Apa sebenarnya definisi sebuah kebebasan?
Disaat jiwa masih terbelit ambisi, obsesi, dan egoisme.
Demi sebuah kebebasan, mereka setuju untuk menjalankan sebuah misi. Misi yang awalnya terlihat mudah, namun setelah peristiwa rumit yang bertubi-tubi...
Hitam dan lembab. Hal pertama yang ia lihat dan rasakan saat netra hazel-nya terbuka. Langit-langit hitam, dinding hitam, jeruji hitam, nakas hitam. Hanya rantai yang membelenggu tangan dan kakinya saja yang memberi warna berbeda. Ben menghela napas, pening masih menggerogoti kepalanya namun sial sang tangan berkhianat saat ini.
Baru beberapa jam yang lalu ia merasakan kebebasan, namun kini malah terpenjara di tempat terakhir yang ingin ia kunjungi di hidupnya. Dapat ia rasakan seseuatu yang lengket mengalir dari kepala belakangnya. Luka sayatan melintang memenuhi badan seakan berteriak-teriak mengutuk.
Namun itu semua tidak lebih nyata dari rantai besar tak kasat mata yang menjeratnya dalam lingkaran iblis tak berujung.
"Aku terkejut melihatmu ada di sini---tanpa rantai." ujarnya seraya memperhatikan untaian besi yang sambung-menyambung.
Dev bersender pada jeruji dengan tangan yang bersedekap di depan dada bidang yang dilapisi kaos pollo hitam, menatap Ben tanpa emosi, "aku tidak bertanya."
Ben terkekeh, "kau terdengar seperti Steven sekarang, Tuan India." ucap Ben seraya melemparkan rantai yang sudah ia lepas dengan mudahnya sehingga menimbulkan suara gemerincing yang menggema di sepenjuru ruangan.
"Bagaimana sekarang?"
"Apanya yang bagaimana, Dev?" tanya Ben dengan kaki berselonjor santai.
"Aku serius."
Ben terbahak keras, "memangnya sejak kapan kau tidak serius?" ia melirik wajah Dev yang datar-datar saja, mengela napas, matanya menerawang jauh, "aku ingat perjanjiannya, dan sekarang waktunya telah tiba, dia sudah memanggil, percuma saja melarikan diri dan beresiko ditangkap lagi. Mau tidak mau kita harus-"
"-melakukannya?" lanjut Dev.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan kabur lagi," ucap Ben, "terdengar lebih keren saat kita dikejar-kejar mafia sinting pedagang organ tubuh, melawan mereka dengan tak kalah sintingnya terdengar lebih keren lagi."
"Simpan impian konyol itu untuk dirimu sendiri."
Ruangan memantukan gema saat Ben terbahak keras, "kau seperti pria kurang piknik, Dev. Ayo aku tunjukan cara bersenang-senang. Aku lebih takut kau mati karna--- oh shit baiklah-baiklah jauhkan granat itu, aku belum mendapatkan klimaks hari ini." Ben terbelalak menengok benda segenggaman tangan yang di pegang manusia ledakan di hadapannya. Ia mengangkat tangan kalau yang memegangnya adalah Davies d'Raoule. Percayalah pria itu tidak akan berpikir dua kali untuk melemparkannya.
Sungguh Ben masih ingin hidup dan bersenang-senang.
"Jika lari tidak dapat membebaskan maka menghadapi adalah jalan satu-satunya."
Tarapan Ben berubah serius, "Jadi.... Dimana monster itu?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lepaskan aku!"
Seorang gadis kecil berpipi gembil menatap ngeri pria paruh baya yang sedang menjajarkan sesuatu di atas meja besi yang sudah dilapisi kain hijau lumut di atasnya. Pisau, gunting, pinset, clam, tang dan suntikan berukuran besar. Wajah keriputnya berbinar ganjil ketika tangan besarnya menyentuh dan mengelus satu-persatu benda itu. Seakan memuja.