ABSURDUMB
Selama tujuh belas tahun hidupnya, Rise hanya punya satu masalah yang entah kenapa tidak diketahui jalan keluarnya apa: dia selalu mendapat gangguan pencernaan setiap kali gugup.
Awalnya, Rise mengira itu hanya bagian dari respon biologis. Normalnya, ketika seseorang gugup dan merasa tertekan, tubuhnya akan mengirimkan sinyal untuk memilah sekiranya respon apa yang paling tepat. Setiap orang memiliki respon yang berbeda. Bisa saja berkeringat, jantung berdetak dengan irama lebih cepat dari biasanya, atau mungkin dunia serasa berputar seperti mau runtuh saja. Penjelasan yang masuk akal. Anehnya, Rise hanya mengalami respon gugup semacam itu ketika berinteraksi dengan Jevon. Itulah yang menyebabkan gangguan pencernaan tersebut menjadi suatu momok yang mengerikan. Apalagi jika Rise mengalaminya di tempat dan waktu yang tidak tepat.
Gangguan pencernaan mengerikan ini berlangsung kurang lebih satu tahun belakangan. Tidak terjadi secara konstan, memang. Tentu saja. Siapa yang tahan harus terus-terusan merasa ingin buang air besar tiap kali menghela napas? Bisa-bisa Rise mengurung dirinya sampai tua—yang berarti, dia akan menjadi seorang anti-sosial sepanjang hidupnya.
"Alarise, es krim dan saus bukan kombinasi yang bagus," celetuk Megan saat melihat Rise memindahkan saus dari wadah plastik ke dalam cup es krimnya.
"Sama buruknya seperti kombinasi antara kau dengan Nathan?" kata Rise iseng sambil menyuapkan es krim ke mulutnya, lalu meringis, yang praktis memperlihatkan deretan gigi depannya yang berwarna merah dan putih.
Megan buru-buru membuat bulatan dari tisu, kemudian melemparnya ke arah Rise. "Segera telan atau aku akan mengumpat!"
"Sumpah, Meg, kau dan Nathan adalah kombinasi paling buruk di dunia. Maaf saja, aku tidak berniat menjelekkan fisik pacarmu itu. Tapi, kau tinggi sekali seperti model Victoria's Secret, sementara Nathan hanya sebahumu." Rise tertawa kencang sekali sampai-sampai pasangan tua di sampingnya menoleh. "Aku saja terkejut. Dia seperti adikmu yang baru masuk SMP."
Rise memang orang yang jujur. Dia terlampau jujur sampai mengatakan segudang kebenaran di depan orang lain, bahkan sekali pun orang itu tidak ingin mendengar ocehannya. Ajaibnya, meskipun terkadang dia berbicara dengan nada ketus atau gilang gemilang seperti tadi, tidak ada yang bisa membencinya.
Oh, ayolah. Rise memang pantas dibenci seluruh orang di muka bumi atas segala hal yang dilakukannya, tapi tidak ada yang tahan membencinya lebih dari tiga hari karena dia tidak pernah peduli. Orang pendendam dan tokoh antagonis pun malas berurusan dengannya.
Dia tidak menarik untuk dibenci, maka Megan teramat menyayanginya.
Megan menaikkan bahunya, tanda tidak yakin. "Mungkin saja dia belum puber."
"Laki-laki mulai tumbuh kurang lebih setelah mencapai umur 10-13 tahun, Sayang. Maksudku, di era ini remaja mengalami puber lebih cepat. Kita sekarang hampir delapan belas. Suruh saja dia suntik hormon testosteron, kalau begitu."
Rise dan segudang ilmu pengetahuan tidak jelas yang dimilikinya memang selalu memikat. Tapi, tentu saja, Megan tidak akan merekomendasikan suntik hormon untuk pacarnya karena dia kelewat mencintai Nathan, entah bentuk macam apa yang dimiliki laki-laki itu. Mereka saling mengenal sejak Sekolah Dasar. Dan, memang, Nathan berwujud mini sejak dulu—karena itulah dia menggemaskan.
Megan tertegun ketika Rise mengambil karton berisi kentang goreng, memisahkan satu biji kentang berwarna keemasan, lalu mencelupkannya ke dalam es krim seperti potongan wafer sebelum memakannya.
"ALARISE! Kau ini apa-apaan?"
"Apa?" tanya Rise. "Enak, tahu."
"Tidak ada yang lebih aneh dari itu?"

KAMU SEDANG MEMBACA
17 Stories of Teenagers
Teen FictionJadi remaja umur 17 tahun itu gimana sih rasanya? ©jung