa, kini gantian para orang tua yang saling bertukar kalimat. Beruntung Jonet dan Arnold tidak mengajak serta istri-istrinya, kalau mereka tadi mengajak mungkin saja Caca akan ikut mengobrol.

"Hei Ka Arvan! Gimana kabar gue?" Canda Jonet

"Yang lo tanya tuh siapa hah?! Kabar gue apa kabar lo sendiri?" Tanya Arvan, kebingungan.

"Tau tuh! Dasar Brother Jon." Tambah Arnold.

Jonet tertawa sendiri, dia lalu meminta Arvan untuk mengambilkan  sepotong kue coklat untuknya. Arvan mengabulkan permintaan Jonet, dia mengambilkan sepotong kue coklat lalu menyerahkannya kepada Jonet.

"Arigatou godainmas," canda Jonet, lagi.

"Apaan?! Arigatou emasemas?" Tanya Arnold, pura-pura tidak mendengar.

The Most Wanted 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang